A. PRINSIP FOKUS DAN ORGANISASI PENGAJARAN
PRINSIP FOKUS
Seorang guru mengajarkan bukti dalil Phytagoras denagn menyuruh
anak mempelajarinya dari buku. Anak-anak akan berusaha mengikuti tiap langkah
pembuktian dengan harapan akan memahaminya.
Guru lain menggambar segitiga siku-siku di papan tulis dan menulis
bujur sangkar pada tiap sisi, lalu mengatakan pada luas bujur pada sisi miring
sama dengan jumlah luas kedua bujur sangkar lainnya, lalu bertanya bagaimanakah
kiranya kita dapat membuktikannya. Pelajaran ini mempunyai fokus, suatu pusat
perhatian, suatu problema yang memusatkan perhatian, pikiran dan kegiatan anak.
Pelajaran yang diberikan oleh guru pertama tidak mempunyai fokus, murid-murid
tidak dipikat oleh suatu masalah hanya mencoba memahami, bahkan menghafal ke
arah-arah pembuktian.
Pelajaran mengandung makna dan efektif jika diorganisasi suatu
fokus.
CIRI-CIRI FOKUS YANG BAIK
Fokus yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1.
Fokus
itu membangkitkan suatu tujuan.
Kemauan itu akan bangkit kalau ada fokus pelajaran disamping
konteks yang baik. Seluk-beluk tata bahasa, ejaan, gaya bahasa akan lebih
diperhatikan anak jika mereka mengeluarkan surat kabar sendiri atau mengarang
untuk majalah atau siaran radio.
2.
Fokus
memberi kebulatan dalam pelajaran.
Psikologi menunjukan bahwa kebulatan atau unity adalah satu ciri
pelajaran yang efektif. Mengikuti suatu kalimat lebih mudah daripada sejumlah
suku kata yang tak berarti. Jadi “metode keseluruhan” lebih bermanfaat daripada
“metode bagian”. Akan tetapi ternyata sering “metode keseluruhan” tidak
memberikan hasil yang diharapkan. Apa sebabnya? Orang mempunyai pengertian yang
salah tentang keseluruhan. Keseluruhan bukanlah sejumlah bahan yang luas, yang
terdiri dari bagian-bagian yang lepas. Keseluruhan harus merupakan kesulitan,
bagian-bagiannya harus berhubungan erat, harus ada integrasi dalam keseluruhan
itu. Dan murid-murid harus melihat dan memahami kesulitan dalam keseluruhan
itu.
Kita dapat menyuruh anak menghafal bilangan 1 4 9 11 25 36 49 64
81. Anak-anak akan menghafalnya dengan susah payah. Akan tetapi jika dikatakan
bahwa angka-angka itu disusun menurut suatu prinsip dan anak-anak menemukan
prinsip itu (yaitu tersusun dari kuadrat 1, 2, 3 dan seterusnya) maka hasil
belajar jauh berbeda. Di sini diberi fokus dalam pelajaran itu. Jadi secara
praktis dapat dikatakan pelajaran berhasil jika anak-anak melihat suatu pola,
suatu struktur dalam suatu keseluruhan bahan yang dipelajarinya. Keseluruhan
yang bulat tidak ditentukan oleh luasnya, tetapi oleh strukturnya.
Kalau anak-anak disuruh mempelajari sejumlah halaman dari buku,
maka usahanya tidak terpusat. Lain halnya jika anak membaca buku-buku, brosur,
laporan dan sebagainya untuk mencari suatu keterengan tertentu, maka disini ada
fokus dan akan memberi hasil yang lebih baik.
Anak-anak dapat disuruh mempelajari tentang serangga sekedar untuk
menguasai isi buku. Tetapi bila anak-anak dihadapkan dengan suatu pertanyaan
bahwa “manusia senantiasa memerangi serangga untuk menguasai dunia ini” maka
pelajaran mendapat suatu fokus yang memberi kebulatan kepada usaha anak.
3.
Fokus
mengorganisasi pelajaran sebagai proses penyelidikan dan penemuan (exploration
and discovery)
Fokus yang baik menonjolkan suatu pertanyaan yang harus dijawab,
suatu masalah yang harus dipecahkan, suatu prinsip yang harus dipahami atau
digunakan.
Anak-anak mempelajari tentang manusia purbakala yang masih hidup
dalam gua, maka dari anak-anak timbul pertanyaan yang menarik, yang jawabannya
mungkin belum diketahui oleh guru sendiri dan justru karena itu akan diselidiki
bersama dengan murid-murid. pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah hal-hal yang
harus dikuasai, seperti pertanyaan-pertanyaan dalam banyak buku-buku pelajaran
yang menentukan hal-hal mana yang penting yang harus dikenal.
Guru yang baik selalu berikhtiar agar anak-anak belajar dengan
memecahkan soal-soal serta mencari jawaban-jawaban. Suatu hukum ilmu alam atau
tata bahasa sebaiknya ditemukan bagaimana dan apabila menggunakannya. Demikian
pula dengan segala mata pelajaran lainnya.
PRINSIP FOKUS DAN PENGAJARAN MODERN
Di suatu sekolah mungkin
anak-anak berkaryawisata, melakukan eksperimen-eksperimen, mengumpulkan
keterangan-keterangan, namun pelajaran tidak berhasil. Konteks pelajaran sudah
baik, akan tetpi pelajaran itu tidak diberi fokus tertentu. Tak ada sesuatu
yang memusatkan perhatian anak atau yang mengarahkan segala kegiatan anak.
Salah satu usaha ialah memberikan “proyek” yang menerobos
batas-batas mata pelajaran. Anak-anak yang mempersiapkan suatu pesta harus
mengadakan perhitungan-perhitungan, mengarang surat, menciptakan gambar dan
sebagainya. Kegiatan mereka mempunyai fokus tertentu. Sambil mempersiapkan pesta itu mereka belajar
berhitung, mengarang, menggambar, berbicara, dan sebagainya. Proyek memberikan
suatu sistematik dalam pelajaran, akan tetapi ada bahayanya proyek itu tidak
vital bagi anak-anak. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
yaitu:
1.
Untuk
pelajaran yang efektif perlu sekali konteks yang luas serta menarik minat anak.
Pelajaran dapat diberikan dalam bentuk proyek yang merangsang anak
untuk menyelidiki dan menemukan jawaban atau keterangan tentang masalah-masalah
tertentu.
2.
Bahan
mata pelajaran seperti ilmu alam, kimia, ilmu pasti yang sangat penting, lebih
penting dari fotografi atau memasak, karena hasil-hasil mata pelajaran itu
dapat digunakan dalam banyak situasi hidup. Akan tetapi ilmu alam, kimia, ilmu
pasti dan lain-lain dapat dipelajari melalui fotografi atau bermasak sebagai
proyek. Jadi proyek dapat digunakan sebagai prosedur untuk mengajarkan
macam-macam bahan pelajaran.
3.
Pengertian
dan pemahaman yang sistematis serta lengkap tentang tiap-tiap mata pelajaran
baru tercapai setelah study yang bertahun-tahun lamanya, jadi pasti tidak
tercapai oleh anak-anak, metode apapun digunakan, metode mata pelajaran atau
metode proyek. Akan tetapi dengan proyek sudah diberi dasar dan permulaan yang
baik ke arah itu.
4.
Yang
pokok ialah dalam pelajaran apapun selalu harus ada konteks yang luas serta
menarik dengan fokus yang dinamis, yang memusatan usaha anak.
A.
PRINSIP FOKUS DAN PENILAIAN PENGAJARAN
SKALA PENGGUNAANNYA
Dibawah ini kami berikan skala untuk menilai sampai manakah prinsip
fokus digunakan dalam pengajaran. Tentu saja tidak setiap cara mengajar dapat
dengan tepat diukur dengan skala itu. Skala ini gunanya sebagai alat untuk
menganalisis dan menilai mutu pengajaran ditinjau dari segi prinsip fokus.
1.
Tugas
murid-murid merupakan sejmlah halaman dari buku ajar, atau latihan-latihan yang
harus dibuat, dan sebagainya. Organisasi pelajaran sederhana, merupakan rutin.
2.
Fokus
merupakan topik dengan bacaan tambahan. Pelajaran lebih luas akan tetapi tujuan
memperoleh dan menghafal sejumlah pengetahuan.
3.
Fokus
merupakan pengertian yang luas atau problema dapat dihubungkan dengan
pengakaman anak, memberi banyak variasi dalam pengajaran dan cenderung
melepaskan diri dari rutin dan hafalan.
4.
Fokus
merupakan pengertian yang harus dipahami atau problema yang harus dipecahkan,
atau keterampilan yang harus dikuasai agar dapat melaksanakan suatu usaha atau
pekerjaan dengan sukses.
Tingkatan Pertama
Kalau diselidiki kebanyakan cara-cara mengajar masih pada tingkatan
ini, yakni fokus pelajaran ialah mempelajari sejumlah halaman dari buku ajar.
1.
Penilaian
Mengajar pada tingkat inilah yang paling sederhana dan mudah
dilakukan serta meminta pikiran dan tenaga yang minimal dari pihak guru. Akan
tetapi konteks maupun fokusnya sangat kurang.
(a)
Pelajaran
tidak menunjukan suatu kebulatan. Tujuan muridnya hanya sekedar menguasai bahan
dalam buku pelajaran dan tujuan guru menyelesaikan buku itu. Tak ada
masalah-masalah pokok yang memberi kebulatan dan hubungan-hubungan dalam bahan
pelajaran. Pelajaran sama, uniform bagi semua anak.
(b)
Organisasi
pelajaran serupa ini memaksakan anak-anak menghafal, bukan mencari, menyelidiki
dan menemukan jawaban, dengan sendirinya anak-anak tidak diajak berfikir.
Kalaupun berpikir, mereka mengikuti cara berpikir menurut buku atau guru. Yang
penting bagi anak ialah menghafal isi dan mengingat isi buku.
(c)
Tak
ada dinamik dalam pelajaran, karena tidak dibangkitkan dorongan dan hasrat anak
untuk belajar.
2.
Langkah-langkah
ke arah perbaikan
Dalam memberikan tugas, guru mendiskusikan pokok inti dan membantu
anak-anak bagaimana membaca pelajaran untuk membahas pokok. Ia akan juga dapat
memikirkan hal-hal lain seperti minat dan pengalaman anak-anak yang bertalian
dengan pokok tersebut. Sekarang pelajaran mempunyai tujuan tertentu karena ada
suatu pokok atau masalah yang dihadapi dan tidak merupakan hafalan untuk
diresitasi.
Tingkatan Kedua
Penggunaan topik-topik sebagai fokus atau pusat dalam pelajaran
merupakan suatu kemajuan bila diketahui kebaikannya dan dapat dielakkan
kekurangannya.
1.
Penilaian
Organisasi pelajaran berbentuk topik hanya berhasil baik, bila
organisasi digunakan sebagai alat untuk memberi makna kepada pelajaran. Namun
ada kalanya topik disalahtafsirkan sebagai bagian-bagian atau kursus dari
belajar.
Topik sebagai fokus pelajaran menimbulkan tiga pertanyaan:
(a)
Apakah
topik itu benar-benar suatu kebulatan yang efektif dan fungsional?
(b)
Apakah
topik itu membawa anak ke arah studi dimana ia berangsur-angsur menemukan dan
lebih memahami ide atau pengertian, ataukah ia hanya menghafal data tertentu?
(c)
Apakah
topik itu membangkitkan suatu tujuan?
2.
Langkah-langkah
ke arah perbaikan
Bahan pelajaran seperti ditentukan oleh rencana pelajaran atau buku
ajar harus diolah, menjadi topik yang baik dengan menghindarkan
kelemahan-kelemahannya. Kadang-kadang diadakan pembedaan topik atau unit yang
bercorak subject matter (mata pelajaran) dan yang bercorak experience
(pengalaman).
Tingkatan Ketiga
Pada tingkatan ini fokus pelajaran merupakan pengertian atau
prinsip-prinsip yang harus dipahami atau problema yang harus diselidiki dan
dipecahkan.
1.
Penilaian
Suatu contoh pelajaran pada tingkatan ini adalah unit mengenai air,
dengan prinsip utama bahwa kelangsungan hidup di dunia ini bergantung pada
peredaran air, dengan prinsip bahwa air salah satu kebutuhan hidup
makhluk-makhluk di dunia ini dan bahwa air itu terdapat dalam berbagai bentuk.
Didalam unit ini terdapat problem-problema seperti bagaimana binatang, tanaman,
dan manusia menggunakan air.
Unit ini dengan sengaja ditujukan untuk pemikiran, pemahaman,
wawasan, dan bukan hafalan. Pelajaran ini mempunyai beberapa prinsip dan
problema sebagai fokus. Anak dirangsang untuk melakukan bermacam-macam kegiatan
seperti mengamati dan sebagainya. Minat dan inisiatif anak-anak dibangkitkan.
2.
Langkah-langkah
ke arah perbaikan
Bagaimana cara melakukan pengajaran berdasarkan pengertian problema
ini telah dikemukakan diatas. Yang perlu diingat ialah, bahwa suatu problema
yang dikemukakan dalam buku atau oleh guru tidak dengan sendirinya akan
merupakan problema dalam pikiran anak, kecuali dengan usaha yang cermat serta
sengaja dari pihak guru. Organisasi pelajaran seperti unit tentang air itu
tidak secara otomatis merangsang anak belajar dengan hasil-hasil yang autentik.
Itu sebabnya unit berdasarkan problema yang datang dari murid sangat efektif
karena benar-benar mereka rasakan. Itu sebabnya setiap unit harus diolah
kembali oleh guru untuk memberi konteks dan fokus yang baik.
Tingkatan Keempat
Perbedaan esensial antara tingkatan ini dengan yang sebelumnya
ialah bahwa fokus disini lebih fleksibel dan lebih erat dihubungkan dari
kegiatan-kegiatan anak yang sedang berlangsung. Perencanaan yang cermat memang
perlu, akan tetapi tidak dilakukan jauh sebelum unit itu dijalankan seperti
pada tingkatan ketiga. Dalam tingkatan keempat ini pelajaran mengandung makna
karena kedalamnya dimasukkan apa yang dipikirkan, dibicarakan, dilakukan dan
yang menarik minat anak-anak pada suatu saat.
Akhirnya kami ingin mengulang lagi ciri-ciri fokus yang baik.
(a)
Fokus
memberi hubungan dalam segala sesuatu yang dipelajari. Dalam pelajaran terdapat
suatu garis sentral yang akan dijalani.
(b)
Organisasi
pelajaran ditujukan kepada usaha memperoleh wawasan dan pemahaman, bukan
hafalan sejumah bahan pelajaran.
(c)
Tujuan
dan kemauan belajar dibangkitkan secara efektif.
B.
Prinsip Sosialisai dan Organisasi Pelajaran
Prinsip ini berbunyi: Makna dan efektivitas pelajaran untuk
sebagian besar bergantung pada rangka dan suasana sosial dimana pelajaran itu
diberikan, atau dengan kata lain, dengan kerja kelompok makna dan efektivitas
pelajaran dapat dipertinggi.
Prinsip itu sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Tak dapat
disangkal bahwa pertukaran pikiran antara sejumlah manusia memberi pemikiran
dan hasil pelajaran yang lebih baik. Itu sebabnya masalah-masalah yang pelik
lebih mudah dipecahkan oleh suatu kelompok dalam musyawarah.
Dalam kerja kelompok yang baik terdapat ketertiban, harmoni saling
pengertian tetapi disamping itu kelompok harus menghadapi suatu masalah yang
mengandung makna, yang mereka pecahkan bersama dalam suasana gotong-royong.
CIRI-CIRI SOSIALISASI YANG BAIK
Penyelidikan
tentang pengaruh sosial terhadap hasil belajar telah dijalankan sejak beberapa
tahun dan hinga kini menarik minat dengan nama dinamika kelompok atau group
dinamis. Dibawah ini akan diberikan beberapa ciri sosialisai yang baik.
1.
Fasilitas Sosial
Seseorang bekerja dengan lebih baik bila dilakukannya bersama
dengan orang lain. Beradanya seseorang didalam kelompok menyebabkannya bekerja
dengan lebih cepat, lebih cermat. Keuntungan berkat adanya kelompok disebut
“penambahan sosial”. Keuntungan bertambah besar jika anggota kelompok dapat
melihat apa yg dilakukan oleh anggota-anggota lain dan kalau mereka bekerja
dengan bebas. Seluk-beluk “penambahan sosial” belum dipahami seluruhnya.
Tiap guru harus tahu pula tentang kemungkinan sosial momentum,
yakni ia tak perlu memberi segala dorongan agar anak-anak bekerja atau belajar.
Adanya anak-anak yang pandai menari atau bernyanyi mempelajarinya. Tentu hal
demikian tidak timbul dengan sendirinya dan memerlukan organisasi dan
perenaraan dari pihal guru. Hasil itu tentu tidak tercapai kalau anak-anak
pandai dipuji-puji dengan menimbulkan rasa rendah pada anak-anak yang belum
mengetahuinya. Fasilitas sosial (social facilities) akan timbul jika anak-anak
yang telah menguasai sesuatu menjadi bukti-bukti bahwa mencapai sesuatu itu
menggembirakan berharga dan mungkin tercapai.
2.
Dorongan Rangsangan
Banyak
penyelidikan telah dijalankan tentang pengaruh bermacam-macam rangsangan
seperti pujian, celaan, hukuman, hadiah, persaingan, kerjasama, dan sebagainya.
Penyelidikan tidak menunjukan yang mana yang baik atau kurang baik, melainkan
memberi penjelasan tentang pribadi serta sosial yang menguntungkan bagi hal
belajar. Yang perlu di kemudian adalah hal-hal sebagai berikut :
a.
Penghargaan
atas hasil pekerjaan dan usaha anak selalu perlu.
b.
Rangsangan
positif (seperti pujian, penghargaan) lebih baik daripada rangsangan negative
(seperti kecaman, hukuman).
c.
Pengaruh
pujian dan penghargaan rupanya sangat bergantung kepada pribadi orang yang
memberikannya. Orang itu harus dipercayai, dihormati. Penghargaan dapat juga
datang dari anak-anak sendiri.
Bila anak-anak bekerjasama untuk menyelesaikan suatu tugas,
hasilnya akan besar jika hubungan sosial baik, dan jika diberi penghargaan atas
hasil-hasil yang dicapai.
3.
Kelompok Demokratis
Penyelidikan
akhir-akhir ini membuktikan bahwa organisasi pelajaran yang demokratis lebih
baik hasilnya daripada yang otokratis.
Situasi
bekerja dan belajar yang sebaiknya ialah bila suatu kelompok merasa bahwa suatu
pekerjaan mereka lakukan atas inisiatif dan hasrat sendiri. Mereka merasa
bertanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan itu sebaik mungkin. Pemimpin
kelompok hendaknya mengambil sikap “manusia terhadap manusia” dan turut
membantu untuk menyelesaikan pekerjaan.
Sebaiknya
hasil pekerjaan rendah, jika pimpinan memerintahkan atau menugaskan mereka
melakukan sesuatu menurut cara-cara yang ditentukan. Situasi yang “otokratis”
serupa ini akan menimbulkan rasa agresif atau kepatuhan.
Penyelidikan-penyelidikan
itu diperkuat oleh eksperimen-eksperimen dalam industri. Dengan partisipasi
dalam perencaan dan sebagainya para pekerja terbentuk merata yang baik dan
hasil pekerjaan melonjak. Organisasi “demokratis” ternyata memberi efek yang
lebih baik daripada faktor-faktor lain seperti penerengan istirahat ataupun
bayaran tambahan.
Walaupun terbukti bahwa organisasi “demokratis” memberi hasil
autentik yang lebih baik, ternyata bahwa kebanyakan kelas masih diselenggarakan
secara “otokratis”. Anak yang dianggap baik ialah anak pendiam dan penurut.
Inisiatif, kepemimpinan berpikir sendiri dari pihak murid kurang mendapat
perhatian guru. Kesulitan-kesulitan disiplin diatasi dengan hukuman, kecaman,
ancaman. Cara mengajar demikian akan menghalang-halangi tercapainya sukses.
INTERPRETASI
Sikap demokratis dari pihak guru saja belum mencukupi. Disamping
itu diperlukan organisasi yang disengaja dan dilakukan dengan penuh keahlian.
1.
Dalam
suatu kelompok diperlukan kepemimpinan yang baik. Dalam diskusi bebas ternyata
bahwa sebagian kecil murid-murid yang berbicara dan yang berbicara itu tak
selalu anak yang pandai. Diskusi diorganisasi direncanakan lebih dahulu. Yang
penting disini ialah rasa tanggung jawab atas pilihan dan kemauan sendiri.
2.
Teknik
sosiometri untuk mengenal hubungan sosial antara anak-anak diguanakan untuk
membentuk kelompok-kelompok yang lebih efektif. Suasana sosial yang baik tidak
diciptakan dengan bicara dan maksud baik, melainkan dengan perencaan dan
organisasi. Jadi harus ada usaha dan pemikiran dari pihak guru.
3.
Bermacam-macam
usaha dijalankan untuk menyelidiki yang manakah lebih baik kerja sama atau
persaingan, akan tetapi tidak diperoleh jawaban yang tegas. Tiap anak yang
bekerja sama dalam suatu proyek ingin mencapai hasil yang setinggi-tingginya
bagi dirinya. Persaingan serupa ini rasanya tak perlu dicegah. Hanya kalau
persaingan bertujuan semata-mata untuk mengalahkan temanya, akan berpengaruh
buruk. Yang perlu ialah menciptakan suasana sosial dimana tiap anak mengalami
kepuasan turut serta memberi sumbangannya dan disamping itu mencari penghargaan
dari kelompok.
4.
Sikap
guru hendaknya “integrative” jangan “dominative” melaksanakan kemauan dan
keinginan kepada anak-anak. Guru yang “integrative” memperoleh kerja sama anak
keterangan, saran-saran, permintaan dan sebagainya. Ada guru yang berbicara
lemah lembut namun bersikap “dominative”.
5.
Organisasi
sosial bertalian erat dengan pokok utama dari buku ini, yakni pengetahuan
penuh, atau pelajaran yg bermakna. Jika pelajaran berbentuk tugas menghafal
sejumlah halaman dari buku tertentu, maka taka da faedahnya organisasi, karena
tak diperlukan inisiatif anak. Anak-anak tak perlu berunding, karena taka da yg
perlu dirundingkan. Prinsip sosialisasi hanya dapat berjalan berhubungan dengan
pengetahuan penuh.
Jadi prinsip ini tidak lepas dari prinsip-prinsip yang lampau.
Penggunaan prinsip sosialisasi bukan suatu tambahan atau embel-embel, melainkan
suatu unsur yang esensial dari pelajaran yang bermakna.
C.
Prinsip Sosialisi dan Penilaian Cara Mengajar
SKALA PENGGUNAAN
Dibawah ini diberikan
suatu skala sebagai alat untuk menilai hingga manakah prinsip sosialisasi
digunakan.
1.
Pola
sosial terutama berbentuk kepatuhan, kelompok (kelas) hanya menjawab pertanyaan
dan melakukan petunjuk guru, disiplin dengan paksaan.
2.
Pola
sosial berbentuk sumbangan, yakni anggota kelompok dibolehkan dianjurkan untuk
memberikan saran-saran, memajukan soal-soal dan sebagainya, disiplin masih
ditentukan dari atas, akan tetapi dalam suasana ramah-tamah.
3.
Pola
sosial terutama berbentuk kerja-sama gotong-royong, yakni kelompok melakukan
suatu usaha bersama dimana setiap anggota turut memikul tanggung jawab,
disiplin ditentukan sendiri.
A.
Tingkatan
Pertama
Unsur
utama dalam situasi belajar pada tingkatan ini ialah kepatuhan. Perangsang
atau stimulans datangnya dari guru dalam bentuk pertanyaan atau tugas. Murid
hanya menjawab atau melakukannya. Inisiatif anak sedapat mungkin dihambat.
Disiplin terutama bersifat negative dan jalannya pelajaran. Kebanyakan
cara-cara mengajar masih pada tingkat ini.
Biasanya
anak-anak duduk tertib dalam bangku yang berderet dengan teratur. Bangku-bangku
biasanya tak dapat dan tak pernah digeser. Pelajaran dilakukan menurut rutin.
Jam pelajaran ditentukan oleh lonceng,awal dan akhirnya. Pelajaran terutama
ditentukan oleh buku ajar yang ditentukan oleh pihak atasan dan harus dikuasai
untuk menempuh ujian akhir yang uniform.
Pada
prinsipnya Dalton School dan “unit laboratory plan” berada pada tingkatan ini,
walaupun tempatnya berlainan. Anak-anak boleh meninggalkan tempat duduknya
untuk mencari sesuatu dari perpustakaan. Ia tidak mendengarkan dan menjawab
rentetan pertanyaan dari guru. Akan tetapi pada hakikatnya dalam melakukan
tugasnya murid-murid harus mengadakan respons terhadap stimulans yang berasal
dari guru, sekalipun stimulans itu berbentuk lembaran buku pedoman yang
distensile. Disiplin masih bersifat negative yakni mencegah gangguan-gangguan,
walaupun tidak begitu keras. Jadi pada tingkatan ini tugas, komentar, petunjuk,
kritik datang dari guru. Situasi itu diatur sedemikian rupa sehingga inisiatif,
pilihan dan tanggungjawab murid sangat terbatas. Disini tidak digunakan potensi
dinamis yang terdapat dalam situasi sosial.
B.
Tingkatan
kedua
Walaupun tingkatan ini
tidak tegas batasnya dengan tingkatan pertama, namun ada perbedaan yang nyata.
Ciri yang khas ialah
bahwa, walaupun stimulans terutama berasal dari pihak guru, situasi belajar
diatur sedemikian rupa sehingga membolehkan dan memberanikan hati murid untuk
mengajukan pertanyaan, saran-saran, komentar dan sebagainya ditujukan kepada
guru tetapi juga terhadap temannya sekelas.
Dalam penyelidikan
mengenai guru yang tidak baik dan yang baik, ternyata bahwa yang tak baik
mengajar menurut tingkatan pertama sedangkan guru yang baik menurut tingkatan
kedua. Guru yang baik lebih banyak mengajukan pertanyaan pikiran yang
menimbulkan jawaban yang luas, saran-saran, diskusi-diskusi dan sebagainya. Ia
menghadapi kelas dalam suasana bercakap-cakap dengan sikap menerima dan
memberi. Ia membangkitkan pengalaman-pengalaman anak-anak dan mendengarkan
keterangan mereka dengan penuh perhatian. Sebaliknya, guru yang tidak baik
mengajukan pertanyaan hafalan. Ia paling banyak berbicara. Jawaban anak-anak
sangat singkat, rata-rata selama 14 detik sebuah, ia tidak memberi komentar
atas jawaban anak, kecuali mengatakan benar atau salah.
Guru yang baik pada
tingkat ini masih mengontrol kelas dan merupakan asal atau stimulans dari
kegiatan-kegiatan murid. Akan tetapi cara penggunaannya berbeda. Mereka
membangkitkan inisiatif dan sumbangan fikiran secara sukarela.
Guru yang baik tidak
segera menjawab pertanyaan atau memecahkan kesulitan yang dihadapi anak. Ia
merangsang anak-anak lain untuk menjawabnya. Ia menahan diri pada latar
belakang, dan hanya membrikan komentar atau petunjuk sekali-kali dengan maksud
merangsang kelompok untuk berpikir. Ketertiban atau disiplin tetap dijaga, akan
tetapi bersifat positif dalam suasana ramah-tamah. Selalu dijaga tali
persahabatan dan rasa saling hormat-menghormati. Tidak digunakan ancaman,
kecaman atau hukuman. Yang digunakan ialah dorongan-dorongan yang positif
dengan pujian serta memberanikan diri anak. Dalam kelas terasa suasana
kebebasan. Bangku-bangku dapat disusun secara bebas menurut keperluan. Walaupun
demikian disini tidak terdapat delegasi kekuasaan kepada anak-anak untuk
mengambil keputusan-keputusan yang penting.
C. Tingkatan ketiga
Ciri yang hakiki dari
tingkatan ialah bahwa dalam situasi sosial sewaktu belajar tidak hanya terdapat
rasa persahabatan, simpati, kebebasan dorongan-dorongan positif akan tetapi
disini diutamakan rasa bersatu untuk melakukan suatu usaha bersama yang dipilih
serta diterima dengan penuh rasa tanggungjawab.
Cara beajar seperti ini
dialami murid-murid suatu melakukan suatu proyek, misalnya mengenai arsitektur
rumah-rumah disuatu kota. Anak-anak turut merencanakan, mengumpulkan dan
menyusun bahan. guru lebih mengundurkan diri. Ia masih berfungsi sebagai
organisator akan tetapi menonjolkan diri. Kelompok bekerja didorong oleh rasa
tanggung jawab. Rasa bangga atas hasil pekerjaan yang baik serta semangat
kelompok yang merasa bertanggungjawab atas segala kegiatan dan hasilnya.
Walaupun guru tak ada didalam kelas, murid-murid tidak akan ribut melainkan
terus memelihara disiplin kerja.
Besar kemungkinan cara
belajar menurut tingkat kedua beralih kepada tingkatan ketiga. Untuk itu
diperlukan perubahan sikap guru terhadap tugasnya, terhadap murid dan terhadap
dirinya. Sikap ramah-tamah terhadap belum dengan sendirinya membawa guru kepada
tingkatan ketiga.
Jangan dianggap bahwa
situasi belajar secara bersama atau secara gotong royong hanya dapat dilakukan
disekolah yang mewah. Yang penting ialah pemahaman dari pihak guru bagaimanakah
sebaiknya. Perubahan dalam pendapat tentang belajar dengan sendirinya harus
membawa perubahan dalam cara-cara mengajar. Namun demikian prinsip-prinsip
sosialisasi dapat dijalankan pada setiap sekolah agar diperoleh hasil belajar
yang sebaik-baiknya.
BEBERAPA MASALAH PRAKTIS DALAM MELAKSANAKAN PRINSIP SOSIALISASI
1. Dalam segala usaha untuk melaksanakan prinsip sosialisasi salah
satu aspek yang penting ialah perencanaan bersama. Semangat kerja yang
baik, rasa tanggungjawab yang
sungguh-sungguh hanya tercapai bila suatu pekerjaan direncanakan bersama.
Perencanaan dilakukan dengan jujur, dengan benar-benar menghargai pendapat
murid-murid. Waktu yang dipergunakan untuk perencanaan tidak terbuang dengan
sia-sia, tetapi justru mempertinggi hasil belajar. Setiap pelajaran dapat didasarkan
atas perencanaan bersama. Cara ini akan mempererat hubungan antara guru dan
murid, membuka kesempatan menerima saran-saran yang baik dari murid dan memupuk
tanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan. Perencanaan dilakukan tidak hanya
pada permulaan pelajaran, akan tetapi merupakan suatu unsur dalam seluruh
pekerjaan.
2. Perencanaan bersama mengandung masalah hubungan antara guru dan
murid. Hubungan ditentukan oleh kedudukan guru sebagai organisator. Ia jangan
memborong segala keputusan, jangan pula menganggap dirinya sama dengan murid.
Inti kepemimpinan terletak delegasi kekuasaan yang tepat. Ia harus memberi
kebebasan untuk membangkitkan inisiatif disertai oleh rasa tanggungjawab.
Tujuan guru sebagai organisator ialah mengusahakan kegiatan yang setinggi-tingginya
dari kelompok.
3. Setiap guru harus berbuat sesuai dengan sifat pribadinya. Apakah
guru itu introvert ataupun extrovert masing-masing dapat mengajar dengan baik
menurut sifat pribadinya. Tetapi pada hakikatnya masing-masing menggunakan prinsip-prinsip
mengajar yang sama. Begitu pula guru yang ahli akan menggunakan teknik mengajar
yang berbeda dalam menghadapi kelas yang berlainan, misalnya kelas yang pandai
atau kelas yang kurang pandai. Di kelas yang pandai guru itu harus mengekang
arus buah pikiran yang mengalir dari pihak murid, sedangkan dikelas yang kurang
pandai guru itu justru berikhtiar memancing-mancing pikiran dan pendapat
anak-anak.
4. Untuk melakukan prinsip sosialisasi harus ada pengelompokan
secara klasikal. Pengelompokan itu harus homogen. Pengelompokan klasikal pada
mulanya diadakan oleh sebab pada waktu yang sama dapat diajarkan bahan yang
sama kepada sejumlah murid-murid. Akan tetapi dalam prinsip sosialisasi tidak
diharapkan bahwa setiap anak melakukan tugas yang identic atau maju dalam
pelajaran dengan kecepatan yang sama. Tidak ada dua murid yang sama. Akan
tetapi setiap anak dapat memberi sumbangannya dalam suatu usaha bersama. Tentu
saja dalam perbedaan antara anak hendaknya jangan terlampau besar. Jadi didalam
suatu kelas sekelompok anak-anak yang mempunyai minta dan kebutuhan yang sama
dapat bekerja dan bermain bersama dengan sukses dalam suasan bahagia, sekalipun
terdapat perbedaan dalam inteligasi atau kecepatan mereka belajar.
5.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru:
A. Situasi sosial dalam kelas
senantiasa berubah. Kadang-kadang murid menjadi pendengar, pembicara, berunding
bersama dalam diskusi, atau melakukan latihan secara terpisah dan sebagainya.
Guru harus ahli
dalam menguasi atau mengatur situasi-situasi sosial itu. Dalam segala situasi
anak-anak harus menjadi partisipan, kalau tidak maka pelajaran segera
membosankan.
B.
Pola sosial dalam kelas harus mencakup semua murid. Mencela atau
memarahi anak-anak yang tidak turut, menunjukan bahwa pokok pelajaran tidak
memikat hati mereka. Lagi pula guru harus pandai menarik setiap anak dalam
pelajaran.
C. Pola sosial dalam kelas hendaknya
jangan ditentukan oleh adanya guru didalam kelas, melinkan karena realitas
intrinsic yang disukung oleh pelajaran itu sendiri. Makin demokratis, otonomo
pola sosial, makin banyak anak-anak diturutsertakan, makin tak perlu dijalankan
disiplin yang konvensional. Disiplin tidak dinilai lagi secara negative sebagai
tak adanya gangguan, melainkan secara positif sebagai moral kelompok yang aktif
dan bertanggungjawab dalam menyelesaikan suatu tugas bersama.
SOSIALISASI
DAN PELAJARAN YANG BERMAKNA
Pola sosial
dalam suatu kelompok bertalian erat dengan cara-cara mereka belajar. Kelompok
yang demokratis ingin berfikir secara kooperatif, memecahkan masalah dan
bertindak bersama, menyelidiki dan menemukan jawaban.
Kelompok penurut ingin patuh dan
menghafal apa yang diperintahkan guru. Perlu dikatakan disini bahwa mengajar
baik harus menggunakan segala prinsip-psrinsip yang baik seperti pelajaran yang
bermakna, mempunyai konteks dan fokus serta mempunyai pola sosial yang
menguntungkan.
D.
Prinsip individualisasi dan organnisasi pelajaran
Prinsip individualisasi
Dalam pelajaran modern yang menggunakan metode unit, ada kalanya seorang
anak yang kurang pandai tiba-tiba muncul bakatnya jika diberikan tugas yang
sesuai dengan pembawaanya. Disini terlaksana prinsip individualisasi yang
mengemukakan bahwa pelajaran yang bermakna harus dijalankan sesuai dengan
tujuan bakat, kesanggupan anak sendiri menurut prosedur eksperimental.
Ciri-ciri prinsip individualisasi yang baik
Dengan bukti yang berlimpah-limpa banyak ternyata bahwa setiap
individu berbeda dengan yang lain. Dengan macam-macam tes para ahli psikologi
dan para pendidik menunjukkan perbedaan individu yang beraneka ragam.
Bagaimanakah hasil-hasil penyelidikan itu dapat digunakan dalam organisasi
pelajaran?
Pelajaran arus individual karena setiap individu belajar menurut
caranya sendiri. Akan tetapi perlu pula diketaui dalam hal mana anak-anak
berbeda. Adakalanya kita ketahui pembawaan anak dan kita dapat menyesuaikan
pelajaran dengan pembawaanya itu. Akan tetapi betapa banyak anak-anak disekolah
yang tak kunjung kita ketahui pembawaanya seingga anak itu tak dapat berkembang
sepenuhnya.
Perbedaan murid dapat digolongkan dalam dua bagian, yakni perbedaan
vertikal atau kuantitatif yang berdimensi satu dan perbedaan kualitatif.
Perbedaan vertikal. kita dapat menggolongkan manusia menurut taraf
seseorang memiliki suatu sifat tertentu, yaitu sifat fisik ataupun mental.
Dalam bidang fisik dapat diadakan penggolongan
menurut tinggi, berat, kuat badan dan sebagainya. Dalam bidang mental
dapat diadakan pembagian menurut tingkat inteligensi umum.
Hakikat intelegensi serta masalah-masalah yang bertahan dengan
pengukuranya masih banyak menimbulkan perrtentangan pendapat, walaupun telah
banyak diantaranya yang dapat dipecahkan dalam 20-25 tahun akhir-akhir ini.
Perbedaan kuantitatif manusia berbeda dalam pembawaan dan minat
khusus serta dalam metodenya bekerja. Ada yang mempunyai kecenderungan
inteligen, ada estetis, ada motoris, ada sosial dan sebagainya. Perbedaan
serupa ini tidak dapat disusun menurut garis yang berdimensi satu.
Tentang inteligensi yang spesifik ini tidak banyak diketahui seperti
tentang intelegensi umum. Juga tidak diketahui hingga manakah kesanggupan
khusus itu ditentukan oleh pembawaan atau lingkungan. Namun demikian perbedaan
kualitatif ini ada dan sangat penting
artinya.
Barangkali salah satu cara yang baik untuk mengetahuinya ialah
berdasarkan minat anak, karena minat ada
hubunganya dengan belajar. Walaupun demikian minat belum suatu jaminan tentang
adanya bakat yang luar biasa. Dalam pengajarran minat anak janaganlah
diremehkan akan tetapi harus diberi perhatian penuh.
Minat menyebabkan mata pelajaran itu bermakna bagi anak. Minat
memberi suatu tujuan kepada pelajaran. Pengembangan minat itu tak selalu sesuai
dengan kurikulum yang trradisional. Dlaan kurikulum modern yang fleksibel minat
anak-anak yaang berbeda-beda itu lebih dapat dipupuk dan dikembangkan .
Berdasarkan minat tertentu anak-anak dapat mempelajari bahan pelajaran yang
diberikan dalam kurikulum yang konvensional.
Misalnya minat anak untuk sepak bola dapat digunakan untuk mempelajari
berhitung, mengarang, ilmu bumi, sejarah, membaca dan sebagainya.
Ada pula perbedaan dalam cara-cara bekerja dan belajar, dalam
kenyataan ini berpengaaruh terhaadap organisasi pelajaran.
1.
Belajar
dalam segala hal adalah proses seksperimentasi mengandung segi trial-en-error,
sebaiknya trial-en-succes dengan melalui sejumlah kekeliruan. Dalam belajar ini
setiap orang melakukanya dengan cara tersendiri, mungkin lain daripada yang
lain. Belajar selalu mengandung nsur ekperimentasi . Dan tiap orang
bereksperimn menurut caranya yangtersendiri.
2.
Eksperimentasi
sebaagai hakikat daripada belajar selalu merupakan usaha mencari jawaban suatu
masalah. Eksperimentasi bukan suatu “trial-en-error”secara membuat, melaiinkan
selalu dengan penggunaan intelegensi. Dalam penggunaan inteligensi terdapat perbedaan-perbedaan.
Dalam suatu penyelidikan ternyata bahwa hitungan 9+7..........dilakukan oleh 20
orang maasiswa dengan cara yang berbeda-beda.
Guru yaang baik tidak akan menghalangi bahkan mengarang
cara-caara memecakan soal dengan cara-cara tersendiri. Ia tidak akan
memakssakan satu cara tertentu.
3.
Guru
memberi bimbingan pada soal anak ituhmemerlukan suatu teknik yang efektif
sewaktu menghadapi suatu problema. Tak perlu disangsikan, bahwa individualisasi
sebagai bimbingan dalam proses eksperimentasi merupakan trial-en-eror yang
sesuai bagi masing-masing individu yang sedang mengadapi suatu problema yang menarik serta
ssungguh-sungguh adalah usaha yang mampu untuk memperoleh hasil-hasil yang
autentik.
E.
Prinsip individualisasi dan penilaian cara mengajar
Skala penilaian
Untuk menilai hingga manakah prinsip individualisasi dilaksanakan
dalam pengajaran kita dapat menggunakan skala yang berikut. Seperti pada
skalanya laninya, tak ada batas yang tegas antara tingkatan-tingkatanya.
Tingkatan pertama
1.
Penilaian. Sebagian besar dari pengajaran masih berada pada tingkatan ini.
Anak-anak harus mempelajari pelajaran bahan yang dalam waktu yang telah
ditentukan lebih dahulu.
Semua anak-anak
mendapat pelajaran yang sama, sekalipun banyak perbedaan individual diantaara
mereka . pelaajaran itu disesuaikan dengan kemampuan anak yang “menengah” yang
“rata-rata” yang sedang. Demikian juga halnya dengan metode mengajar alat-alat
pelajaran, buku pelajaran dan sebagainya.
Jelaslah bahwa
prinsip individualisasi tidak terlaksana dalam pengajaaran paada tingkataan 1
ini, sejumlah besar dari anak-anak mungkin mengalami kegaagalaan. Hal ini tak dapat dibiarkan, sama saja dengan
dokter yang tak aakan membiarkan sejumlah besar pasienya mati. Tugas guru ialah
membantu setiaap anak tanpa pengecualian agar anak itu maaju dan berhasil dalam
pelajaranya.
2.
Usaha
memperbaikinya. Ada usaha
untuk menentukan angka murid tidak hanya atas dasar ulangan atau tes tetapi
juga memperhatikan kegiatan kelakuan baik, kemampuan kerjasama, dan sebgainya.
Kadang-kadang ada pula yang menilai murid berdasrakan perbndingan antara Hasil
pekerjaan murid dengan bakatnya, sehingga anak yang bodoh yang berusaha
segiat-giaatnya dapat mencapaai angka yang tinggi.
Tingkatan kedua
Murid-murid dibagi
menurut kriterium tertentu dalam beberapa keompok yang dianggap homogen, atau
setidaknya mengurangi besar
perbedaan-perbedaan antara kesanggupan anak, Pada suatu masa yang lampau cara
kerja ini banyak dikemukakan , akan tetapi sekarang kurang mendapat sambutan baik.
Ada kalanya anak
itu terus terikat ole kelompok tertentu selama ia belajar disekolaah itu ,
adakalanya ia boleh pindah kelompok.
1.
Penilaian. Cara ini memperhatikan perlunya menyesuaikan pelajaran dengan
perbedaan individual. Akan tetapi yang diperhatikan hanaya salah satu perbedaan
individual yakni mengenai kesanggupan mental. Cara ini hanya memperkecil
perbedaan itu dalam suatu kelompok murid. Anggapan disini ialah, bahwa
anak-anak maju dalam pelajaran menurut jalan-jalan tertentu.
Akan tetapi yang menjadi pokok ialah apakah penggolongan dalam
kelompok-kelompok homogen benar-benar memberi hasil belajar yang lebih baik.
menurut hasil penyelidikan tidak demikian halnya. Hasil kelompok homogen hanya sedikit sekali bedanya dengan kelas yang
heterogen yang tidak dibagi dalam kelompok-kelompok.
2. Langkah-langkah
untuk memperbaikinya. Pengelompokan homogen sendiri tidak menjamin perbaikan. Yang penting
ialah apa yang dilakukan guru dengan kelompok yang kurang pandai guru itu lebih
sabar, lebih suka membantu. Ada guru yang sesuai pribadinya dengan kelompok
yang demikian.
Tingkatan ketiga
1. Penilaian.
Dalam perencanaan kontrak tugas-tugas
diberikan biasanya secara tertulis dengan stensil, pada beberapa taraf
kesulitan, yaitu taraf C yang berisi bahan esensial yang minimal (bagi
murir-murid yang kurang pandai), tugas taraf B dengan tugas tambahan bagi
murid-murid yang seddang kepandaaiaanya, dan tugas taraf A dengan bahan yang
lebih luas bagi murid-murid yang pandai.
Keberatan-keberatan yang dimajukan adalah
sebagai berikut:
-
Pelajaran boleh dikatakan seluruhnya bersifat
verbalistis dan sering terbatas pada satu buku ajar. Pelajaran tidak
didasarkaan atas problem yang konkret dihadapi anak.
-
Tidak ada fokus yaang tegas. Pertanyaaan dan tugas
lepas serta tak ada hubungan fungsional antara yang satu dengan yang lain, tak
ada kebulatan.
-
Prinsip individualisasi tidak digunakan dengan baik.
Taraf-taraf kesulitan tanpa dasar yaang
sehaat, tugas B atau A lebih luas bahanya dan meminta tenaga yaang lebih banyak
dari pihak murid akan tetapi ini tidak memenuhi macam-macam perbedaan
individual antara murid-murid. Anak-anak melakukan tugas yang lebih banyak
untuk mendapat angka yang lebih tinggi, jadi motivasi ekstrinsik.
-
Rasanyaa kurang adil bila bahan yaang dianggap
sangat penting seperti tugas A hanya
diberikaan kepada segolongan kecil saja. Setiap anak harus mendapat bahan yang
kaya serta luas sesuai dengan minatnya.
2.
Langkah untuk memperbaiknya
Dari
analisis yang diatas ternyata bahwa efektifitaas pelajaran bergantung pada
keseluruhan organisasi pelajaran dimana segala prinsip-prinsip mendapat
perwujudan. Memperbaiki suatu aspek saja tidak akan banyak manfaatnya. Suatu
rencana kontrak yang memberi tugas banyak tidak memenuhi perbedaan minat anak.
Perbaikan
dapat dicapai dengan menjalankan unit atau pelajaran yang mempunyai fokus yang
nyata. Dalam melakukan tugas itu anak-anak akan aktiff bekerja mengumpulkan
bahan, menyelidiki, membaca ,memebuat catatan, merangkum, mendiskusikan,membuat
gambar, meninterview dan sebagainya. Unit ini juga merangsang anak-anak
berpikir dan belajar sebagi kelommpok.
Tingkatan keempat
Disini
prinsip individuaalisassi diberikan berbentuk pengajaran individual. Mula-mulaa
dilakukan oleh Frederick Burke, kemudian Helen Parkhurst di dalton, dan juga
oleh carleton wasburnee di wennetika.
Pada hakikatnya dalam cara ini,
pengajaran klaasikal diubah menjadi “individual tutoring” secara besar-besaran.
Cara imengajar serupa mempunyai
keuntungan –keuntungan anak-anak mendapat tugas sesuai kesanggupanya. Ia mendapat
bantuan individual dari guru. Murid dapat bekerja menurut kecepatan
masing-maaing. Ia dapat mengatur waktunya sendiri.
Akaan tetaapi ada pulaa kelemahnaya. Yang
diperhatikan disini hanya perbedaan vertikal, perbedaan kesanggupan mental.
Akan tetapi perbedan kualitatif yang tidak kurang pentingya, tidak mendapat
perhatian.
Tingkatan kelima
1.
Penilaian
Disini pelajaran diberikanberbentuk unit
dan kegiatan-kegiatan anak berhubungan dengan unit itu. Unit itu biasanya telah
dianalisis dan terdiri dari pendahulan atau penjelelasan mengenai maslah yang
dihadapi untu membangkitkan minat anak, perincian dari maslah itu, hasil-hasil
yang diharapkan diantaranya berbentuk sikap dan penghargaan, tuags-tugas
individual dan kelompok, kegiatan –kegiatan berhubungna dengan unit dan daftar
baacaan.
Unit ini berisi pertanyaan-pertanyan,
probleem-problem yang merangsang anak-anakm untuk menyelidiki , mngumpukan
bahan dan menarik kesimpulan.
Namun demikian ada kelemahan-kelemaanya.
Ada bahayanya kalau pelaksanaan itu terutama didasarkan atas baacaan dan
bersifat akademis. Tujuan ini enaknya jangan tertuju pada informasi yaitu
mengumpulkan fakta-fakta, melainkan kepada wawasan atau pemahaman.
2.
Langkah-langkah kearah perbaikan
Unit yang diterapkan diatas hendaknya
mudah diperbaiki. Suatu unit enaknya jangan didasarkan atas suatu ceramah atau
keterangan verbal, melainkan berdasarkan sutau kejadian yang aktual dalam
kehidupan anak-anak.
Bahan unit hendaknya jangan merupakan
sejumlah pengetahuan melainkan hasil sebagai akibat usaha serta sumbangan
individual. Disini prinsip individual dapat diwujudkan dengan baik sekali
menurut minat pilihan metode kerja masing-masing.
Tingkatan keenaam
Disini anak-anak melakukan suatu usaha
bersama dan dalam rangka ini masing-masing anak melakukan suatu tugas sesuai
dengan minat dan kesanggupanya sebagai sumbangan untuk penyelesaian tugas itu.
Cara kerja ini telah dikemukakan dahulu
dalam contoh anak-anak mempelajari arsitektur disuatu kota, pada dasarnya
masalah yang diselidiki mulai dengan suatu hal yang menarik minat yang kemudian
berkembang sehingga menjadi suatu unit.
Dalam pelajaran serupa ini terdapat usaha yang
mengandung makna, yang merupakan suatu gfbkebulatan dan dipecahkaan bersama
oleh murid-murid. Tiap anak dapat memberi sumbanganya, sesuai dengan minat dan
kesanggupannya. Anak-anak turut menentukan sendiri dengan bantuan serta
bimbingan guru. Anak bekerja dan belajar menurut caranya sendiri. Tampaknya
bahwa individualisasi disini dilakukan dengan cara yang tak formal akan tetapi dengan
bimbingan yang ahli cara ini memberi asil yang paling efektif.
F.
Prinsip urutan dan organisasi pelajaran.
a.
Prinsip Urutan (Sequence)
Prinsip urutan yang dibicarakan
hingga sekarang ialah cara memberi suatu pelajaran tertentu dengan cara yang
efektif yakni menggunakan prinsip konteks, fokus, sosialisasi, dan
individualisasi. Akan tetapi guru juga harus memperhatikan efektivitas urutan pelajaran.
Ia tidak hanya mengerjakan ilmu hitung, ilmu pasti, ilmu bumi, dan sebagainya,
melainkan ia mengajarkan dan mendidik anak mencoba mengubah kelakuannya,
memberi pemahaman sikap, dan pandangan hidup.
Suatu pelajaran tidak lepas dari
pelajaran sebelum dan sesudahnya. Pelajaran itu mengandung makna dalam rangka
keseluruhan pelajaran itu. Jadi prinsip urutan dapat dirumuskan :
“ Urutan pelajaran yang bermakna harus
bermakna pula jika dikehendaki hasil-hasil yang autentik.” [1]
Kita tak mungkin mengajarkan seluruh
mata pelajaran sekaligus. Bagaimanapun juga kita hanya dapat mengajarkan suatu
pelajaran atau satu pokok tertentu, jadi hanya sesuatu yang spesifik. Akan
tetapi pelajaran yang spesifik kita harapkan memberi perkembangan seluruh
pribadi anak.
b.
Urutan dan Perkembangan
Mental
Masalah
urutan bertalian erat dengan proses perkembangan atau pertumbuhan mental.
Masalah ini telah dipikirkan sejak dahulu. Dalam buku pelajaran unsur-unsur
dari yang sederhana dan lambat laun meningkat kepada yang lebih sulit. Tak
dapat sesuatu dipahami tanpa diberikan langkah demi langkah disesuaikan dengan
perkembangan mental anak.
Contoh I
seorang ibu mengatakan kepada anaknya yang berumur lima tahun supaya pulang
pukul 6 petang, anak itu telah diajarkan melihat jam. Ibu ini ingin agar
anaknya itu mengenal tanggung jawab. Akan tetapi ternyata anak itu tidak
memenuhi janjinya. Ia terlambat pulang dan kena marah.
Harapan
ibu tidak sesuai dengan taraf perkembangan anak. Anak umur lima tahun belum menguasai
soal waktu (kesanggupan spesifik). Kekurangan dalam menguasai bidang spesifik
menghalangi perkembangan pribadi (rasa tanggung jawab).
Contoh II,
seorang mahasiswa ditugaskan mempelajari seluk beluk Mattheus Passion ciptaan
Bach. Masalah ini begitu memikat hatinya sehingga berminggu-minggu lamanya ia
mempelajarinya dengan penuh minat. Pelajaran ini membuka hati dan pikiran untuk
hal-hal yang baru yang tidak pernah dimimpikannya lebih dulu. Pelajaran ini
sungguh-sungguh memperkaya pribadinya.
Di sini kita lihat bahwa suatu pelajaran tertentu mengembangkan pribadi
seseorang keseluruhan. Hal ini terjadi karena pekerjaan itu sesuai dengan taraf
perkembangan mentalnya. Jadi, urutan pelajaran harus disesuaikan dengan taraf perkembangan mental anak. Kalau tidak
sesuai akan gagal.
c.
Ciri urutan yang baik
Ciri-ciri
urutan yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan pertumbuhan:
1. Pertumbuhan itu kontinu
Menurut teori rekapitulasi pertumbuhan
anak melalui fase-fase dalam perkembangan hidup manusia dari masa biadap sampai
ke msa beradab. Ada pun membagi pertumbuhan itu berturut-turut melalui
pengamatan, pengkhayalan, ingatan, dan pikiran kira-kira usia ke-2 tahun
beradab dalam masa ingatan karena itu dapat diberi banyak hafalan. Akan tetapi
pendirian-pendirian telah lama ditinggalkan. Sejak lahirnya, anak telah
mempunyai segala macam kesanggupan yang akan berkembang secara kontinu.
“Pertumbuhan tidak dapat dipecah-pech
menjadi sejumlah fase-fase. Pendirian itu penting bagi organisasi pelajaran.”
Cara satu-satunya disekolah untuk mengembangkan anak adalah melalui
pelajaran-pelajaran yang spesifik. Akan tetapi pelajaran itu dapat jangan
dianggap terpisah-pisah. Pelajaran-pelajaran itu dapat dianggap sebab-sebab
dalam buku yang memberi sumbangannya kepada kebulatan buku itu. Kita harapkan
bahwa pelajaran ilmu pengetahuan akan mencegah prasangka.
Melenyapkan suatu prasangka tak tercapai
dalam satu pelajaran. Itu tercapai berkat banyak pelajaran dan pengalaman yang
masing-masing memberi pengaruh dan sumbangan mencapai tujuan itu.
2. Pertumbuhan
bergantung pada tujuan
Ada pertumbuhan yang tampaknya berjalan dengan otomatis menurut
alam seperti berdiri, berjalan.
Akan tetapi pelajaran di
sekolah terutama bergantung pada keadaan dan lingkungan. Seorang anak kembar
yang berusia satu tahun dapat diajar bersepatu roda, sesuatu yang tidak dengan
sendirinya atau menurut alam akan dipelajarinya. Itu dapat dipelajarinya karena
masih dalam batas kemampuan dan tujuan yang dapat dipahaminya.
Pada usia itu ia tak akan dapat diajar main biola atau aljabar
karena tidak akan memahami tujuannnya.
Prinsip urutan hanya dapat dijalankan jika apa yang diajarkan itu
masih dalam batas tujuan anak. Seorang hanya dapat belajar jika ia mau belajar.
Kemajuan tidak tercapai karena anak tidak mengindahkannya artinya tidak
menerimanya sebagai tujuan. Tanpa tujuan tak ada pertumbuhan.
3.
Pertumbuhan Bergantung pada timbulnya pemahaman.
Pelajaran dan pengalaman harus menimbulkan pengertian, pemahaman
atau wawasan agar tercapai pertumbuhan.
Misalnya sikap badan yang tegak, belajar agar berhasil baik. Untuk
itu diperlukan sejumlah pengalaman yang masing-masing memberi pengertian
tentang tujuan itu. Demikian pula dalam pelajaran berhitung, aljabar, atau ilmu
ukur, anak-anak harus memahami apa yang menjadi persoalan, yaitu memahami
hubungan antara yang satu dengan yang lain, bukan sekedar membuat sejumlah
hitungan saja. “melihat dan memahami hubungan” adalah inti dari berhitung dan
ilmu pasti yang menjadi pedoman yang harus dipelajari atau dipahami anak.
Pemahaman itu pada mulanya samar-samar tetapi lambat laun dapat
berkembang dan menjadi. Pemahaman itu penting dan berguna bagi hidup anak itu
selanjutnya.
d.
Beberapa kesalahan yang umum
1. Pendapat tentang arti
persiapan untuk studi yang lebih tinggi bertentangan dengan prinsip bahwa
urutan harus ditentukan oleh irama pertumbuhan mental. Sejarah purbakala
mendahului sejarah abad pengetahuan, dann ini merupakan persiapan untuk sejarah
modern. Ilmu alam harus didahului oleh aljabar sebgai persiapan.
Untuk pelajaran di fakultas ditentukan sejumlah mata pelajaran
sebagai persiapan. Harapan disini adalah bahwa pelajaran persiapan itu dapat
ditransfer ke[pada pelajaran lanjutan. Dalam penyelidikan ternyatra bahwa
kebanyakan diantara pelajaran-pelajaran itu tidak mempunyai nilai transfer.
Pelajaran apa pun mempunyai nilai yang sama sebagai persiapan unruk
mengikuti kuliah-kuliah pada perguruan tinggi. Yang penting untuk ditransfer
bukanlah sejumlah pengetrahuan melainkan minat, tujuan, semangat kerja yang
baik, kesadaran yang meluas tentang hubungan-hubungan. Sifat-sifat itu dapat
dimiliki anak-anak berkat semua pelajaran disesuaikan dengan pertumbuhan mental
murid-murid.
2.
Masalah pertumbuhan mental bertalian erat
dengan masalah kematangan kesiapan untuk pelajaran tertentu. Berkat pertumbuhan
mental anak itu siap untuk suatu pelajaran. Ahli-ahli penyelidik mengemukakan
misalnya kesiapan atau readisness anak-anak untuk berhitung dan membaca.
Akan teta[pi untuk mata pelajaran lainnya belum ada hasil-hasil
yang dapat dipercayai. Diharapkan dikemudian hari dengan
penyelidikan-penyelidikan akan dapat diketahui apabila nak-anak ,atang untuk
tiap mata pelajaran.
3.
Kesalahan yang merugikan dalam menjalankan
prinsip urutan ini ialah terlampau lambat atau terlampau cepat mengajarkan
formal di kelas satu dan dua tidak sesuai dengan perkembangan mental anak, akan
tetapi ini tak berarti bahwa berhitung formal harus diundurkan sampai kelas
enam.
Begitu pula seorang guru piano yang terkenal mengatakan bahwa
anak-anak sebelum belajar piano lebih dulu diberi senam irama. Hasilnya akan
meningkat 40%.
G.
Prinsip Urutan dan penilaian cara mengajar
a.
Skala Pengunaannya
Prinsip urutan ini bertalian erat
dengan kurikulum. Setiap guru harus mengenal struktur dan tujuan seluruh
kurikulum dan melihat hubungan antara pelajaran yang diberikannya dengan tujuan
kurikulum itu, sering hubungan itu tidak jelas dilihat.
Dibawah ini diberikan skala
pengunaan prinsip urutan (sequence).
1.
Urutan
sejumlah bahan pelajaran berbentuk kursus atau pelajaran.
2.
Usaha
untuk mempererat hubungan antara pelajaran dengan uraian pendahuluan, tinjauan
pendahuliuan, tes, ulangan dan penyusunan kembali bahan pelajaran. Anggapan dasar : apresiasi.
3.
Urutan
ditentukan oleh kesiapan, kematangan (readiness).
4.
Urutan
ditentukan oleh pemahaman yang timbul.
b.
Tingkat Pertama
Urutan yang konvesional ialah urutan
sejumlah pelajaran-pelajaran atau kursus. Murid-murid harus berturut-turut
menempuh pelajaran –pelajaran itu. Susunan didasarkan atas “logika” yang
terkandung di dalam mata pelajaran. Susunan logis itu dapat pula kita lihat
dalam buku-buku pelajaran. Akan tetapi susunan itu bukanlah satu-satunya
susunan yang mungkin. Bahwa pelajaran dapat disusun menurut cara yang
bermacam-macam.
Lagi pula logika yang dikatakan
terkandung di dalam mata pelajaran, misalnya ilmu pasti atau bahasa, tidak
cocok dengan logika menurut ahli-ahli matematika dan bahasa.
Mata pelajaran pada tingkatan
pertama ini terpisah satu sama lain tanpa hubungan yang erat. Suatu usaha yang
dilakukan untuk menunjukkan urutan pada tingkatan ini ialah mengadakan ulangan
pada saat-saat tertentu. Yang diperlukan sebenarnya bukan ulangan akan tetapi
transformasi. Dengan mempelajari ilmu pasti, pengetahuan alam, sejarah dan
sebagainyaharus terjadi perubahan dalam diri anak, misalnya ia melihat hubungan
dengan pandangan yang lebih dalam serta luas. Pengertian-pengertian yang
diperbolehkan harus dapat digunakannya dalam menghadapi problem-problem baru.
c.
Tingkat Kedua
Orang yang menyadari bahwa pelajaran
yang konvesional pada tingkatan pertama itu lepas-lepas dan fragmentaris. Suatu
usaha untuk mrngatasinya ialah menyusun pelajaran berbentuk unit. Usaha serupa
itu telah mulai dilakuakan secak Herbert mengajurkan metode productive
development. Dasarnya adalah apersiasi.
Seperti yang kita ketahui metode itu
dimulai dengan fase persiapan dimana pengalaman-pengalaman yang lampau
dibangkitkan sebelum disajiakan pelajaran yang baru.
Tujuan yang utama ialah mengetahui
hingga dimana minat anak dengan maksud menyesuaikan pelajaran baru dengan
pengetahuan yang ada. Untuk mengetahuinya dapat diberikan tes pendahuluan atau
prates.
d.
Tingkat Ketiga
Usaha untuk mengorganisasi pelajaran
menurut kesiapan (readiness) hanya tercapai dalam satu dua bidang. Dalam bidang
lain itu masih merupakan suatu harapan yang munking tak akan terpenuhi. Dalam
pelajaran berhitung harus ditunggu kesiapan anak sebeluum dapat dimulai dengan
hitungan formal. Kesiapan itu dipengaruhi oleh kematangan psikologis dan
sebagian lagi oleh pengalaman anak maka guru mempunyai dua tugas. Pertama ia
harus memberi pengalaman-pengalaman tertentu kepada anak untuk menimbulkan
kesiapan itu. Tugas kedua ialah mengetahui apabila anak itu telah siap. Ini
dapat diketahui antara lain dengan tes-tes yang ada. Kalau anak dapat
membuatnya anak itu telah siap. Akan tetapi kalau anak itu tak dapat membuatnya
sekalipun ia bekerja keras atau dipaksa anak itu belum siap.
Dasar dari metode itu ialah bahwa
pelajaran baru efektif jika disesuaikan dengan irama perkembangan. Akan tetapi
keberatan disini ialah anggapan, bahwa pertumbuhan sebelum dan sesudah saat
kesiapan berbeda secara fundamental. Untuk mencapai kesiapan diberi
pengalaman-pengalaman yang konkret dan setelah saat itu anak-anak dihadapkan
dengan hitungan yang formal.
e.
Tingkat Keempat
Organisasi urutan pada tingkatan ini
mengikuti garis pertumbuhan yang kontinu. Misalnya kita ingin mengajarkan sikap
ilmiah kepada anak-anak. Tujuan ini bersifat umum dan dapat dipecahkan dalam
tujuan-tujuan yang lebih khusus. Akan tetapi tujuan itu tak akan tercapai dalam
satu pelajaran tertentu. Setiap pelajaran dapat memberi sumbangannya agar sikap
ini lambat laun tumbuh pada anak, sejak ia duduk di sekolah rendah. Disini
suatu tujuan dicapai dengan mengikuti garis pertumbuhan yang kontinu.
Seorang guru ingin menumpuk sikap
sesuatu terhadap sanjak. Pada suatu kali dibacakan suatu sanjak yang cocok
dengan pengalaman anak, misalnya sanjak “Hujan” sewaktu turun hujan. Beberapa
hari kemudian seorang anak meminta agar guru membacakan sanjak itu sekali lagi.
Semua anak mendengarkanya. Kemudian sewaktu turun hujan beberapa anak
mengatakan bagian-bagian dari sanjak itu. Sesudah itu guru membawa buku berisi
sanjak, lalu membacakan sanjak “Hujan” itu. Anak-anak dengan gembira
menyelidiki buku itu. Esok harinya seorang anak meminta guru membacakan sanjak
lagi. Tak lama kemudian seorang anak mengatakan bahwa ia dulu tak suka sanjak
tetapi sekarang ia menggemarinya.
Kita lihat pertumbuhan pada anak kea
rah penghargaan terhadap sanjak. Guru tidak memberi pengalaman-pengalaman
khusus agar anak itu siap untuk menghargai sanjak. Sejak mulanya bibit
penghargaan timbul dalam hati anak yang dipupuk oleh guru pada waktu yang
tepat. Penghargaan sanjak juga tidak dicoba guru itu mencapainya dalam satu
pelajaran tertentu.
Guru mengikuti garis pertumbuhan
anak, kea rah tujuan yang hendak dicapainya.
H. PRINSIP AVALUASI dan ORGANISASI PELAJARAN
PRINSIP EVALUASI
Seorang guru melihat
bahwa hitungan anak semua salah. Katanya “Hitunganmu semua slalah. Bodoh kamu
ini”
guru lain juga melihat kesalahan kesalahan dalam pekerjaan anak, lalunia
menyelidiki dimana letak kesulitan bagi anak dan demikian membantu anak untuk
memperbaiki kesalahan tersebut.
Keddua orang guru itu
menilai atau mengevaluasi pekerjaan anak. Evaluasi dalam bentuk yang baik
adalah menelaah hasil pelajaran anak untuk mengetahui unsur unsur tertentu.
Belajar tak mungkin efektif kalau tidak diketahui hingga manakah tujuan
pendididkan tercapai.
Evaluasi berguna untuk
mempertinggi hassil pelajaran. Karena itu evaluasi tak dapat dipisahkan dari
belajar dan mengajar. Akan tetapi ada evaluasi yang baik, ada pula yang buruk.
Guru pertama dalam contoh diatas melakukan evaluasi yang buruk, karena tidak
menyelidiki dimana letak kelemahan anak, sehingga anak itu tak dapat
mempertinggi hasil pelajarannya.
Efektivitas dan sukses
dari tiap pelajaran dipertinggi dengan penilaian yang teliti dari segala
aspeknya. Itulah prinsip evaluasi.
IMPLIKASINYA
Ada dua buah implikasi
prinsip itu:
1.
Evaluasi adlah bagian yang hakiki dari usaha mengajar. Mengetes, menulis,
memberi angka, membuat laporan adalah alat alat evaluasi yang harus digunakan
untuk mengakibatkan hasil belajar yang lebih baik.
2.
Murid sendiri harus turut aktif dalam evaluasi . dialah orang yang utama yang
menilai pekerjaannya sendiri, sebab dialah yang harus belajar dan mempertinggi
belajarnya berdasarkan evaluasi itu.
Tentu saja ia
memerlukan bantuan guru atau orang yang beerpengalaman karna ia tidak sanggup
menilai diri sendiri. Namun demikian anak itu harus sadar akan
kekurangannya,dan dialah yang harus memperbaikinya.
Jadi sebagai
kesimpulan: agar efektif, pelajaran harus di organisasi sedemikian rupa
sehingga semua yang berkepentingan terutama murid sendiri memperoleh penilaian
yang palid serta terperinci dari segala aspek-aspek pelajaran itu.
CIRI-CIRI EVALUASI YANG
BAIK
Ada guru yang pandai mengevaluasi ada pula yang tidak pandai menilai. Bedanya
terletak pada apa yang di perhatikan dan di titik beratkan yang di anggap
penting. Jadi untuk evaluasi yang baik harus di ketahui unsure-unsur utama
dalam situasi belajar.
1.
Evaluasi dan hasil langsung
Tiap orang belajar untuk mencapai suatu hasil, tu lah yang pada hakikatnya
merangsang seorang untuk belajar. Pertanyaan timbul apakah pengaruhnya
terhadap anak jika a mengetahui hasil pelajaranya.
Masalah ini telah sering diselidiki. Dalam percobaan laboratorium ternyatabahwa
hasil belajar meningkat jika seorang diberi tahukan hasilnya. Dalam
percobaan ini orang disuruh melakukan tugas seperti mencoret huruf a pada suatu
halaman, mencoret huruf huruf tertentu dalam karangan bahasa spanyol,
mengalikan bilangan bilangan. Kepada kelompok yang satu diberitahukan hasil
pekerjaannya, kelompok yang satu lagi tidak. Ternyata yang diberitahukan
hasilnya itu menunjukkan hasil yang lebih baik.
Akan tetapi ketika diadakan eksperimen itu dalam kelas, yakni tes mengenai mata
kuliyah filsapat, kelompok yang mengetahui hasilnya tidak mendapat hasil yang
lebih baik. Lagi pula kalau terlalu sering dites tidak ada lagi pengaruh
terhadap hasil belajarnya.
Situasi dalam laboratorium berbeda dengan dengan dikelas. Dalam situasi
laboratorium tugasnya uniform dan tak penting bagi orang cobaan. Dalam situasi
kelas tes itu penting bagi anak. Keterangan tentang hasil pekerjaannya juga
tergantung pada sikapnya terhadap guru dan cara guru menyampaikan keterangan
itu.
Kesimpulan-kesimpulan
yang dapat diambil adalah:
1.
Pelajaran harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga murid sepenuhnya
mengetahui hasil pekerjaannya.
Cara yang paling buruk
ialah kalau guru merahasiakan hasil pekerjaan murid atau sekedar mengembalikan
tanpa memberikan komentar, cara yang paling baik ialah kalau murid- murid
mengetahui dan mengenal hasil pekerjaannya.
2.
Pelajaran harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga murid mengetahui
hasil-hasil pekerjaan sewaktu pelajaran masih berlangsung.
3.
Hasil-hasil yang dikemukakan harus hasil-hasil yang benar-benar diinginkan oleh
anak-anak. Tak ada gunanya member tugas yang banyak pada anak namun tidak ia
pahami tujuan dan faedahnya. Jadi hasil-hasil pelajaran harus mengandung makna
bagi anak agar member pengaruh yang baik terhadap kegiatan belajar.
2.
EVALUASI dan TRANSFER
Berhasi atau tidaknya
belajar tergantung pada terdapat atau tidaknya hasil belajar hasil belajar itu
digunakan didalam situasi-situasi tertentu.
Eveluasi yang baik
harus menilai hasil-hasil yang autentik dan ini dilakukan dengan mengetes
hingga manakah hasil itu dapat ditransferkan.
Sering ternyata bahwa anak-anak hanya dapat mengatakan kembali atau meresitasi
isi buku mata pelajaran tetapi tidak bisa mentransferkan dalam situasi situasi
lain. Ada anak yang mampu menyebutkan beberapa anggota cabinet presiden, tetapi
tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan cabinet. Dengan pengetahuan yang
dangkal seperti itu, tak dapat diharapkan mungkinnya transfer.
Transfer hanya mungkin dengan adanya pemahaman, dan adanya transfer merupakan
suatu bukti yang nyata tentang adanya pemahaman seorang anak. Karena itu setiap
hal yang dipelajari harus dipahami dan digunakan dalam berbagai situasi.
Ilmu ukur dapat digunakan dalam pekerjaan tangan, ilmu pengetahuan alam dapat
digunakan dalam gejala-gejala dan kehidupan sehari-hari.sejarah digunakan untuk
membandingkan masa yang telah lampau dengan masa sekarangdan sebagainya.apakah
gunanya pengetahuan kalau tidak dapat digunakan.
Ada dua alasan maka evaluasi berdasarkan transfer ini sangat penting.
Pertama: guru mendapat
gambaran yang jelas hingga manakah hasil pelajaran autentik.
Kedua: hal ini
berkaitan dengan kesadaran anak akan tujuan tujuan dan makna pelajaran. Dengan
menggunakan hasil pelajaran dalam memecahkan problem-problem yang rill.
Dengan demikian kegagalan atu sukses dalam melakukan tugas itu mengandung makna
baginya dan merupakan pendorong untuk lebih giat belajar.
Pemahaman atau pengertian tidak diperoleh melalui pengetahuan (information)
yang banyak akan tetapi sebaliknya pengetahuan diperoleh dan akan tidak segera
dilupakan berkat pemahaman. Pengetahuan tanpa pemahaman akan segera lenyap
seperti tulisan pada pasir kering. Jadi kita sebaiknya menilai pengetahuan anak
da dalam situasi-situasi yang bermakna.
3.
Evaluasi langsung dari proses belajar
Kita dapat menilai dari
tiga hal yaitu:
1.
Hasil langsung dari usaha belajar
2.
Transfer sebagai akibat daripada belajar
3.
Proses belajar itu sendiri
Tak dapat disangkal
betapa pentingnya untuk meneliti proses belajar yang diikuti oleh murid. Guru
akan mengetahui dimana letak kesulitan anak-anak lalui mencari jalan untuk
membantunya. Guru menghadapi persoalan: dimana letak kesalahan murid ?
bagaimana jalan untuk mengatasinya?
Lagi pula penelitian
proses belajar berguna bagi murid sendiri. Anak akan melihat kekurangannya
dengan memperbaikinya, dengan demikian akan mempertinggi hasil belajar.
Belajar adalah maslah
yang sangat kompleks. Meneliti proses belajar seorang anak bukan suatu hal yang
mudah. Ni memerlukan pemikiran dan pengalaman. Kita dapat menggunakan suatu
metode untuk menilai proses belajar itu dengan menggunakan prinsip: konteks,
focus, sosialisasi, individualisasi, dan urutan(sequence).
Seorang anak tidak baik
dalam belajar karena tidak mengguanakan konteks yang baik. Ia tidak menggunakan
macam-macam sumber, tidak menggunakan situasi-situasi yang konkrit.
Anak tidak belajar
dengan baik karena tidak memilik focus tertentu, misalnya tidak melihat problem-problem
pokok yang harus dipecahkannya.
Anak tidak belajar
dengan baik karena tidak sesuai dengan minat dan bakatnya(individualisasi) atau
tidak mendiskusikannya dengan orang lain( sosialisasi)
Semua prinsip-prinsip
tu adlah aspek-aspek dari pelajaran yang bermakna meaningful learning. Inilah
inti dari proses belajar yang baik.
Jadi dalam menilai
pelajaran, guru jangan menilai hasilnya, melainkan juga transfer hasil
pelajaran dan proses belajar yang dijalani oleh anak.
I. PRINSIP EVALUASI dan PENILAIAN CARA BELAJAR
SKALA PRINSIP EVALUASI
1.
Evaluasi hanya mengenai hasil terutama hasil yang berlangsung.
2.
Evaluasi terutama mengenai hasil dengan perhatian sedikit terhadap proses
belajar.
3.
Evaluasi terhadap seluruh proses belajar termasuk hasilnya.
Evaluasi adalah
penilaian belajar dengan tujuan untuk memperbaikinya. Penilaian itu harus
dilakukan oleh semua yang bersangkutan, yaitu bukan hanya guru tetapi terutama
juga anak-anak sendiri penilaian juga harus ditinjau sebagai keseluruhan.
Tingkat pertama
Penilaian pada tingkat pertama ini ialah memberikan angka atas hasil pekerjaan
anak. Sistim penilaian ini sangat sederhana, akan tetapi banyak guru yang tidak
mengetahui kelemahannya. Banyan pula guru yang tidak memahami hakikat penilaian
serupa ini oleh karena itu banyak melakukan kesalahan kesalahan besar. Mereka
yang tidak merasa puas dengan cara penilaian ini hendaknya mengetahui
langkah-langkah untuk memperbaikinya.
Sistim penilaian ini didasarkan atas tiga hal yakni:
1.
Semua murid dikenakan tes dan criteria penilaian yang sama. Hasil penilaian
menunjukkan kedudukan relative dari seorang murid dalam kelompok.
2.
Kedudukan relatif itu diwujudkan dalam symbol berupa angka atau huruf. Dalam
pada itu ada kalanya digunakan semacam rumus seperti nilai A 5% B 20% C 50% D
20% dan E 5%, adakalanya tidak digunakan rumus dan terserah pada guru belaka.
3.
Lambing-lambang atau simbol-simbol itu dicatat dan digunakan untuk tujuan
administratif dan edukatif misalnya untuk menentukan naik kelas kemungkinan
melanjutkan pelajaran atau tidak.
4.
Penilaian, hasil evaluasi serupa, ini sangat mementingkan hasil tes, ulangan,
dan sebagainya.
Berhubungan dengan
sistim penilaian akan dikemukakan tiga hal yaitu:
1.
System ini hanya menilai hasil pekerjaan atau prestasi anak.
2.
Suatu angka senantiasa menunjukkan relatif seorang anak dibandingka anak-anak
lain.
3.
Aspek lain dari sistem evaluasi yang konvensional ialah bahwa cara itu dalam
praktik untuk mendorong anak untuk menghafal.
Teristimewa ini berlaku
bagi apa yang disebut tes obyektif dimana anak-anak harus mengisi atau mencoret
dan member tanda. Tes ini memang banyak keuntungannya, seperti dapat
mengetes jumlah bahan yang luas dalam waktu yang singkat mudah diperiksa dan
sebagainya
Akan tetapi jika
dipakai syarat bahwa penilaian harus selalu mempertinggi efektivitas belajar,
maka tes obyektif terbuka untuk kemacam-macaman karena tes ini mendorong untuk
menghafal fakta-fakta yang lepas.
Jadi syarat untuk evaluasi ialah menyadarkan murid akan kebaikan dan
kelemahannya.
1.
Langkah-langkah kearah perbaikan. Ada dua jenis perbaikan yang dapat dijalankan
: pertama, memperbaiki efiensi tekhniknya tanpa mengubah sifatnya. Kedua,
memperbaiki sifatnya.
2.
Banyak guru yang menentukan angka menurut kurva normal distribusi, misalnya 5%
mendapat A, 20% B, 50% C, 20% D dan 5% E atau 3% A 17% , 60% C, 17% D. dan 3%
E, secara teoritis ini tak dapat dipertahankan.
Namun demikian dalam
penilaian harus ada pegangan agar ada makna angka-angka itu. Dalam hal ini tiap
sekolah bebas menentukan norma-normanya. Kecuali dalam ujian dimana lebih
dahulu ditentukan norma yang umum.
3.
Sebaiknya untuk angka terakhir harus dihitung berdasarkan seluruh tes program
dari pelajaran itu.hendaknya semua skor mentah dari semua tes dikumpulkan dan
kemudian baru diubah menjadi suatu angka.
Nilai setiap pekerjaan
dan kemudian mengambil hasil rata-rata bukan suatu cara yang sehat.
4.
Ada perbedaan mengenai pengumuman angka-angka ada yang segera mengumumkan angka
tiapa pekerjaan, ada pula yang mengumumkannya pada akhir tri wulan atau
smester.
Itulah beberapa saran
yang dapat dipertimbangkan dalam mengevaluasi. Harus kita ingat bahwa cara itu
hanya menilai hasil pelajaran.
Kalau kita ingin lagi mengadakan penilaian sehingga mempunyai pengaruh yang
konstruktif terhadap belajar harus kita tempuh cara yang lebih sulit.
1.
Hendaknya dilakukan penilaian yang lebih sederhana.
2.
Hendaknya dihapuskan pemberian angka dibawah SLA, jika tidak diperlukan untuk
pindah sekolah.
3.
Harus dicegah pemberian angka atas segala jawaban dan pekerjaan anak.
4.
Laporan berkala kepada murid hendaknya berisi hasil langsung dari pekerjaannya,
apa yang kurang baik dalam pekerjaannya agar dapat diperbaikinya.
5.
Hendaknya diturut sertakan anak-anak dalam mengevaluasi dirinya.
Tingkatan kedua
Perbaikan evaluasi dicapai dengan mengadakan hubungan yang lebih erat dengan
tujuan-tujuan pendidikan seperti berfikir analitis, mengambil kesimpulan
menggunakan prinsip-prinsip, dan sebagainya. Jadi tidak semata-mata hafalan dan
ingatan.
1.
Perubahan yang penting ialah perbaikan konstruk tes. Tes-tes obyektif yang
dibuat oleh guru sering diragukan kebaikannya, seperti(true-false) yang dapat
diperdebatkan benar tidaknya, atau pertanyaan yang menimbulkan berbagai
tafsiran.
2.
Dalam evaluasi itu dipentingkan juga hingga mana murid-murid sanggup
mentransferkan apa yang dipelajarinya dalam situasi-situasi baru misalnya.
Semua dan satu tanaman menghadap kesuatu arah. Dalam keadaan cahaya yang
bagaimana timbulnya tanaman itu.
3.
Evaluasi serupa ini, walaupun terutama menilai hasil, juga hingga batas
tertentu menilai proses belajar. Banyak diantara tes ini dengan sengaja
menanyakan bagaimana seorang mencapai suatu keputusan, apa alasannya member
jawaban tertentu.
4.
Evaluasi ini menilai bagaimana macam tujuan pendidikan seperti kesanggupan
berfikir, kepekaan social penghargaan keindahan minat dan faktor-faktor
berhubungan dengan penyesuaian pribadi dan sosial. Jadi evaluasi ini tidak
sempit dan menilai hanya hasil ingatan saja.
Cara evaluasi seperti
diatas mempunyai keberatan. Ada yang mengatakan bahwa cara penilaian itu
memerlukan banyak waktu dan pemikiran dari pihak guru. Keberatan ini tidak
prinsipal karena mengajar bukan suatu pekerjaan yang rutin dan gampang,
melainkan selalu meminta jerih payah. Keberatan yang prinsipal ialah bahwa
anak-anak tidak turut menentukan tujuan apa yang harus dicapainya dan bagaimana
pekerjaannya harus dinilai. Segala sesuatu ditentukan oleh orang lain baginya.
Tingkat ketiga
Evaluasi menurut syarat-syarat psikologis bertujuan agar kita mengenal
anak-anak selengkap mengkin dan agar murid mengenal dirinya
sesempurna-sempurnanya pula. Jadi kita harus memahami murid sebagai manusia
yang belajar.
Evaluasi pada tingkatan ini harus dilengkapi dengan suatu record sistim atau
pencatatan sebagai keterangan mengenai tiap murid. Ada daftar-daftar yang telah
siap dicetak yang sangat banyak isian mengenai pribadi anak.
Akan tetapi daftar-daftar diri serupa ini kadang-kadang menjadi buku atau
banyak keterangan ysng tak dapat diisi oleh guru.
1.
Suatu rencana kerja
Disini kami anjurkan
agar guru menyediakan suatu map untuk tiap murid, didalam map itulah
dikumpulkan segala macam keterangan mengenai anak itu. Keterangan-keterangan
yang diperlukan ialah:
1.
Semua angka-angka dan keterangan-keterangan tentang kemajuan anak selama
bersekolah.
2.
Autobiografi atau riwayat hidup anak yang ditulis oleh anak sendiri. Guru dapat
memberikan garis-garis besarnya, akan tetapi disamping itu anak dapat menulis
apa saja yang dianggapnya perlu, tentang dirinya, keluarga, rumah tangga,
cita-cita dan sebagainya.
3.
Keterangan tentang kesanggupannya, belajar berdasarkan tes inteligensi. Hasil
tes itu dapat dilengkapi dengan kontak dan pengamatan pribadi oleh guru.
Kesanggupan belajar ini penting untuk mengetahui (a) hubungan antara kerajinan
dan hasil yang dicapai. Kalau ia rajin belajar dan hasilnya kurang, maka anak
itu termasuk anak yang kurang bakatnya. Namun jika hasilnaya baik, maka anak
itu anak yang berbakat. (b) perbedaan kata anak sebagai indikasi tentang
kesanggupan anak dalam bidang pelajaran.
4.
Contoh-contoh pekerjaan murid. Bantuan anak dapat diminta agar berhalangan ini
selalu up-to-date
5.
Laporan, tentang wawancara dan pembicaraan dengan orang tua dan murid.
6.
Catatan tentang kelakuan perbuatan dan reaksi anak dalam situasi-situasi yang
wajar yang biasa disebut”anecdotal records”. Disini dapat diperhatikan rasa
tanggung jawab, inisiatif, oriegenalitas, kegotong royongan, kepemimpinan dan sebagainya.
7.
Laporan tentang kesehatan anak
8.
Keterangan tentang hasil pekerjaan dalam kelompok
9.
Rangkuman dan penilaian seluruh bahan yang masuk pada waktu-waktu tertentu guru
harus menelaah segala keterangan yang diperolehnya untuk mendapat gambaran
tentang anak dan memberi saran-saran kearah perbaikan.
2.
Pertanyaan-pertanyaan yang harus dapat dijawab oleh kumpulan catatan itu
Yang terpenting
bukanlah bentuk catatan-catatan itu dikumpulkan, tetapi pertanyaan-pertanyaan
yang dijawabnya untuk memberi gambaran pribadi anak itu antara lain:
1.
Hingga manakah tujuan, cita-cita anak itu sendiri dibangkitkan dan diwujudkan?
Apakah anak itu benar-benar mempelajari apa yang diinginkannya? Belajar hanya
efektif kalau sesuai dengan tujuan anak. Evaluasi harus disesuaikan dengan
tujuan pendidikan yang hendaknya sesuai dengan tujuan anak.
2.
Apakah anak itu menunjukkan pertumbuhan mental dan pertumbuhan pribadi? Apakah
ia dapat melakukan kegiatan atas pilihannya sendiri? Apakah ia lebih menimati
kesenian? Apakah ia dapat memikul tanggung jawab didalam kelompok danm
sebagainya.
3.
Apakah ia lebih sanggup untuk menilai dirinya sendiri ? apakah ia menganalisis
kegagalannya untuk lebih pandai menyesuaikan dirinya? Dan sebagainya.
4.
Apakah dari catatan itu dapat dipreroleh gambaran yang agak lengkap dari anak
itu sebagai manusia dan sebagai pelajar ? segala aspek kepribadian anak dapat
mempengaruhi pelajaran anak.
Karena itu harus
diperoleh yang selengkap mungkin tentang segala aspek-aspek pribadi anak itu.
3. implikasi bagi
pola mengajar
Evaluasi seperti disebut diatas, dimana diperhatikan segala aspek-aspek yang
mempengaruhi ia belajar menggunakan situasi-situasi dimana anak itu dapat
memanifestasikan dirinya, yaitu dalam suasana bebas. Tak dapat diharapkan
inisiatif dari murid jika situasi mengajar mengharuskan uniformitas dan
kepatuhan.
Evaluasi tak lepas dari organisasi pelajaran, bahkan evaluasi merupakan suatu
prinsip mengajar. tanpa evaluasi tak dicapi sukses dalam pelajaran.
Evaluasi yang baik menginginkan evaluasi oleh murid. Untuk itu diperlukan
organisasi pelajaran yaitu:
-
memberi kebebasan pada murid untuk mengeluarkan pendapat dan dengan demikian
dapat mempertinggi hasil belajar.
-
Menghargai tulisan dan ekspresi lainnya yang bercorak kreatif
-
Dalam melakukan tugas meminta saran-saran dari murid
-
Memberi kesempatan pada murid untuk menilai segala macam pekerjaan
-
Memberi kesempatan pada murid untuk melihat keterangan tenteng dirinya yang
berguna baginya
-
Usaha bersama antara guru dan murid untuk mempelajari proses dan hasil belajar
-
Menurutsertakan murid dalam menggunakan dan menafsirkan hasil-hasil tes
-
Bersama-sama dengan murid membandingkan analisis pekerjaan murid
J. SINTESIS DAN APLIKASI PRINSIP-PRINSIP MENGAJAR
HUBUNGAN ANTARA
PRINSIP-PRINSIP
Berhasil atau tidaknya mengajar bergantung pada prinsip-prinsip konteks, focus,
sosialisasi,individualisasi,urutan dan evaluasi.
Hingga kinai prinsip-prinsip itu dibicarakan secara terpisah-pisah. Akan
tetapi dalam praktik semua prinsip-prinsip itu berpaduan erat dan pada
hakikatnya semua prinsip-prinsip adalah aspek-aspek dari asas pertama yakni:
pelajaran herus mengandung makna, harus berarti. Itu sebab tak satupun diantara
prinsip-prinsip itu boleh diabaikan jika kita ingin mengajar dengan sukses.
Dan bila kita hendak menilai efektipitas mengajar, semua prinsip itu harus
digunakan sebagai kkriteria.
ANALISIS SARAN,
METODE-METODE DAN ANALISIS-ANALISIS MENGAJAR
Calon-calon guru mendapat pelajaran, biasanya secara verbal, tentang
metode-metode mengajar sepetri metode membaca, metode proyek, metode bahasa
asing, dan sebagainya, kita harus mempunyai dasar-dasar tertentu. Kalau tidak
maka paling-paling kita dapat mengatakan bahwa suatu metode kita sukai atau tak
kita sukai, modern, atau kolat dan sebagainya.
Akan tetapi yang harus menjadi pokok penelitian ialah apakah suatu metode
memberikan hasil-hasil autentik atau tidak. Hal dapat diselidiki dengan
berpegang kepada enam prinsip m,engajar itu. Missal kita dappat menilai metode
mengajar menurut Herbert yaitu the enductive-development lesson.
Langkah-langkahnya adalah:
1.
Preparation
2.
Statement of aim
3.
Presentation
4.
Comparison and abstraction
5.
Generalization
6.
Application
Dalam langkah pertama
yaitu persiapan diusahakan memberi suatu konteks atau latar belakang kepada
bahan yang akan di ajarkan. Pada langkah kedua, dalam perumusan yang
sering diberi dalam bentuk pertanyaan, diusahan memberikan suatu focus atau
pokok yang harus diberi perhaatian kepada pelajaran itu. Pada langkah ketiga
merangsang murid-murid memecahkan masalah dengan penyelidikan dan penemuan.
Langkah keempat dan kelima pada umumnya bersipat verbal.
Kita perhatikan
bahwa efektivitas suatu metode tidak bergantung pada langkah-langkah yang
tertentumenurt metode itu melainkan pada ada atau tidaknyamata pelajaran bagi
mrid-murid.
Dan itu semua membuka
jalan untuk rangkaian dan evaluasi yang baik pula. Penggunaan
prinsip-prinsip itu seluruhnya pada taraf tinggi menjamin sukses dalam
pengajaran.
Sukses tercapai sebab
pengajaran itu mengandung makna, bukan karna mengikuti rangka bagian
tertentu secara otomatis.
OBSERVASI ORANG
MENGAJAR
Ada dua tujuan utama
observassi kelas. Bagi guru atau calon guru suatu kesempatan untuk memperbaiki
cara mengajar atau mengetahuibagaimana mengajar yang baik. Bagi guru pamong,
guru kepala atau insprktur untuk mulai pekerjaan guru dan member saran-saran
perbaikan.
Pengamatan itu harus
dilakukan secara inteligen dengan diskriminasi, yakni dapat membedakan yang
penting dan tak penting. Observasi yang baik mempunyai keempat cirri yaitu:
1.
Pengamat harus dapat membedakan yang esensial dan tak asensial.
2.
Si pengamat harus sanggup melihat “the general universal in the
particular dan accidental atau dalam perbuatan yang konkret harus ia dapat
melihat prinsip-prinsip yang universal.
3.
Mengamati cara belajar yang buruk sama faedahnya dengan mengamati cara mengajar
yang baik.
kalau cara mengajar itu
buruk ,ia dapat bertantanya dimana letak kelemahanya dan bagaimana
memperbaikinya. Akan tetapi janganlah ia dipengaruhi oleh prasangka-prasangka ,
karna ini menghalangi observasi dan evaluasi yang
obyektif.
4.
Si pengamat harus mempunyai orientasi yang baik. Pertama ia harus tahu apa yang
harus di perhatikanya. Kedua bagaimana ia harus memperhatikanya.
Pengamatan sering salah
karna ditujukan kepada sebagian dari gambaran keseluruhan. Yang sering diamati
adalah kegiatan guru. Yang dilupakan ialah kegiatan, reaksi murid, padahal
inilah yang penting karna anak lah yang harus belajar.
Karna itu si pengamat
harus memberi perhatian khusus kepada apa yang dilakukan oleh murid. Pengamatan
juga sering salah karna kurang reflektif, kurang dii olah dan dipikirkan lebih
lanjut.
Kesulitan dalam
mengamatiini ialah melepas diri dari pribadi guru sehingga melupakan
prinsip-prinsip itu.
Memang setiap guru
mempunyai pribadi sendiri, dan ia harus menggunakan prinsip-prinsip sesuai
dengan kepribadianya.
MEMPERSIAPKAN
PELAJARAN
Persiapan
pelajaran adalah suatu hal yang sangat penting yang harus di kerjakan oleh
setiap guru atau calon guru. Dalam persiapan itu guru harus memperhatikan
keenam prinsip pengajaran itu.
1.
Apa yang dimaksud dengan persiapan dan perencanaan
Persiapan adalah
pemkiran , artinya menggunakan prinsip-prinsip umum situasi-situasi khusus.
Makin baik dipikirkan, makin baik persiapan pelajaran itu.
Banyak persiapan yang dianjurkan dan dijalankan terlampau terbatas dan sempit
hanya suatu bagian yang diikutisecara teratur, misalnya baggaimana memulai
pelajaran , apa yang harus ditanyakan dan sebagainya.
Perencanaan mempunyai dua faedah yaitu:
1.
Karna perencanaan atau persiapan seorang member pelajaran yang
baik, karna ia dapat menghadaapi situasi dalam kelas secara fleksibel,
tetapi tegas tanpa menjadi baku. Pelajaran tak selalu jaln seperti yang
diharapkan, karna itu guru harus siap menempuh titik baru.
2.
Karna membuat persiapan yang baik seseorang menjadi guru yang baik pula.
Seseorang menjadi
guru yang baik berkat pertumbuhan , berkat belajar. Ia harus mengenal dan
mempelajari prinsip-prinsip belajar.
Ia harus dapat melihat “the
general in the particular and the particular in the general” yaitu melihat
dan prinsip menggunakan hal-hal umum dalam situasi khusus, dan melihat hal-hal
khusus dalam situasi-situasi yang umum. Dengan mengadakn persiapan yang baik
guru itu tumbuh menjadi seorang ahli dalam bidangnya.
2.
urutan persiapan
semua perencanaan yang
baik adalah suatu pertumbuhan. Pada mulanya timbul suatu ide yang umum sebagai
pegangan yang masih samar-samar.
Tiap perencanaan harus
terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan sehingga dapat di tempuh jalan-jalan baru.
Rencana itu harus fleksibel dan tetap membuka kemungkinan untuk diubah bila
situasi memerlukanya.
Setelah pelajaran
diberikan guru harus meninjau pekerjaanya kembali untuk mengetahui kebaikan
dank elemahanya yang dapat mempertinggi kesanggupanya dalam melakukan tugasnya.
Ada kesalahan yang
harus diabaikan dalam perencanaan yaitu:
1.
Aggapan bahwa kita dapat mengajar berdasrkan improvisai, persiapan yang baik
itu memerlukan waktu.
2.
Anggapan bahwa persiapan dapat dilakukan tergesah-gesah yaitu sesaat sebelum
pelajaran di berikan.
3.
Anggapan bahwa persiapan yang terperinci dapat dibuat untuk pelajaran selama
satu triwulan misalnya, sehingga kerja guru hanya melaksanakan pelajaran yang
telah disiapkan lebih dulu.
3.
orientasi perencanaan
Apakah yang harus
menjadi pedoman dalam persiapan? Apakah ia harus memperhatikan waktunya mengisi
jam pelajaran, ataukah mementingkan apa yang harus diberikan , ataukah
anak-anak yang harus belajar.
Itu semuanya merupakan
aspek-aspek dari suatu pokok utama yang mengorganisasi pelajaran sehingga
pelajaran itu mengandung makna bagi hasil-hasil autentik. Bagaimana
mencapai hasil belajar yang autentik, itu lah yang harus menjadi pedoman dalam
membuat pesiapan.
4.
Skop atau luas persiapan
Pesiapan bertujuan
menentukan organisasi pelajaran yang efektif maka dengan sendirinya
harus dipertimbangkan keenam perinsip belajar yang akan kita bagi dalam dua
golongan yakni berkenaan dengan aspek-aspek belajar: sqeunc,
konteks,focus,dan evaluasi sebagai pelajar sosialisasi dan individualisasi.
1. rangkaian.
Disini guru harus mempertimbangkan bagaimanakah pelajaran itu dapat
menyumbangkan kepada pertumbuhan dan pengembangan anak. Kebanyakan guru member
pelajaran agar bahasanya dikuasai oleh anak, tanpa melihatnya dalam hubungan
pertumbuhan anak. Guru harus melihat pertumbuhan anak dalam jangka
panjang.
2.konteks.
pelajaran tidak akan berhasil tanpa konteks hubungan atau latar belakang
yang kaya serta luas. Karna itu diperlukan long term planning
setiap ada kesempatan bagi guru mengumpulkan bahan-bahan dari majalah, buku,
gambar-gambar dan sebagainya. Juga berdasarkan pengalamanya ia dapat member
konteks yang luas kepada pelajaran.
3. focus.
Prinsip bertalian erat dengan konteks. Focus ini mendorong anak
memusatkan perhatian dan pemikiran kepada masalah atau problem tertentu,
sehingga pelajaran itu tidak terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yangb
lepas-lepas. Focus yang baik merupakan pertanyaan yang ingin di jawab oleh
anak-anak.
4. evaluasi.
Evaluasi bukanlah sesuatu yang dilakukan pada akhir pelajaran melainkan
meruoakan suatu unsure dalam proses belajar. Evaluasi tidak hanya terdiri atas
tes.
Evaluasi yang baik
menyadarkan anak akan baik atau tidaknya dalm pekerjaan , apa sebab
demikian dan bagai mana memperbaiki kekuranganya.
Dengan evaluasi yang
baik diciptakan situasi dimana anak-anak dapat mengevaluasi. Hal ini mudah di
lakukan dalam pelajaran atletik, pekerjaan tangan , dimana anak-anak segera
melihat hasil pekerjaan dan tak ada alasan mengapa ini tidak mungkin dalam
pelajaran lain, asal saja pelajaran itu bermakna.
Prinsip-prinsip yang
mengenai aspek anak sebagai pelajaran adalah sosialisasi dan individualisasi.
Perencanaan yang pada
mulanya samar-samar mendapatb bentuk yang jelas jika guru mengenal
murid-muridnya dan jika murid-murid turut mengeluarkan pendapatnya. Guru dapat
memperoleh keterangan tentang anak itu dari daftar diri atau catatan, akan
tetapi dalam interaksi antara guru dan murid.
Murid bukan hanya
sebagai individu, melainkan juga seorang anggota kelompok. Itu sebabnya guru
harus dapat bergaul dengan anak-anak sehingga mereka merasa tak takut untuk
mengeluarkan pendapatnya.
BERPIKIR DAN MOTIVASI
Akhirnya akan
dibicarakan dua hal yang sering menjadi perhatian guru, yaitu soal berpikir dan
motivasi.
1. bagai manakah
merangsang anak untuk berfikir?
2. bagai mana member
motivasi supaya anak belajar?
Agar anak berfikir
pelajaran itu harus mengandung problem yang bermakna bagi anak. Motivasi
bukanlah hal yang tersendiri melainkan suatu yang berkaitan dengan organisasi
pelajaran. Motivasi tidak di proleh melaui hukuman dan pujian, tetapi
dengan pengajaran yang baik.
Jika anak merasa bosan
didalam kelas maka ada kelemahan dalam organisasi pelajaran, yakni tidak
terwujudnya prinsip-prinsip mengajar seperti telah diuraikan pada pembahasan
sebelumnya sehingga pelajaran itu mengandung makna dan member hasil-hasil
autentik.
[1]
J.Mursell dan Prof. Dr.S.Nasution,M.A, Mengajar dengan sukses, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2012), Cet. Ke-6 hlm.82
apakanh cmn satu refrensi
BalasHapus