BERBAGAI JENIS KOMPETENSI/TAKSONOMI BELAJAR
A.
Pengertian Taksonomi
Kata taksonomi diambil dari bahasa
Yunani tassein yang berarti untuk mengelompokkan dan nomos
yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai pengelompokan
suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Di mana taksonomi yang
lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih
spesifik.[1] Atau
Taksonomi ialah klasifikasi atau
pengelompokan benda
menurut ciri-ciri
tertentu. Taksonomi dalam bidang pendidikan, digunakan
untuk klasifikasi tujuan instruksional, ada yang menamakannya tujuan
pembelajaran, tujuan penampilan, atau sasaran belajar, yang
digolongkan dalam tiga klasifikasi umum atau ranah (domain), yaitu:
(1) ranah
kognitif,
berkaitan
dengan tujuan belajar yang
berorientasi pada kemampuan berpikir; (2) ranah afektif berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati); dan (3) ranah psikomotor
(berorientasi pada keterampilan
motorik atau
penggunaan otot kerangka).
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan
subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah
laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku
dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat
yang lebih rendah.
Dengan kata lain, tujuan pada jenjang yang
lebih tinggi tidak dapat dicapai sebelum tercapai tujuan pada jenjang di bawahnya. Penting pula
diingat
bahwa tidak
terdapat
batas yang jelas
antara
ranah yang satu
dengan
lainnya. Sebagai contoh, misalnya rumusan tujuannya dalam ranah kognitif penerapan (application); tetapi seringkali tujuan kognitif
ini disertai praktik yang
memerlukan keterampilan motorik, demikian pula, misalnya pada rumusan tujuan instruksional dalam ranah kognitif yang perilakunya memilih, sudah terkait pula ranah afektif
(sikap hati). Melakukan perumusan tujuan berdasarkan ranah, selalu
dipilih yang mana yang lebih dominan.
B.
Taksonomi Bloom
Benjamin Bloom adalah seorang ahli
psikologi pendidikan Amerika yang memberikan sumbangan pemikiran yang
cukup berarti, yaitu mengklasifikasikan tujuan pembelajaran (classification of
educational objectives) dan teori belajar tuntas (the theory of mastery
learning). Dari hasil penelitiannya, Bloom membangun taksonomi tujuan
pembelajaran atau "taxonomy of educational objectives" yang
mengklasifikasikan tujuan pembelajaran yang berbeda-beda.
Benjamin S. Bloom itu berpendapat bahwa
taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu pada
tiga jenis domain (= daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta
didik, yaitu: Ranah proses berpikir (cognitive domain), ranah nilai atau sikap
(affective domain), dan ranah keterampilan (psychomotor domain). Dalam konteks
evaluasi hasil belajar, maka ketiga ranah itulah yang harus dijadikan sasaran
dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar, yaitu: Apakah peserta didik sudah
dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan kepada
mereka?, apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?, dan apakah materi
pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret dalam
praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?.
1.
Ranah Kognitif
Taksonomi
Bloom (sebelum direvisi)mengklasifikasikan
perilaku menjadi enam kategori,
dari yang
sederhana (mengetahui) sampai dengan yang
lebih kompleks (mengevaluasi).
Ranah kognitif
terdiri
atas (berturut-turut
dari
yang paling
sederhana sampai yang paling kompleks).
a.
Pengetahuan (Knowledge), yang
disebut C1
Menekan pada proses mental dalam
mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah siswa
peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya.
Informasi yang dimaksud berkaitan dengan simbol-simbol matematika, terminologi
dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan prinsip-prinsip.
b. Pemahaman
(Comprehension), yang disebut C2
Tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan
penguasaan atau mengerti tentang sesuatu.Dalam tingkatan ini siswa diharapkan
mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah
yang relevan tanpa perlumenghubungkannya dengan ide-ide lain dengan segala
implikasinya.
c. Penerapan
(Aplication), yang disebut C3
Kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampumendemonstrasikan pemahaman
mereka berkenaan dengan sebuahabstraksi matematika melalui penggunaannya secara
tepat ketika mereka diminta untuk itu.
d. Analisis (Analysis),
yang disebut C4
Kemampuan untuk memilah sebuah informasi ke dalam komponen-komponen
sedemikan hingga hirarki dan keterkaitan anta ride dalam informasi tersebut
menjadi tampak dan jelas.
e. Sintesis (Synthesis)
, yang disebut C5
Kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah
struktur yang unik dan system. Dalam matematika, sintesis melibatkan
pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip
matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur matematika yang lain dan
berbeda dari yang sebelumnya. Contoh : memformulakan teorema-teorema matematika
dan mengembangkan struktur-struktur matematika.
f. Evaluasi
(Evaluation), yang disebut C6
Kegiatan membuat penilaian berkenaan dengan nilai sebuah ide, kreasi, cara,
atau metode. Evaluasi dapat memandu seseorang untuk mendapatkan pengetahuan
baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru dan cara baru yang unik dalam
analisis atau sisntesis.
Tingkatan-tingkatan dalam Taksonomi Bloom tersebut telah digunakan
hampir setengah abad sebagai dasar
untuk penyusunan tujuan-tujuan pendidikan, penyusunan tes, dan kurikulum di seluruh dunia. Kerangka
pikir ini memudahkan guru memahami, menata, dan mengimplementasikan tujuan-tujuan pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut Taksonomi
Bloom menjadi sesuatu yang
penting dan mempunyai pengaruh yang luas dalam waktu yang lama. Namun pada tahun 2010
terbit sebuah buku Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan
asesmen (Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom) yang disusun oleh Lorin
W.Anderson dan David R. Krathwohl
Sehingga Taksonomi Bloom ranah kognitif yang telah direvisi Anderson dan
Krathwohl yakni: mengingat (remember), memahami/mengerti (understand), menerapkan (apply),
menganalisis (analyze), mengevaluasi
(evaluate), dan menciptakan (create).
a.
Mengingat (Remember)
Mengingat merupakan usaha
mendapatkan kembali pengetahuan dari memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja didapatkan maupun
yang sudah lama
didapatkan. Mengingat merupakan
dimensi
yang berperan penting dalam proses pembelajaran yang
bermakna (meaningful learning) dan pemecahan masalah (problem solving).
b.
Memahami/mengerti (Understand)
Memahami/mengerti berkaitan dengan membangun sebuah pengertian dari
berbagai sumber
seperti pesan, bacaan dan komunikasi. Memahami/mengerti
berkaitan dengan
aktivitas
mengklasifikasikan (classification) dan
membandingkan (comparing).
Mengklasifikasikan akan muncul ketika
seorang
siswa berusaha mengenali pengetahuan yang
merupakan anggota dari kategori pengetahuan
tertentu.
c.
Menerapkan (Apply)
Menerapkan menunjuk pada
proses kognitif memanfaatkan atau
mempergunakan suatu prosedur
untuk melaksanakan percobaan atau
menyelesaikan permasalahan.
Menerapkan berkaitan dengan dimensi pengetahuan
prosedural (procedural knowledge). Menerapkan meliputi
kegiatan menjalankan
prosedur (executing) dan mengimplementasikan (implementing).
d.
Menganalisis (Analyze)
Menganalisis merupakan
memecahkan suatu permasalahan
dengan memisahkan tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-
tiap bagian tersebut dan mencari tahu
bagaimana
keterkaitan tersebut dapat menimbulkan permasalahan. Kemampuan menganalisis merupakan jenis
kemampuan yang banyak dituntut dari kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah.
Berbagai mata pelajaran menuntut siswa
memiliki kemampuan menganalisis
dengan baik. Tuntutan terhadap siswa untuk memiliki kemampuan menganalisis
sering kali cenderung
lebih
penting daripada dimensi proses kognitif yang
lain
seperti
mengevaluasi dan
menciptakan. Kegiatan pembelajaran sebagian
besar
mengarahkan siswa untuk mampu membedakan fakta
dan pendapat,
menghasilkan
kesimpulan dari suatu informasi
pendukung.
e.
Mengevaluasi (Evaluate)
Evaluasi berkaitan dengan proses kognitif memberikan
penilaian berdasarkan kriteria dan
standar yang sudah ada. Kriteria yang biasanya digunakan adalah kualitas,
efektivitas,
efisiensi, dan
konsistensi. Kriteria atau
standar ini dapat pula ditentukan sendiri oleh siswa. Standar ini dapat berupa kuantitatif maupun kualitatif serta dapat ditentukan
sendiri oleh siswa.
Evaluasi meliputi mengecek (checking)
dan
mengkritisi (critiquing). Mengecek mengarah pada kegiatan pengujian hal-hal yang
tidak konsisten
atau kegagalan
dari suatu operasi atau
produk. Jika dikaitkan dengan proses berpikir
merencanakan dan mengimplementasikan maka mengecek akan
mengarah
pada penetapan sejauh mana
suatu rencana berjalan
dengan baik. Mengkritisi mengarah pada
penilaian suatu produk atau operasi berdasarkan pada
kriteria dan standar eksternal. Mengkritisi berkaitan erat dengan berpikir
kritis. Siswa
melakukan penilaian
dengan melihat sisi negatif dan positif dari suatu hal, kemudian
melakukan penilaian
menggunakan standar ini.
f.
Menciptakan (Create)
Menciptakan mengarah
pada
proses kognitif
meletakkan
unsur-unsur
secara bersama-sama untuk membentuk kesatuan yang
koheren dan mengarahkan siswa
untuk menghasilkan suatu produk baru
dengan mengorganisasikan beberapa
unsur menjadi bentuk
atau
pola yang berbeda
dari
sebelumnya. Menciptakan
sangat berkaitan erat dengan pengalaman belajar siswa
pada pertemuan sebelumnya.
Meskipun
menciptakan
mengarah
pada
proses berpikir
kreatif,
namun tidak secara total berpengaruh
pada
kemampuan siswa untuk
menciptakan.
Tabel perbedaan :
|
Tingkatan Ranah
|
Sebelum direvisi
|
Sesudah direvisi
|
|
C1
|
Knowledge
|
Remembeer
|
|
C2
|
Understand
|
Understand
|
|
C3
|
Apply
|
Apply
|
|
C4
|
Analyze
|
Analyze
|
|
C5
|
Aynthesis
|
Evaluate
|
|
C6
|
Evaluate
|
Creat
|
2.
Ranah Afektif (Affective Domain)
Ranah
afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan
bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah
memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif
akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku, seperti:
perhatiannya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya
dalam mengikuti pelajaran agama di sekolah, dsb. Dalam ranah afektif terdapat
lima jenjang:
a.
Receiving atau attending (
menerima atau memperhatikan) adalah kepekaan seseorang dalam menerima
rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk
masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Contoh hasil belajar afektif jenjang
receiving, peserta didik menyadari bahwa disiplin wajib ditegakkan sifat malas
dan tidak berdisiplin harus disingkirkan jauh-jauh.
b.
Responding (= menanggapi) mengandung
arti ”adanya partisipasi aktif”. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan
yang dimiliki seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam
fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara.
Contohnya, peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajari lebih jauh atau
menggali lebih dalam lagi, ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.
c.
Valuing (menilai = menghargai) menilai
dan menghargai artinya memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau
obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa
kerugian dan penyesalan. Contohnya, tumbuhnya kemauan yang kuat pada diri
peserta diri untuk berlaku disiplin, baik di sekolah, di rumah maupun ditengah-tengah
kehidupan masyarakat.
d.
Organization ( mengatur atau mengoraganisasikan) artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai
baru yang lebih universal, yang membawa kepada perbaikan umum. Mengatur atau
mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem
organisasi, termasuk di dalamnya hubungan satu nilai dengan nilai yang lainnya.
Contohnya, peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional yang telah
dicanangkan oleh Bapak Presiden Soeharto pada Peringatan Hari Kebangkitan
Nasional Tahun 1995.
e.
Characterization by a Value or Value Complex ( karakeristisasi
dengan suatu nilai atau komplek nilai),
yakni keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki seseorang, yang
mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Contohnya, siswa telah
memiliki kebulatan sikap wujudnya peserta didik menjadikan perintah Allah yang
tertera dalam al-Qur’an surat al-Ashr sebagai pegangan hidupnya dalam hal yang
menyangkut kedisiplinan, baik kedisiplinan di sekolah, di rumah maupun di tengah-tengah
kehidupan masyarakat.
3.
Ranah Psikomotor ( Psychomotor Domain)
Perkataan psikomotor berhubungan dengan kata ”motor”,”
sensory-motor atau perceptual-motor.” Jadi ranah psikomotor berhubungan erat
dengan kerja otot sehingga menyebabkan gerak tubuh atau bagian-bagiannya. Ranah
psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau
kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.
Terdapat 5 tingkatan, yaitu:
a)
Persepsi.
Langkah
pertama dalam melakukan kegiatan yang bersifat motoris ialah menyadari obyek,
sifat, atau hubungan-ghubungan melalui alat indera.
b)
Set.
Set
adalah kesiapan untk melakukan suatu tindakan atau untuk bereaksi terhadap
sesuatu kejadian menurut cara tertentu. Ada tiga aspek set, yaitu aspek intelektuakl,
aspek fisis, dan aspek emosional.
c)
Respon
terbimbing.
Inilah
tingkat pemulaan dalam mengembangkan ketermpilan motoris. Yang ditekankan ialah
kemampuan-kemampuan yang merupakan bagian dari keterampilan yang lebih
kompleks. Respon terbimbing aalah perbuatan individu yang dapat diamati, yang
terjadi dengan bimbingan individu lain.
d)
Respon
mekanistis.
Pada taraf ini siswa sudah yakin akan kemampuannya dan sedikit
banyak sudah terampil melakukan suatu perbuatan. Sudah terbentuk kebiasaan
dalam dirinya untuk ber-respon sesuai dengan jenis-jenis perangsang dan situasi
yang dihadapi.
e)
Respon
kompleks.
Pada
taraf ini individu dapat melakukan perbuatan motoris yang boleh dianggap
kompleks, karena pola gerakn yang dituntut sudah kompleks. Perbuatan itu dapat
dilakukan secara efisien dan lancar, yaitu dengan menggunakan tenaga dan waktu
yang sesedikit mungkin.
C.
Kategori Jenis Belajar Menurut Gagne
Gagne menyusun tie-tipe belajar berdasarkan hasil belajar yang
diperoleh dan bukan proses belajar yang diperolehdan bukan proses belajar yang
dilalui peserta didik untuk mencapai hasil itu. Selain itu, Gagne mencoba
menempatkan delapan tipe belajar itu berada dalam suatu urutan hirakis, yaitu
tipe belajar yang satu menjadi dasar atau landasan tipe belajar berikurtnya.
Dengan demikian, pseserta didik yang tidak menguasai tipe belajar yang
terdahulu, akan mengalami kesulitan dalam menguasai tipe belajar selanjutnya.[2]
Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Tipe
belajar dikemukakan oleh Gagne pada hakekatnya merupakan prinsip umum baik
dalam belajar maupan mengajar. Artinya, dalam mengajar atau membimbing siswa
belajarpun terdapat tindakan sebagaimana tingkatan belajar tersebut di atas.
Kedelapan tipe belajar itu adalah :[3]
- Belajar Isyarat (Signal Learning)
Belajar isyarat mirip dengan conditioned respons atau respon bersyarat.
Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tidak bicara.
Lambaian tangan, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian
tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respons. Tipe belajar
semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi respons yang
dilakukan itu bersifat umum, kabur dan emosional. Menurut Krimble (1961) bentuk
belajar semacam ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons
diberikan secara tidak sadar.
- Belajar Stimulus – respons ( Stimulus Respons Learning)
Berbeda dengan belajar isyarat, respons bersifat umum, kabur dan emosional.
Tipe belajar S – R, respons bersifat spesifik. 2 x 3 = 6 adalah bentuk suatu
hubungan S-R. Mencium bau masakan sedap, keluar air liur, itupun ikatan S-R.
Jadi belajar stimulus respons sama dengan teori asosiasi (S-R bond). Setiap
respons dapat diperkuat dengan reinforcement. Hal ini berlaku pula pada tipe belajar
stimulus respons.
- Belajar Rangkaian ( Chaining)
Rangkaian atau rantai dalam chaining adalah semacam rangkaian antar S-R
yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik, seperti gerakan
dalam mengikat sepatu, makan, minum, atau gerakan verbal seperti selamat
tinggal, bapak-ibu.
- Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation)
Suatu kalimat “unsur itu berbangun limas” adalah contoh asosiasi verbal.
Seseorang dapat menyatakan bahwa unsur berbangun limas kalau ia mengetahui
berbagai bangun, seperti balok, kubus, atau kerucut. Hubungan atau asosiasi
verbal terbentuk jika unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu
mengikuti yang lain.
- Belajar Diskriminasi ( Discrimination Learning)
Tipe belajar ini adalah
pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti membedakan berbagai bentuk
wajah, waktu, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.
· Belajar Konsep (Concept Learning)
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil membuat
tafsiran terhadap fakta. Dengan konsep dapat digolongkan binatang bertulan
belakang menurut ciri-ciri khusus (kelas), seperti kelas mamalia, reptilia,
amphibia, burung, ikan. Dapat pula digolongkan, manusia berdasarkan ras (warna
kulit) atau kebangsaan, suku bangsa atau hubungan keluarga. Kemampuan membentuk
konsep ini terjadi jika orang dapat melakukan diskriminasi.
- Belajar Aturan (Rule Learning)
Hukum, dalil atau rumus adalah rule (aturan). Tipe belajar ini banyak
terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai jika
dipanaskan, besar sudut dalam segitiga sama dengan 180 derajat. Belajar aturan
ternyata mirip dengan verbal chaining (rangkaian verbal), terutama jika aturan
itu tidak diketahui artinya. Oleh karena itu setiap dalil atau rumus yang
dipelajari harus dipahami artinya.
- Belajar Pemecahan masalah ( Problem Solving Learning)
Memecahkan masalah adalah biasa dalam kehidupan. Ini merupakan pemikiran.
Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai urusan yang
relevan dengan masalah itu. Dalam pemecahan masalah diperlukan waktu,
adakalanya singkat adakalanya lama. Juga seringkali harus dilalui berbagai
langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam masalah itu, mencari hubungannya
dengan aturan (rule) tertentu. Dalam segala langkah diperlukan pemikiran.
Tampaknya pemecahan masalah terjadi dengan tiba-tiba (insight). Dengan
ulangan-ulangan masalah tidak terpecahkan, dan apa yang dipecahkan sendiri-yang
penyelesaiannya ditemukan sendiri- lebih mantap dan dapat ditransfer kepada
situasi atau problem lain. Kesanggupan memecahkan masalah memperbesar kemampuan
untuk memecahkan masalah-masalah lain.
D. Jenis Belajar Menurut UNESCO
1. Learning to know
Jenis belajar ini bukanlah persoalan memperoleh informasi terperinci,
tekodifikasi atau yang tersusun sesuai dengan suatu sistem melainkan menguasai
instrumen-instrumen pengetahuan itu sendiri. [4]
Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha untuk mencari agar mengetahui
informasi yang dibutuhkan dan berguna bagi kehidupan. Belajar untuk mengetahui
(learning to know) dalam prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermakna
tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupannya.
Untuk mengimplementasikan “learning to know” (belajar untuk mengetahui),
Guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru
dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam
rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.
2. Learning to
do
Learning to do (belajar bertindak/berbuat/berkarya) belajar berkarya erat
hubungannya dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan.
Adapun maksud UNESCO dari learning to do adalah bagaimana pendidikan
mengajarkan perserta didik untuk mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya danmengarahkan pada kemampuan profesional terhadap dunia pekerjaan
di masa depannya.
3.
Learning to be
Learning to be(belajar menjadi diri sendiri) diartikan sebagai proses
pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Pendidikan melalui proses
pembelajaran juga harus mengarahkan peserta didik pada penemuan jati dirinya
yang utuh, sehingga mempunyai pijakan kuat dalam bertindak dan tidak mudah
terbawa arus, yang pada akhirnya menjadi manusia yang seluruh aspek
kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang baik intelektual, emosi,
sosial, fisik, moral maupun religiusitas.[5]
Dalam konteks yang seperti demikian, peserta didik hendaknya diberdayakan
untuk berpikir mandiri dan kritis, membuat keputusan sendiri dalam rangka
menentukan apa yang harus dilaksanakannya di dalam berbagai konteks kehidupan.[6]
4. Learning to
live together
pada pilar keempat ini,
kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu
dikembangkan disekolah. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan tumbuhnya
sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama .
UNESCO mengungkapkan
bahwa jenis belajar ini merupakan salah satu persoalan yang besar dalam
pendidikan dewasa ini, karena atmosfer persaingan, perselisihan atau
pertengakaran begitu kental sehingga sering terjadi chaos hanya karena
masalah-masalah spele yang pada akhirnya manusia lebih memilih egonya sendiri
dari pada kepentingan hidup bersama.[7]
Dengan kemampuan yang
dimiliki, sebagai hasil dari proses pendidikan, dapat dijadikan sebagai bekal
untuk mampu berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, dan
sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya. Pemahaman tentang
peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam
bersosialisasi di masyarakat (learning to live togethe
[1]Taksonomi,
http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi
, 8 januari 2014 pukul 22.40
[2] Winkel, psikologi
Pengajaran, (Yogyakarta: Penerbit Media Abadi,2005), hlm 100-101
[3] Syaiful Bahri
Djamaroh, Psikologi Belajar,(
Jakarta: Rineka Cipta; 1999), hlm. 23
[4]Jacques Delors, Belajar: Harta Karun di Dalamnya,
(UNESCO, Komisi Nasional Indonesia, 1996), hlm. 64.
[5] Nana Syodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses
Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), cet. 3, hlm. 203.
[7] Jacques Delors,
Belajar:Harta Karun diDalamnya. hlm. 67
Tidak ada komentar:
Posting Komentar