Sabtu, 18 Januari 2014

Teori Belajar Kognitif



  1. Pengertian Teori Belajar Kognitif
Salah satu teori belajar yang dikembangkan selama abad ke-20 adalah teori belajar kognitif, teori ini melibatkan proses berfikir secara komplek dan mementingkan proses belajar. Menurut Drs. H. Baharuddin dan Esa Nur wahyuni (2007: 89) yang menyatakan “aliran kognitif memandang kegiatan belajar bukan sekedar stimulus dan respons yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu, kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan mental yang ada di dalam individu yang sedang belajar”. Kutipan tersebut di atas berarti bahwa belajar adalah sebuah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat dan menggunakan perilaku, sehingga perilaku yang tampak pada manusia tidak dapat diukur dan diamati tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan dan lain sebagainya.
            Teori belajar kognitif menurut Drs. Bambang Warsita yang beranggapan bahwa “Belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman”. Maksudnya bahwa belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat dilihat sebagai tingkah laku. Dimana teori ini menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dalam kontek situasi secara keseluruhan.
Seperti juga di ungkapkan oleh Winkel (1996:53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas.” Hal ini berarti bahwa perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang dialami oleh manusia, dimana pengalaman tersebut bersifat relatif menjadi proses belajar yang membekas dalam fikiran manusia. Selain itu teori belajar kognitif memandang “belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.[1]

  1. Teori Belajar Kognitif Menurut Para Tokoh
a)      Piaget
      Menurut Piaget dalam buku “Teknologi Pembelajaran” dari Drs. Bambang Warsita (2008:69) yang menjelaskan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu prosess genetika yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistem syaraf. Dalam buku “Psikologi Pendidikan” karya Wasty Soemanto (1997:123) yang menyatakan teori belajar piaget disebut cognitive-development yang memandang bahwa proses berfikir sebagai aktivitas gradual dari pada fungsi intelektual dari kongkrit. Belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu : asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Proses belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap satu dan tahap lainnya yang secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang maka semakin teratur dan juga semakin abstrak cara berpikirnya. Oleh karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya.
Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut Piaget, antara lain:1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) memilih materi pembelajaran; 3) menentukan topik-topik yang dapat dipelajari oleh peserta didik; 4) menentukan dan merancang kegiatan pembelajaran sesuai topik; 5) mengembangkan metode pembelajaran; 6) melakukan penilaian proses dan hasil peserta didik.
b)      David Ausubel
Menurut Ausubel dalam buku karya Drs. Bambang Warsita bahwa “belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasi secara non arbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya”(2008:72). Hal ini berarti bahwa pembelajaran bermakna merupakan suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif peserta didik. Dimana Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta saja, tetapi merupakan kegiatan yang menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Jadi guru harus menjadi perancang pembelajaran dan pengembang program pembelajaran dengan berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang dimiliki peserta didik dan membantu memadukan secara harmonis dengan pengetahuan baru yang dipelajari.
Langkah-langkah pembelajaran bermakna menurut Ausebel,dalam merancang pembelajaran antara lain: 1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) melakukan identifikasi peserta didik; 3) memilih materi pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk konsep inti; 4) menentukan topik peserta didik dalam bentuk advance organizers; 5) mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur topik pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.


c)      Jerome Bruner
Berdasarkan Drs. Wasty Soemanto (1997:127) dan Drs. Bambang warsita(2008:71) dimana Jarome Bruner mengusulkana teori yang disebutnya free discovery learning. Teori ini bertitik tolak pada teori kognitif, yang menyatakan belajar adalah perubahan persepsi dan pemahan. Maksudnya, teori ini menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk konsep, teori, ide, definisi dan sebagainya melalui contoh-contoh yang menggambarkan atau mewakili aturan yang menjadi sumbernya.
Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut Bruner antara lain: 1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) melakukan identifikasi peserta didik; 3) memilih materi pembelajaran; 4) menentukan topik secara induktif; 5) mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur topik pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
d)     Albert Bandura
Bandura berpendapat tentang teori kognitif sosial. Seperti yang dijelaskan dalam buku karya John W. Santrock (2007:285) yang menyatakan bahwa teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan faktor sosial dan kognitif dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Hal ini berarti bahwa faktor kognitif berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya. Jadi menurut Bandura antara faktor kognitif/person, faktor lingkungan dan faktor perilaku mempengaruhi satu sama lain dan faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan.
e)      Kurt Lewin
      Juga merupakan tokoh teori belajar kognitif adalah Kurt Lewin yang menyatakan tentang teori belajar medan kognitif (cognitive-field learning theory). Seperti yang di jelaskan oleh Nana Sudjana dalam bukunya yang menjelaskan bahwa dalam teori belajar medan kognitif, “belajar didefinisikan sebagaai proses interaksional dimana pribadi menjangkau wawasan-wawasan baru dan atu merubah sesuatu yang lama”(1991:97). Hal ini berarti bahwa seseorang harus peduli dengan diri mereka sendiri dan juga dengan orang lain, dengan belajar secara afektif sehingga diharapkan mereka atau seorang guru bisa mengerti dengan dirinya sendiri dan dapat melaksanakan tugas dengan lebih baik selain itu juga mengembangkan sistem psikologis yang bermanfaat dalam berurusan dengan anak-anak dan pemuda dalam situasi belajar.[2]
  1. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif secara spesifik difokuskan pada perubahan dalam cara berpikir, memecahkan masalah, memori, dan inteligensi. Kognisi manusia ditinjau dari  sudut pandang perkembangan, adalah hasil dari rangkaian tahap-tahap perkembangan yang dimulai sejak tahun-tahun awal permulaan pertumbuhan. Kognisi berkembang dalam bentuk peningkatan mengikuti pola-pola yang teratur sejak bayi hingga dewasa, dan beberapa kemampuan kognitif mengalami penurunan pada masa tua.  Perubahan-perubahan ini terjadi karena proses  pematangan atau kemunduran neorologis dan fisik individu; keluarga, lingkungan social, dan lingkungan pendidikannya; serta sebagai akibat interaksi antara perubahan fisik individu dan lingkungannya.
Perhatian terhadap kognisi sepanjang rentang kehidupan individu pertama kali dirintis oleh penelitian Jean Peaget dari Swiss dan teori yang dikembangkan Lev S. Vygotsky dari Rusia. Sementara Piaget telah banyak diketahui, masih sedikit yang mengetahui tentang kehidupan dan teori Vygotsky. Hal ini akan dibahas dalam bagian ini, yang tak kalah penting dari teori kerangka umum, data, dan ide terkini juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman mutakhir yang berimplikasi terhadap perkembangan kognitif.

a)      Asimilasi dan Akomodasi; Jean Piaget (1896-1980)
Jean Piaget mengadopsi perspektif yang berpengaruh, ia menetapkan bahwa intelektualitas sebagaimana fungsi-fungsi biologis, adalah hasil dari adaptasi evolusioner (evolutionary adaptation), dengan demikian maka jalan terbaik untuk memahami sifat dasar pikiran orang dewasa adalah melalui sudut pandang biologis dan evolusioner, melalui penelitian terhadap aktivitas mental sejak lahir, serta observasi terhadap perkembangan dan perubahannya sebagai upaya proses adaptasi terhadap lingkungan.
Prinsip-prinsip umum bagi Piaget, dua prinsip utama dalam perkembangan kognitif adalah organisasi dan adaptasi. Tahap-tahap Perkembangan Kognitif – Piaget:
·         Sensori-motorik = usia 0-2 tahun
Dunianya terbatas pada saat sekarang dan di sini belum mengenal bahasa, belum memiliki pikiran pada masa-masa awal, belum mampu memahami realitas objektif.
·         Pra-operasional = usia 2-7 tahun
Pemikirannya belum egosentris, pemikirannya didominasi oleh persepsi, intuisinya lebih mendominasi daripada pikiran logisnya, belum memiliki kemampuan konservasi.
·         Operasional-konkret = usia 7-11 tahun
Kemampuan konservasi, kemampuan mengklasifikasikan dan menghubungkan, pemahaman tentang angka, berpikir konkret, perkembangan pikiran tentang reversibilitas.
·         Operasional-formal = usia 11 tahun ke atas
Pikiran bersifat umum dan menyeluruh, berpikir proposional, kemampuan membuat hipotesis, perkembangan idealisme yang kuat.
b)      Pikiran dalam Masyarakat; Vygotsky (1896-1934)
Tahapan dalam perkembangan Vygotsky menerima tahapan perkembangan Piaget, namun menolak penekanan pada rangkaian yang ditetapkan secara genetik. Piaget meyakini bahwa perkembangan mendahului pembelajaran, sedangkan Vygotsky meyakini bahwa pembelajaran mendahului perkembangan.
Tahap perkembangan Vygotsky mengamati cara anak memilah-milih objek, seperti memilih balok berbeda ukuran, warna, dan bentuk. Anak yang lebih besar usia 7 tahun ke atas tampaknya memilih kriteria tertentu, misalnya warna. Vygotsky menunjukkan bahwa klasifikasi berubah mengikuti proses seleksi. Seorang anak mungkin mengambil sedikit balok biru, kemudian mengamati balok yang berbentuk segitiga. Anak usia prasekolah cenderung lebih mengorganisasikan objek secara tematik daripada taksonomik. Misalnya, jika anak yang lebih besar dan orang dewasa meletakkan hewan pada satu kategori, dan mainan pada kelompok tersendiri (klasifikasi taksonomik), anak kecil cenderung mengkasifikasikan mainan dengan rak buku, karena mainan bias diletakkan di tempat buku.
Teori Vigotsky tentang Bahasa;
·         Sosial (eksternal) = (sebelum usia 3 tahun)
Mengkspresikan pikiran dan emosi sederhana.
Mengontrol perilaku orang lain.
·         Egosentris = (usia 3-7 tahun)
Fase antara bicara eksternal dan internal.
Mengontrol perilaku, tetapi diekspresikan dengan keras.
·         Internal (inner) = (usia 7 tahun ke atas)
Pembicaraan dengan diri sendiri (self talk) yang memungkinkan pemikiran terarah.
Bahasa melibat fungsi mental yang lebih tinggi.[3]
  1. Pengertian Teori Belajar Gestalt
Setelah J.B. Watson, behaviorisme marak di kalangan psikolog Amerika dan sejak saat itu kebanyakan teoritisi besar, seperti Guthrie, Skinner, dan Hull menjadi penganut behaviorisme. Pada saat yang hampir bersamaan, ketika kaum behavioris menyerang instropeksi di Amerika, sekelompok psikolog mulai menyerang penggunaanya di Jerman. Kelompok psikolog di Jerman ini menamakan dirinya psikolog Gestalt. Jika gerakan behavioristik pertama kali diluncurkan lewat artikel Watson berjudul “Psychology as the Behaviorist Views It” yang muncu pada 1913, maka gerakan Gestalt pertama kali diluncurkan oleh Max Wertheimer tentang gerakan yang muncul pada 1912.
Meski Max Wertheimer (1880-1943) dianggap sebagai pendiri psikologi Gestalt, sejak awal dia sudah bekerja sama dengan dua orang yang diangggap juga sebagai bapak pendiri yakni Wolfgang Kohler (1887-1976) dan Kurt Koffka (1886-1941). Kohler dan Koffka berpartisipasi dalam eksperimen pertama yang dilakukan oleh Max Wertheimer. Meskipun ketiganya memberikan konstribusi sendiri-sendiri yang penting psikologi, ide-ide mereka selalu mirip satu sama lain.
Tampaknya seluruh gerakan Gestalt muncul dari pemikiran Wertheimer ketika dia sedang naik kereta api menuju ke Rhineland. Dia mendapat gagasan bahwa jika dua cahaya berkedip-kedip (hidup dan mati) pada tingkat tertentu, cahaya itu akan memberi kesan bagi pengamatnya bahwa satu cahaya itu bergerak maju dan mundur. Setelah turun dari kereta dia membeli stroboscope[4] yang dengan itu dia melakukan banyak eksperimen sederhana di kamar hotelnya. Dia memperdalam gagasan yang muncul saat di kereta api, yakni bahwa jika mata melihat stimuli dengan cara tertentu, penglihatan itu akan memberi ilusi gerakan, yang oleh Wertheimer dinamakan phi phenomenon. Penemunanya ini sangat berpengaruh terhadap sejarah psikologi.
Arti dari phi phenomenon adalah fenomena ini berbeda dari elemen yang menyebabkannya. Sensasi gerakan tidak dapat dijelaskan dengan menganalisis setiap unsur kedipan cahaya, yakni cahaya pada dan cahaya hidup; perasaan akan adanya gerakan akan muncul dari kombinasi kedua kedua elemen itu. Dengan kata lain, pengalaman fenomenologis (gerakan cahaya yang kelihatan) berasal dari pengalaman sensoris (cahaya) tetapi tidak dapat dipahami dengan menganalisis komponen-komponen pengalaman fenomenal ini. Artinya, pengalaman fenomenalogis adalah berbeda dari bagian-bagian yang menyusun pengalaman tersebut.
Gestalt berasal dari kata Jerman  yang berarti pola dan konfigurasi. Anggota aliran ini berbeda pendapat bahwa kita mengalami dunia secara menyerluruh dan bermakna. Kita tidak melihat stimuli terpisah namun stimuli itu dikelompokkan (diorganisasikan) bersama ke dalam satu konfigurasi yang bermakna, atau Gestalten (bentuk jamak dari Gestalt). Kita melihat manusia, mobil, pohon, dan bunga. Kita tidak melihat deretan dan kontur dan serpihan warna. Medan persepsi kita adalah komposisi keseluruhan yang tertata, atau Gestalten, dan seharusnya dijadikan subjek penelitian psikologis.
Pandangan Gestaltis adalah keseluruhan itu berbeda dari penjumlahan bagian-bagian atau membagi-bagi berarti mendistorsi. Anda tidak dapat mendapat kesan penuh dari lukisan Mona Lisa dengan melihat gambar tangan kirinya dahulu lalu gambar tangan kanannya lalu hidungnya, lalu mulutnya dan kemudian berusaha menyatukan pengalaman melihat. Anda tidak dapat memahami pengalaman mendengar orkestra simfoni dengan menganalisis kontribusi masing-masing musisi secara terpisah. Musik yang berasal dari orkestra adalah berbeda dengan jumlah musik yang dimainkan oleh setiap musisi.[5]
  1. Prinsip Belajar Gestalt
Karya paling signifikan tentang belajar oleh anggota aliran Gestalt adalah karya kohler antara 1913 dan 1917 di University of Berlin Anthropoid Station di Tenerife, salah satu kepulauan Canary. Karena psikolog Gestalt terutama adalah teoretisi medan yang tertarik pada fenomena perceptual, tidak mengejutkan jika mereka memandang belajar sebagai problem khusus dalam persepsi. Mereka mengasumsikan bahwa ketika suatu organism berhadapan dengan sebuah problem, akan muncul keadaan disekuilibrium kognitif dan keadaan ini akan terus berlanjut sampai problem terselesaikan. Karenanya, menurut psikolog Gestalt, disekuilibrium kognitif mengandung unsurmotivasional yang menyebabkan organism berusaha untuk mendapatkan kembali keseimbangan dalam sistem mentalnya.
Belajar menurut Gestaltis, adalah fenomena kognitif. Organisme “mulai melihat” solusi setelah memikirkan problem. Pembelajar memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme mendapatkan wawasan (insight) tentang solusi problem. Problem dapat eksis hanya dalam dua keadaan : terpecahkan atau tak terpecahkan.
Untuk menguji gagasan tentang belajar ini, kohler menggunakan sejumlah eksperimen kreatif. Satu percobaan adalah problem memecahkan jalan memutar dimana hewan dapat melihat tujuannya dengan jelas tetapi tidak bisa mencapainya secara langsung. Hewan itu harus berjalan memutar dan mengambil jalur lain untuk mendapatkan objek yang diinginkannya.
Percobaan kedua yang dipakai kohler mengharuskan organisme menggunakan alat untuk menjangkau objek yang diinginkannya. Misalnya, sebuah pisang diletakan diluar jangkauan si monyet sehingga si monyet itu harus mengggunakan tongkat untuk menggapainya atau menggunakan dua tongkat agar cukup panjang untuk menjangkaunya. Dalam masing-masing kasus, hewan itu punya semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem; ini adalah soal menyatukannya dengan cara yang tepat.[6]
  1. Pengertian Teori Belajar Konstruktif
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya.
Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Proses tersebut meliputi:
1. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang datang, dan terus berkembang.
2. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinci.
3. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.
4. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.
Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).
Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. Pada teori ini konsekuensinya adalah siswa harus memiliki ketrampilan unutk menyesuaikan diri atau adaptasi secara tepat.[7]


  1. Prinsip-prinsip Teori Belajar Konstruktif
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6. Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7. Mencari dan menilai pendapat siswa.
8. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.[8]







[1] Robert L. Solso, Otto H. Maclin, dan M. Kimberly Maclin, Cognitive Psychologhy  (Psikologi Kognitif, Edisi Kedelapan, Terjemahan), (Jakarta: Erlangga, cet ke-12 2007) hal. 14

[3] Robert L. Solso, Otto H. Maclin, dan M. Kimberly Maclin, Cognitive Psychologhy  (Psikologi Kognitif, Edisi Kedelapan, Terjemahan), (Jakarta: Erlangga, cet ke-12 2007) hal. 374.
[4] Alat yang digunakan untuk menyajikan stimuli visual pada tingkat tertentu.
[5] B.R. Hergenhahn dan Mathew H. Olson, Theories of Learning (Teori Belajat, Edisi Ketujuh, Terjemahan), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet ke-3 2010) hal. 282.
[6] B.R. Hergenhahn dan Mathew H. Olson, Theories of Learning (Teori Belajat, Edisi Ketujuh, Terjemahan), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet ke-3 2010) hal. 290
[7] http://abazariant.blogspot.com/2013/02/teori-belajar-konstruktivisme_21.html
[8] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar