- Pengertian Teori Belajar Kognitif
Salah
satu teori belajar yang dikembangkan selama abad ke-20 adalah teori belajar
kognitif, teori ini melibatkan proses berfikir secara komplek dan
mementingkan proses belajar. Menurut Drs. H. Baharuddin dan Esa Nur wahyuni
(2007: 89) yang menyatakan “aliran kognitif memandang kegiatan belajar bukan
sekedar stimulus dan respons yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu,
kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan mental yang ada di dalam individu
yang sedang belajar”. Kutipan tersebut di atas berarti bahwa belajar adalah
sebuah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat dan menggunakan
perilaku, sehingga perilaku yang tampak pada manusia tidak dapat diukur dan
diamati tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan
dan lain sebagainya.
Teori belajar kognitif
menurut Drs. Bambang Warsita yang beranggapan bahwa “Belajar adalah
pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman”.
Maksudnya bahwa belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak
selalu dapat dilihat sebagai tingkah laku. Dimana teori ini menekankan pada
gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dalam kontek
situasi secara keseluruhan.
Seperti juga di ungkapkan oleh Winkel (1996:53) bahwa “Belajar
adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan
pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif
dan berbekas.” Hal ini berarti bahwa perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh
pengalaman hidup yang dialami oleh manusia, dimana pengalaman tersebut bersifat
relatif menjadi proses belajar yang membekas dalam fikiran manusia. Selain itu
teori belajar kognitif memandang “belajar sebagai proses pemfungsian
unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami
stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan
pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah
suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri
manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk
memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku,
ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.[1]
- Teori Belajar Kognitif Menurut Para Tokoh
a)
Piaget
Menurut Piaget dalam buku “Teknologi
Pembelajaran” dari Drs. Bambang Warsita (2008:69) yang menjelaskan bahwa
perkembangan kognitif merupakan suatu prosess genetika yaitu proses yang
didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistem syaraf. Dalam buku
“Psikologi Pendidikan” karya Wasty Soemanto (1997:123) yang menyatakan teori
belajar piaget disebut cognitive-development yang memandang bahwa proses
berfikir sebagai aktivitas gradual dari pada fungsi intelektual dari kongkrit.
Belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu : asimilasi, akomodasi dan equilibrasi.
Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Proses belajar yang dialami seorang
anak berbeda pada tahap satu dan tahap lainnya yang secara umum semakin tinggi
tingkat kognitif seseorang maka semakin teratur dan juga semakin abstrak cara
berpikirnya. Oleh karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan
kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang
sesuai dengan tahapannya.
Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut
Piaget, antara lain:1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) memilih materi
pembelajaran; 3) menentukan topik-topik yang dapat dipelajari oleh peserta
didik; 4) menentukan dan merancang kegiatan pembelajaran sesuai topik; 5)
mengembangkan metode pembelajaran; 6) melakukan penilaian proses dan hasil
peserta didik.
b)
David Ausubel
Menurut Ausubel dalam buku karya Drs. Bambang Warsita bahwa
“belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasi secara non
arbitrer dan berhubungan
dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya”(2008:72). Hal ini berarti bahwa pembelajaran
bermakna merupakan suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada
konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif peserta didik.
Dimana Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta
saja, tetapi merupakan kegiatan yang menghubungkan konsep-konsep untuk
menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami
secara baik dan tidak mudah dilupakan. Jadi guru harus menjadi perancang
pembelajaran dan pengembang program pembelajaran dengan berusaha mengetahui dan
menggali konsep-konsep yang dimiliki peserta didik dan membantu memadukan
secara harmonis dengan pengetahuan baru yang dipelajari.
Langkah-langkah pembelajaran bermakna menurut Ausebel,dalam
merancang pembelajaran antara lain: 1) menentukan tujuan pembelajaran; 2)
melakukan identifikasi peserta didik; 3) memilih materi pembelajaran sesuai
karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk konsep inti; 4)
menentukan topik peserta didik dalam bentuk advance organizers; 5)
mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur topik
pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian proses dan
hasil belajar peserta didik.
c)
Jerome Bruner
Berdasarkan Drs. Wasty Soemanto (1997:127) dan Drs. Bambang warsita(2008:71)
dimana Jarome Bruner mengusulkana teori yang disebutnya free discovery
learning. Teori ini bertitik tolak pada teori kognitif, yang menyatakan
belajar adalah perubahan persepsi dan pemahan. Maksudnya, teori ini menjelaskan
bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk konsep, teori,
ide, definisi dan sebagainya melalui contoh-contoh yang menggambarkan atau
mewakili aturan yang menjadi sumbernya.
Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut
Bruner antara lain: 1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) melakukan
identifikasi peserta didik; 3) memilih materi pembelajaran; 4) menentukan topik
secara induktif; 5) mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik;
6) mengatur topik pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan
penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
d)
Albert Bandura
Bandura berpendapat tentang teori kognitif sosial. Seperti yang
dijelaskan dalam buku karya John W. Santrock (2007:285) yang menyatakan bahwa
teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan faktor sosial dan
kognitif dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran.
Hal ini berarti bahwa faktor kognitif berupa ekspektasi murid untuk meraih
keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan murid terhadap
perilaku orang tuanya. Jadi menurut Bandura antara faktor kognitif/person,
faktor lingkungan dan faktor perilaku mempengaruhi satu sama lain dan
faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran.
Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan
kecerdasan.
e)
Kurt Lewin
Juga merupakan tokoh
teori belajar kognitif adalah Kurt Lewin yang menyatakan tentang teori belajar
medan kognitif (cognitive-field learning theory). Seperti yang di jelaskan oleh
Nana Sudjana dalam bukunya yang menjelaskan bahwa dalam teori belajar medan kognitif,
“belajar didefinisikan sebagaai proses interaksional dimana pribadi menjangkau
wawasan-wawasan baru dan atu merubah sesuatu yang lama”(1991:97). Hal ini
berarti bahwa seseorang harus peduli dengan diri mereka sendiri dan juga dengan
orang lain, dengan belajar secara afektif sehingga diharapkan mereka atau
seorang guru bisa mengerti dengan dirinya sendiri dan dapat melaksanakan tugas
dengan lebih baik selain itu juga mengembangkan sistem psikologis yang
bermanfaat dalam berurusan dengan anak-anak dan pemuda dalam situasi belajar.[2]
- Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif secara spesifik difokuskan pada perubahan dalam
cara berpikir, memecahkan masalah, memori, dan inteligensi.
Kognisi manusia ditinjau dari sudut
pandang perkembangan, adalah hasil dari rangkaian tahap-tahap perkembangan yang
dimulai sejak tahun-tahun awal permulaan pertumbuhan. Kognisi berkembang dalam
bentuk peningkatan mengikuti pola-pola yang teratur sejak bayi hingga dewasa,
dan beberapa kemampuan kognitif mengalami penurunan pada masa tua. Perubahan-perubahan ini terjadi karena
proses pematangan atau kemunduran
neorologis dan fisik individu; keluarga, lingkungan social, dan lingkungan
pendidikannya; serta sebagai akibat interaksi
antara perubahan fisik individu dan lingkungannya.
Perhatian terhadap kognisi sepanjang
rentang kehidupan individu pertama kali dirintis oleh penelitian Jean Peaget
dari Swiss dan teori yang dikembangkan Lev S. Vygotsky dari Rusia. Sementara
Piaget telah banyak diketahui, masih sedikit yang mengetahui tentang kehidupan
dan teori Vygotsky. Hal ini akan dibahas dalam bagian ini, yang tak kalah
penting dari teori kerangka umum, data, dan ide terkini juga memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman mutakhir yang berimplikasi
terhadap perkembangan kognitif.
a)
Asimilasi
dan Akomodasi; Jean Piaget (1896-1980)
Jean Piaget mengadopsi perspektif yang
berpengaruh, ia menetapkan bahwa intelektualitas sebagaimana fungsi-fungsi
biologis, adalah hasil dari adaptasi evolusioner (evolutionary adaptation), dengan
demikian maka jalan terbaik untuk memahami sifat dasar pikiran orang dewasa
adalah melalui sudut pandang biologis dan evolusioner, melalui penelitian
terhadap aktivitas mental sejak lahir, serta observasi terhadap perkembangan
dan perubahannya sebagai upaya proses adaptasi terhadap lingkungan.
Prinsip-prinsip umum bagi Piaget, dua
prinsip utama dalam perkembangan kognitif adalah organisasi dan adaptasi. Tahap-tahap Perkembangan Kognitif – Piaget:
·
Sensori-motorik
= usia 0-2 tahun
Dunianya
terbatas pada saat sekarang dan di sini belum mengenal bahasa, belum memiliki
pikiran pada masa-masa awal, belum mampu memahami realitas objektif.
·
Pra-operasional
= usia 2-7 tahun
Pemikirannya
belum egosentris, pemikirannya didominasi oleh persepsi, intuisinya lebih
mendominasi daripada pikiran logisnya, belum memiliki kemampuan konservasi.
·
Operasional-konkret
= usia 7-11 tahun
Kemampuan
konservasi, kemampuan mengklasifikasikan dan menghubungkan, pemahaman tentang
angka, berpikir konkret, perkembangan pikiran tentang reversibilitas.
·
Operasional-formal
= usia 11 tahun ke atas
Pikiran
bersifat umum dan menyeluruh, berpikir proposional, kemampuan membuat
hipotesis, perkembangan idealisme yang kuat.
b)
Pikiran
dalam Masyarakat; Vygotsky (1896-1934)
Tahapan
dalam perkembangan Vygotsky menerima tahapan perkembangan Piaget, namun menolak
penekanan pada rangkaian yang ditetapkan secara genetik. Piaget meyakini bahwa
perkembangan mendahului pembelajaran, sedangkan Vygotsky meyakini bahwa
pembelajaran mendahului perkembangan.
Tahap perkembangan Vygotsky mengamati cara anak memilah-milih objek, seperti memilih balok berbeda
ukuran, warna, dan bentuk. Anak yang lebih besar usia 7 tahun ke atas tampaknya
memilih kriteria tertentu, misalnya warna. Vygotsky menunjukkan bahwa klasifikasi berubah
mengikuti proses seleksi. Seorang anak mungkin mengambil sedikit balok biru,
kemudian mengamati balok yang berbentuk segitiga. Anak usia prasekolah
cenderung lebih mengorganisasikan objek secara tematik daripada taksonomik.
Misalnya, jika anak yang lebih besar dan orang dewasa meletakkan hewan pada
satu kategori, dan mainan pada kelompok tersendiri (klasifikasi taksonomik),
anak kecil cenderung mengkasifikasikan mainan dengan rak buku, karena mainan
bias diletakkan di tempat buku.
Teori Vigotsky tentang Bahasa;
·
Sosial
(eksternal) = (sebelum usia 3 tahun)
Mengkspresikan
pikiran dan emosi sederhana.
Mengontrol
perilaku orang lain.
·
Egosentris
= (usia 3-7 tahun)
Fase
antara bicara eksternal dan internal.
Mengontrol
perilaku, tetapi diekspresikan dengan keras.
·
Internal
(inner) = (usia 7 tahun ke atas)
Pembicaraan
dengan diri sendiri (self talk) yang memungkinkan pemikiran terarah.
Bahasa melibat fungsi mental yang lebih tinggi.[3]
- Pengertian Teori Belajar Gestalt
Setelah J.B. Watson, behaviorisme
marak di kalangan psikolog Amerika dan sejak saat itu kebanyakan teoritisi
besar, seperti Guthrie, Skinner, dan Hull menjadi penganut behaviorisme. Pada
saat yang hampir bersamaan, ketika kaum behavioris menyerang instropeksi di
Amerika, sekelompok psikolog mulai menyerang penggunaanya di Jerman. Kelompok
psikolog di Jerman ini menamakan dirinya psikolog Gestalt. Jika gerakan
behavioristik pertama kali diluncurkan lewat artikel Watson berjudul “Psychology
as the Behaviorist Views It” yang muncu pada 1913, maka gerakan Gestalt
pertama kali diluncurkan oleh Max Wertheimer tentang gerakan yang muncul pada
1912.
Meski Max Wertheimer (1880-1943)
dianggap sebagai pendiri psikologi Gestalt, sejak awal dia sudah bekerja sama
dengan dua orang yang diangggap juga sebagai bapak pendiri yakni Wolfgang
Kohler (1887-1976) dan Kurt Koffka (1886-1941). Kohler dan Koffka
berpartisipasi dalam eksperimen pertama yang dilakukan oleh Max Wertheimer.
Meskipun ketiganya memberikan konstribusi sendiri-sendiri yang penting psikologi,
ide-ide mereka selalu mirip satu sama lain.
Tampaknya seluruh gerakan Gestalt
muncul dari pemikiran Wertheimer ketika dia sedang naik kereta api menuju ke
Rhineland. Dia mendapat gagasan bahwa jika dua cahaya berkedip-kedip (hidup dan
mati) pada tingkat tertentu, cahaya itu akan memberi kesan bagi pengamatnya
bahwa satu cahaya itu bergerak maju dan mundur. Setelah turun dari kereta dia
membeli stroboscope[4]
yang dengan itu dia melakukan banyak eksperimen sederhana di kamar
hotelnya. Dia memperdalam gagasan yang muncul saat di kereta api, yakni bahwa
jika mata melihat stimuli dengan cara tertentu, penglihatan itu akan memberi
ilusi gerakan, yang oleh Wertheimer dinamakan phi phenomenon. Penemunanya
ini sangat berpengaruh terhadap sejarah psikologi.
Arti dari phi phenomenon adalah
fenomena ini berbeda dari elemen yang menyebabkannya. Sensasi gerakan tidak
dapat dijelaskan dengan menganalisis setiap unsur kedipan cahaya, yakni cahaya
pada dan cahaya hidup; perasaan akan adanya gerakan akan muncul dari kombinasi
kedua kedua elemen itu. Dengan kata lain, pengalaman fenomenologis (gerakan
cahaya yang kelihatan) berasal dari pengalaman sensoris (cahaya) tetapi tidak
dapat dipahami dengan menganalisis komponen-komponen pengalaman fenomenal ini.
Artinya, pengalaman fenomenalogis adalah berbeda dari bagian-bagian yang
menyusun pengalaman tersebut.
Gestalt berasal dari kata
Jerman yang berarti pola dan
konfigurasi. Anggota aliran ini berbeda pendapat bahwa kita mengalami dunia
secara menyerluruh dan bermakna. Kita tidak melihat stimuli terpisah namun
stimuli itu dikelompokkan (diorganisasikan) bersama ke dalam satu konfigurasi
yang bermakna, atau Gestalten (bentuk jamak dari Gestalt). Kita melihat
manusia, mobil, pohon, dan bunga. Kita tidak melihat deretan dan kontur dan
serpihan warna. Medan persepsi kita adalah komposisi keseluruhan yang tertata,
atau Gestalten, dan seharusnya dijadikan subjek penelitian psikologis.
Pandangan Gestaltis adalah
keseluruhan itu berbeda dari penjumlahan bagian-bagian atau membagi-bagi
berarti mendistorsi. Anda tidak dapat mendapat kesan penuh dari lukisan Mona
Lisa dengan melihat gambar tangan kirinya dahulu lalu gambar tangan kanannya
lalu hidungnya, lalu mulutnya dan kemudian berusaha menyatukan pengalaman
melihat. Anda tidak dapat memahami pengalaman mendengar orkestra simfoni dengan
menganalisis kontribusi masing-masing musisi secara terpisah. Musik yang
berasal dari orkestra adalah berbeda dengan jumlah musik yang dimainkan oleh
setiap musisi.[5]
- Prinsip Belajar Gestalt
Karya paling signifikan tentang
belajar oleh anggota aliran Gestalt adalah karya kohler antara 1913 dan 1917 di
University of Berlin Anthropoid Station di Tenerife, salah satu kepulauan
Canary. Karena psikolog Gestalt terutama adalah teoretisi medan yang tertarik
pada fenomena perceptual, tidak mengejutkan jika mereka memandang belajar
sebagai problem khusus dalam persepsi. Mereka mengasumsikan bahwa ketika suatu
organism berhadapan dengan sebuah problem, akan muncul keadaan disekuilibrium
kognitif dan keadaan ini akan terus berlanjut sampai problem terselesaikan.
Karenanya, menurut psikolog Gestalt, disekuilibrium kognitif mengandung
unsurmotivasional yang menyebabkan organism berusaha untuk mendapatkan kembali
keseimbangan dalam sistem mentalnya.
Belajar menurut Gestaltis, adalah
fenomena kognitif. Organisme “mulai melihat” solusi setelah memikirkan problem.
Pembelajar memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan
menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke
cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme
mendapatkan wawasan (insight) tentang solusi problem. Problem dapat
eksis hanya dalam dua keadaan : terpecahkan atau tak terpecahkan.
Untuk menguji gagasan tentang
belajar ini, kohler menggunakan sejumlah eksperimen kreatif. Satu percobaan
adalah problem memecahkan jalan memutar dimana hewan dapat melihat tujuannya
dengan jelas tetapi tidak bisa mencapainya secara langsung. Hewan itu harus
berjalan memutar dan mengambil jalur lain untuk mendapatkan objek yang
diinginkannya.
Percobaan kedua yang dipakai kohler
mengharuskan organisme menggunakan alat untuk menjangkau objek yang diinginkannya.
Misalnya, sebuah pisang diletakan diluar jangkauan si monyet sehingga si monyet
itu harus mengggunakan tongkat untuk menggapainya atau menggunakan dua tongkat
agar cukup panjang untuk menjangkaunya. Dalam masing-masing kasus, hewan itu
punya semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem; ini adalah soal
menyatukannya dengan cara yang tepat.[6]
- Pengertian Teori Belajar Konstruktif
Teori
Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat
generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda
dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang
bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami
belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan
memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya.
Piaget
menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan
kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Proses tersebut meliputi:
1.
Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan
terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema
juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan
yang datang, dan terus berkembang.
2. Asimilasi
adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep
awalnya, hanya menambah atau merinci.
3. Akomodasi
adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.
4. Equilibrasi
adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan
pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan intelek
seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan
akomodasi.
Lebih
jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh
seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun
penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Bahkan, perkembangan
kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri
merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan
keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).
Dari pandangan
Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap
tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda
berdasarkan kematangan intelektual anak. Pada teori ini konsekuensinya adalah
siswa harus memiliki ketrampilan unutk menyesuaikan diri atau adaptasi secara
tepat.[7]
- Prinsip-prinsip Teori Belajar Konstruktif
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam
belajar mengajar adalah:
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan
keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3. Murid aktif
megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep
ilmiah.
4. Guru sekedar membantu
menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5. Menghadapi masalah yang
relevan dengan siswa
6. Struktur pembelajaran
seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7. Mencari dan menilai
pendapat siswa.
8. Menyesuaikan kurikulum
untuk menanggapi anggapan siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak
boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus
membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu
proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna
dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar
menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru
dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan
dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.[8]
[1]
Robert L.
Solso, Otto H. Maclin, dan M. Kimberly Maclin, Cognitive Psychologhy (Psikologi Kognitif, Edisi Kedelapan,
Terjemahan), (Jakarta: Erlangga, cet ke-12 2007) hal. 14
[3] Robert L.
Solso, Otto H. Maclin, dan M. Kimberly Maclin, Cognitive Psychologhy (Psikologi Kognitif, Edisi Kedelapan,
Terjemahan), (Jakarta: Erlangga, cet ke-12 2007) hal. 374.
[4] Alat yang
digunakan untuk menyajikan stimuli visual pada tingkat tertentu.
[5] B.R.
Hergenhahn dan Mathew H. Olson, Theories of Learning (Teori Belajat, Edisi
Ketujuh, Terjemahan), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet ke-3 2010)
hal. 282.
[6]
B.R. Hergenhahn
dan Mathew H. Olson, Theories of Learning (Teori Belajat, Edisi Ketujuh,
Terjemahan), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet ke-3 2010) hal. 290
[7]
http://abazariant.blogspot.com/2013/02/teori-belajar-konstruktivisme_21.html
[8]
Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar