Sabtu, 18 Januari 2014

Prinsip-prinsi dalam Belajar



A. PRINSIP FOKUS DAN ORGANISASI PENGAJARAN
PRINSIP FOKUS
Seorang guru mengajarkan bukti dalil Phytagoras denagn menyuruh anak mempelajarinya dari buku. Anak-anak akan berusaha mengikuti tiap langkah pembuktian dengan harapan akan memahaminya.
Guru lain menggambar segitiga siku-siku di papan tulis dan menulis bujur sangkar pada tiap sisi, lalu mengatakan pada luas bujur pada sisi miring sama dengan jumlah luas kedua bujur sangkar lainnya, lalu bertanya bagaimanakah kiranya kita dapat membuktikannya. Pelajaran ini mempunyai fokus, suatu pusat perhatian, suatu problema yang memusatkan perhatian, pikiran dan kegiatan anak. Pelajaran yang diberikan oleh guru pertama tidak mempunyai fokus, murid-murid tidak dipikat oleh suatu masalah hanya mencoba memahami, bahkan menghafal ke arah-arah pembuktian.
Pelajaran mengandung makna dan efektif jika diorganisasi suatu fokus.
CIRI-CIRI FOKUS YANG BAIK
Fokus yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Fokus itu membangkitkan suatu tujuan.
Kemauan itu akan bangkit kalau ada fokus pelajaran disamping konteks yang baik. Seluk-beluk tata bahasa, ejaan, gaya bahasa akan lebih diperhatikan anak jika mereka mengeluarkan surat kabar sendiri atau mengarang untuk majalah atau siaran radio.
2.      Fokus memberi kebulatan dalam pelajaran.
Psikologi menunjukan bahwa kebulatan atau unity adalah satu ciri pelajaran yang efektif. Mengikuti suatu kalimat lebih mudah daripada sejumlah suku kata yang tak berarti. Jadi “metode keseluruhan” lebih bermanfaat daripada “metode bagian”. Akan tetapi ternyata sering “metode keseluruhan” tidak memberikan hasil yang diharapkan. Apa sebabnya? Orang mempunyai pengertian yang salah tentang keseluruhan. Keseluruhan bukanlah sejumlah bahan yang luas, yang terdiri dari bagian-bagian yang lepas. Keseluruhan harus merupakan kesulitan, bagian-bagiannya harus berhubungan erat, harus ada integrasi dalam keseluruhan itu. Dan murid-murid harus melihat dan memahami kesulitan dalam keseluruhan itu.
Kita dapat menyuruh anak menghafal bilangan 1 4 9 11 25 36 49 64 81. Anak-anak akan menghafalnya dengan susah payah. Akan tetapi jika dikatakan bahwa angka-angka itu disusun menurut suatu prinsip dan anak-anak menemukan prinsip itu (yaitu tersusun dari kuadrat 1, 2, 3 dan seterusnya) maka hasil belajar jauh berbeda. Di sini diberi fokus dalam pelajaran itu. Jadi secara praktis dapat dikatakan pelajaran berhasil jika anak-anak melihat suatu pola, suatu struktur dalam suatu keseluruhan bahan yang dipelajarinya. Keseluruhan yang bulat tidak ditentukan oleh luasnya, tetapi oleh strukturnya.
Kalau anak-anak disuruh mempelajari sejumlah halaman dari buku, maka usahanya tidak terpusat. Lain halnya jika anak membaca buku-buku, brosur, laporan dan sebagainya untuk mencari suatu keterengan tertentu, maka disini ada fokus dan akan memberi hasil yang lebih baik.
Anak-anak dapat disuruh mempelajari tentang serangga sekedar untuk menguasai isi buku. Tetapi bila anak-anak dihadapkan dengan suatu pertanyaan bahwa “manusia senantiasa memerangi serangga untuk menguasai dunia ini” maka pelajaran mendapat suatu fokus yang memberi kebulatan kepada usaha anak.
3.      Fokus mengorganisasi pelajaran sebagai proses penyelidikan dan penemuan (exploration and discovery)
Fokus yang baik menonjolkan suatu pertanyaan yang harus dijawab, suatu masalah yang harus dipecahkan, suatu prinsip yang harus dipahami atau digunakan.
Anak-anak mempelajari tentang manusia purbakala yang masih hidup dalam gua, maka dari anak-anak timbul pertanyaan yang menarik, yang jawabannya mungkin belum diketahui oleh guru sendiri dan justru karena itu akan diselidiki bersama dengan murid-murid. pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah hal-hal yang harus dikuasai, seperti pertanyaan-pertanyaan dalam banyak buku-buku pelajaran yang menentukan hal-hal mana yang penting yang harus dikenal.
Guru yang baik selalu berikhtiar agar anak-anak belajar dengan memecahkan soal-soal serta mencari jawaban-jawaban. Suatu hukum ilmu alam atau tata bahasa sebaiknya ditemukan bagaimana dan apabila menggunakannya. Demikian pula dengan segala mata pelajaran lainnya.
PRINSIP FOKUS DAN PENGAJARAN MODERN
 Di suatu sekolah mungkin anak-anak berkaryawisata, melakukan eksperimen-eksperimen, mengumpulkan keterangan-keterangan, namun pelajaran tidak berhasil. Konteks pelajaran sudah baik, akan tetpi pelajaran itu tidak diberi fokus tertentu. Tak ada sesuatu yang memusatkan perhatian anak atau yang mengarahkan segala kegiatan anak.
Salah satu usaha ialah memberikan “proyek” yang menerobos batas-batas mata pelajaran. Anak-anak yang mempersiapkan suatu pesta harus mengadakan perhitungan-perhitungan, mengarang surat, menciptakan gambar dan sebagainya. Kegiatan mereka mempunyai fokus tertentu.  Sambil mempersiapkan pesta itu mereka belajar berhitung, mengarang, menggambar, berbicara, dan sebagainya. Proyek memberikan suatu sistematik dalam pelajaran, akan tetapi ada bahayanya proyek itu tidak vital bagi anak-anak. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1.      Untuk pelajaran yang efektif perlu sekali konteks yang luas serta menarik minat anak.
Pelajaran dapat diberikan dalam bentuk proyek yang merangsang anak untuk menyelidiki dan menemukan jawaban atau keterangan tentang masalah-masalah tertentu.
2.      Bahan mata pelajaran seperti ilmu alam, kimia, ilmu pasti yang sangat penting, lebih penting dari fotografi atau memasak, karena hasil-hasil mata pelajaran itu dapat digunakan dalam banyak situasi hidup. Akan tetapi ilmu alam, kimia, ilmu pasti dan lain-lain dapat dipelajari melalui fotografi atau bermasak sebagai proyek. Jadi proyek dapat digunakan sebagai prosedur untuk mengajarkan macam-macam bahan pelajaran.
3.      Pengertian dan pemahaman yang sistematis serta lengkap tentang tiap-tiap mata pelajaran baru tercapai setelah study yang bertahun-tahun lamanya, jadi pasti tidak tercapai oleh anak-anak, metode apapun digunakan, metode mata pelajaran atau metode proyek. Akan tetapi dengan proyek sudah diberi dasar dan permulaan yang baik ke arah itu.
4.      Yang pokok ialah dalam pelajaran apapun selalu harus ada konteks yang luas serta menarik dengan fokus yang dinamis, yang memusatan usaha anak.

A.     PRINSIP FOKUS DAN PENILAIAN PENGAJARAN
SKALA PENGGUNAANNYA
Dibawah ini kami berikan skala untuk menilai sampai manakah prinsip fokus digunakan dalam pengajaran. Tentu saja tidak setiap cara mengajar dapat dengan tepat diukur dengan skala itu. Skala ini gunanya sebagai alat untuk menganalisis dan menilai mutu pengajaran ditinjau dari segi prinsip fokus.
1.      Tugas murid-murid merupakan sejmlah halaman dari buku ajar, atau latihan-latihan yang harus dibuat, dan sebagainya. Organisasi pelajaran sederhana, merupakan rutin.
2.      Fokus merupakan topik dengan bacaan tambahan. Pelajaran lebih luas akan tetapi tujuan memperoleh dan menghafal sejumlah pengetahuan.
3.      Fokus merupakan pengertian yang luas atau problema dapat dihubungkan dengan pengakaman anak, memberi banyak variasi dalam pengajaran dan cenderung melepaskan diri dari rutin dan hafalan.
4.      Fokus merupakan pengertian yang harus dipahami atau problema yang harus dipecahkan, atau keterampilan yang harus dikuasai agar dapat melaksanakan suatu usaha atau pekerjaan dengan sukses. 
Tingkatan Pertama
Kalau diselidiki kebanyakan cara-cara mengajar masih pada tingkatan ini, yakni fokus pelajaran ialah mempelajari sejumlah halaman dari buku ajar.
1.      Penilaian
Mengajar pada tingkat inilah yang paling sederhana dan mudah dilakukan serta meminta pikiran dan tenaga yang minimal dari pihak guru. Akan tetapi konteks maupun fokusnya sangat kurang.
(a)    Pelajaran tidak menunjukan suatu kebulatan. Tujuan muridnya hanya sekedar menguasai bahan dalam buku pelajaran dan tujuan guru menyelesaikan buku itu. Tak ada masalah-masalah pokok yang memberi kebulatan dan hubungan-hubungan dalam bahan pelajaran. Pelajaran sama, uniform bagi semua anak.
(b)   Organisasi pelajaran serupa ini memaksakan anak-anak menghafal, bukan mencari, menyelidiki dan menemukan jawaban, dengan sendirinya anak-anak tidak diajak berfikir. Kalaupun berpikir, mereka mengikuti cara berpikir menurut buku atau guru. Yang penting bagi anak ialah menghafal isi dan mengingat isi buku.
(c)    Tak ada dinamik dalam pelajaran, karena tidak dibangkitkan dorongan dan hasrat anak untuk belajar.
2.      Langkah-langkah ke arah perbaikan
Dalam memberikan tugas, guru mendiskusikan pokok inti dan membantu anak-anak bagaimana membaca pelajaran untuk membahas pokok. Ia akan juga dapat memikirkan hal-hal lain seperti minat dan pengalaman anak-anak yang bertalian dengan pokok tersebut. Sekarang pelajaran mempunyai tujuan tertentu karena ada suatu pokok atau masalah yang dihadapi dan tidak merupakan hafalan untuk diresitasi.
Tingkatan Kedua
Penggunaan topik-topik sebagai fokus atau pusat dalam pelajaran merupakan suatu kemajuan bila diketahui kebaikannya dan dapat dielakkan kekurangannya.
1.      Penilaian
Organisasi pelajaran berbentuk topik hanya berhasil baik, bila organisasi digunakan sebagai alat untuk memberi makna kepada pelajaran. Namun ada kalanya topik disalahtafsirkan sebagai bagian-bagian atau kursus dari belajar.
Topik sebagai fokus pelajaran menimbulkan tiga pertanyaan:
(a)    Apakah topik itu benar-benar suatu kebulatan yang efektif dan fungsional?
(b)   Apakah topik itu membawa anak ke arah studi dimana ia berangsur-angsur menemukan dan lebih memahami ide atau pengertian, ataukah ia hanya menghafal data tertentu?
(c)    Apakah topik itu membangkitkan suatu tujuan?
2.      Langkah-langkah ke arah perbaikan
Bahan pelajaran seperti ditentukan oleh rencana pelajaran atau buku ajar harus diolah, menjadi topik yang baik dengan menghindarkan kelemahan-kelemahannya. Kadang-kadang diadakan pembedaan topik atau unit yang bercorak subject matter (mata pelajaran) dan yang bercorak experience (pengalaman).
Tingkatan Ketiga
Pada tingkatan ini fokus pelajaran merupakan pengertian atau prinsip-prinsip yang harus dipahami atau problema yang harus diselidiki dan dipecahkan.
1.      Penilaian
Suatu contoh pelajaran pada tingkatan ini adalah unit mengenai air, dengan prinsip utama bahwa kelangsungan hidup di dunia ini bergantung pada peredaran air, dengan prinsip bahwa air salah satu kebutuhan hidup makhluk-makhluk di dunia ini dan bahwa air itu terdapat dalam berbagai bentuk. Didalam unit ini terdapat problem-problema seperti bagaimana binatang, tanaman, dan manusia menggunakan air.
Unit ini dengan sengaja ditujukan untuk pemikiran, pemahaman, wawasan, dan bukan hafalan. Pelajaran ini mempunyai beberapa prinsip dan problema sebagai fokus. Anak dirangsang untuk melakukan bermacam-macam kegiatan seperti mengamati dan sebagainya. Minat dan inisiatif anak-anak dibangkitkan.
2.      Langkah-langkah ke arah perbaikan
Bagaimana cara melakukan pengajaran berdasarkan pengertian problema ini telah dikemukakan diatas. Yang perlu diingat ialah, bahwa suatu problema yang dikemukakan dalam buku atau oleh guru tidak dengan sendirinya akan merupakan problema dalam pikiran anak, kecuali dengan usaha yang cermat serta sengaja dari pihak guru. Organisasi pelajaran seperti unit tentang air itu tidak secara otomatis merangsang anak belajar dengan hasil-hasil yang autentik. Itu sebabnya unit berdasarkan problema yang datang dari murid sangat efektif karena benar-benar mereka rasakan. Itu sebabnya setiap unit harus diolah kembali oleh guru untuk memberi konteks dan fokus yang baik.
Tingkatan Keempat
Perbedaan esensial antara tingkatan ini dengan yang sebelumnya ialah bahwa fokus disini lebih fleksibel dan lebih erat dihubungkan dari kegiatan-kegiatan anak yang sedang berlangsung. Perencanaan yang cermat memang perlu, akan tetapi tidak dilakukan jauh sebelum unit itu dijalankan seperti pada tingkatan ketiga. Dalam tingkatan keempat ini pelajaran mengandung makna karena kedalamnya dimasukkan apa yang dipikirkan, dibicarakan, dilakukan dan yang menarik minat anak-anak pada suatu saat.
Akhirnya kami ingin mengulang lagi ciri-ciri fokus yang baik.
(a)    Fokus memberi hubungan dalam segala sesuatu yang dipelajari. Dalam pelajaran terdapat suatu garis sentral yang akan dijalani.
(b)   Organisasi pelajaran ditujukan kepada usaha memperoleh wawasan dan pemahaman, bukan hafalan sejumah bahan pelajaran.
(c)    Tujuan dan kemauan belajar dibangkitkan secara efektif. 
B.     Prinsip Sosialisai dan Organisasi Pelajaran
Prinsip ini berbunyi: Makna dan efektivitas pelajaran untuk sebagian besar bergantung pada rangka dan suasana sosial dimana pelajaran itu diberikan, atau dengan kata lain, dengan kerja kelompok makna dan efektivitas pelajaran dapat dipertinggi.
Prinsip itu sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Tak dapat disangkal bahwa pertukaran pikiran antara sejumlah manusia memberi pemikiran dan hasil pelajaran yang lebih baik. Itu sebabnya masalah-masalah yang pelik lebih mudah dipecahkan oleh suatu kelompok dalam musyawarah.
Dalam kerja kelompok yang baik terdapat ketertiban, harmoni saling pengertian tetapi disamping itu kelompok harus menghadapi suatu masalah yang mengandung makna, yang mereka pecahkan bersama dalam suasana gotong-royong.
CIRI-CIRI SOSIALISASI YANG BAIK
            Penyelidikan tentang pengaruh sosial terhadap hasil belajar telah dijalankan sejak beberapa tahun dan hinga kini menarik minat dengan nama dinamika kelompok atau group dinamis. Dibawah ini akan diberikan beberapa ciri sosialisai yang baik.
1.      Fasilitas Sosial
      Seseorang bekerja dengan lebih baik bila dilakukannya bersama dengan orang lain. Beradanya seseorang didalam kelompok menyebabkannya bekerja dengan lebih cepat, lebih cermat. Keuntungan berkat adanya kelompok disebut “penambahan sosial”. Keuntungan bertambah besar jika anggota kelompok dapat melihat apa yg dilakukan oleh anggota-anggota lain dan kalau mereka bekerja dengan bebas. Seluk-beluk “penambahan sosial” belum dipahami seluruhnya.
Tiap guru harus tahu pula tentang kemungkinan sosial momentum, yakni ia tak perlu memberi segala dorongan agar anak-anak bekerja atau belajar. Adanya anak-anak yang pandai menari atau bernyanyi mempelajarinya. Tentu hal demikian tidak timbul dengan sendirinya dan memerlukan organisasi dan perenaraan dari pihal guru. Hasil itu tentu tidak tercapai kalau anak-anak pandai dipuji-puji dengan menimbulkan rasa rendah pada anak-anak yang belum mengetahuinya. Fasilitas sosial (social facilities) akan timbul jika anak-anak yang telah menguasai sesuatu menjadi bukti-bukti bahwa mencapai sesuatu itu menggembirakan berharga dan mungkin tercapai.
2.      Dorongan Rangsangan
Banyak penyelidikan telah dijalankan tentang pengaruh bermacam-macam rangsangan seperti pujian, celaan, hukuman, hadiah, persaingan, kerjasama, dan sebagainya. Penyelidikan tidak menunjukan yang mana yang baik atau kurang baik, melainkan memberi penjelasan tentang pribadi serta sosial yang menguntungkan bagi hal belajar. Yang perlu di kemudian adalah hal-hal sebagai berikut :
a.       Penghargaan atas hasil pekerjaan dan usaha anak selalu perlu.
b.      Rangsangan positif (seperti pujian, penghargaan) lebih baik daripada rangsangan negative (seperti kecaman, hukuman).
c.       Pengaruh pujian dan penghargaan rupanya sangat bergantung kepada pribadi orang yang memberikannya. Orang itu harus dipercayai, dihormati. Penghargaan dapat juga datang dari anak-anak sendiri.
Bila anak-anak bekerjasama untuk menyelesaikan suatu tugas, hasilnya akan besar jika hubungan sosial baik, dan jika diberi penghargaan atas hasil-hasil yang dicapai.
3.      Kelompok Demokratis
Penyelidikan akhir-akhir ini membuktikan bahwa organisasi pelajaran yang demokratis lebih baik hasilnya daripada yang otokratis.
Situasi bekerja dan belajar yang sebaiknya ialah bila suatu kelompok merasa bahwa suatu pekerjaan mereka lakukan atas inisiatif dan hasrat sendiri. Mereka merasa bertanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan itu sebaik mungkin. Pemimpin kelompok hendaknya mengambil sikap “manusia terhadap manusia” dan turut membantu untuk menyelesaikan pekerjaan.
Sebaiknya hasil pekerjaan rendah, jika pimpinan memerintahkan atau menugaskan mereka melakukan sesuatu menurut cara-cara yang ditentukan. Situasi yang “otokratis” serupa ini akan menimbulkan rasa agresif atau kepatuhan.
Penyelidikan-penyelidikan itu diperkuat oleh eksperimen-eksperimen dalam industri. Dengan partisipasi dalam perencaan dan sebagainya para pekerja terbentuk merata yang baik dan hasil pekerjaan melonjak. Organisasi “demokratis” ternyata memberi efek yang lebih baik daripada faktor-faktor lain seperti penerengan istirahat ataupun bayaran tambahan.
Walaupun terbukti bahwa organisasi “demokratis” memberi hasil autentik yang lebih baik, ternyata bahwa kebanyakan kelas masih diselenggarakan secara “otokratis”. Anak yang dianggap baik ialah anak pendiam dan penurut. Inisiatif, kepemimpinan berpikir sendiri dari pihak murid kurang mendapat perhatian guru. Kesulitan-kesulitan disiplin diatasi dengan hukuman, kecaman, ancaman. Cara mengajar demikian akan menghalang-halangi tercapainya sukses.
INTERPRETASI
Sikap demokratis dari pihak guru saja belum mencukupi. Disamping itu diperlukan organisasi yang disengaja dan dilakukan dengan penuh keahlian.
1.      Dalam suatu kelompok diperlukan kepemimpinan yang baik. Dalam diskusi bebas ternyata bahwa sebagian kecil murid-murid yang berbicara dan yang berbicara itu tak selalu anak yang pandai. Diskusi diorganisasi direncanakan lebih dahulu. Yang penting disini ialah rasa tanggung jawab atas pilihan dan kemauan sendiri.
2.      Teknik sosiometri untuk mengenal hubungan sosial antara anak-anak diguanakan untuk membentuk kelompok-kelompok yang lebih efektif. Suasana sosial yang baik tidak diciptakan dengan bicara dan maksud baik, melainkan dengan perencaan dan organisasi. Jadi harus ada usaha dan pemikiran dari pihak guru.
3.      Bermacam-macam usaha dijalankan untuk menyelidiki yang manakah lebih baik kerja sama atau persaingan, akan tetapi tidak diperoleh jawaban yang tegas. Tiap anak yang bekerja sama dalam suatu proyek ingin mencapai hasil yang setinggi-tingginya bagi dirinya. Persaingan serupa ini rasanya tak perlu dicegah. Hanya kalau persaingan bertujuan semata-mata untuk mengalahkan temanya, akan berpengaruh buruk. Yang perlu ialah menciptakan suasana sosial dimana tiap anak mengalami kepuasan turut serta memberi sumbangannya dan disamping itu mencari penghargaan dari kelompok.
4.      Sikap guru hendaknya “integrative” jangan “dominative” melaksanakan kemauan dan keinginan kepada anak-anak. Guru yang “integrative” memperoleh kerja sama anak keterangan, saran-saran, permintaan dan sebagainya. Ada guru yang berbicara lemah lembut namun bersikap “dominative”.
5.      Organisasi sosial bertalian erat dengan pokok utama dari buku ini, yakni pengetahuan penuh, atau pelajaran yg bermakna. Jika pelajaran berbentuk tugas menghafal sejumlah halaman dari buku tertentu, maka taka da faedahnya organisasi, karena tak diperlukan inisiatif anak. Anak-anak tak perlu berunding, karena taka da yg perlu dirundingkan. Prinsip sosialisasi hanya dapat berjalan berhubungan dengan pengetahuan penuh.
Jadi prinsip ini tidak lepas dari prinsip-prinsip yang lampau. Penggunaan prinsip sosialisasi bukan suatu tambahan atau embel-embel, melainkan suatu unsur yang esensial dari pelajaran yang bermakna.






C.    Prinsip Sosialisi dan Penilaian Cara Mengajar
SKALA PENGGUNAAN
      Dibawah ini diberikan suatu skala sebagai alat untuk menilai hingga manakah prinsip sosialisasi digunakan.
1.      Pola sosial terutama berbentuk kepatuhan, kelompok (kelas) hanya menjawab pertanyaan dan melakukan petunjuk guru, disiplin dengan paksaan.
2.      Pola sosial berbentuk sumbangan, yakni anggota kelompok dibolehkan dianjurkan untuk memberikan saran-saran, memajukan soal-soal dan sebagainya, disiplin masih ditentukan dari atas, akan tetapi dalam suasana ramah-tamah.
3.      Pola sosial terutama berbentuk kerja-sama gotong-royong, yakni kelompok melakukan suatu usaha bersama dimana setiap anggota turut memikul tanggung jawab, disiplin ditentukan sendiri.

A.    Tingkatan Pertama
Unsur utama dalam situasi belajar pada tingkatan ini ialah kepatuhan. Perangsang atau stimulans datangnya dari guru dalam bentuk pertanyaan atau tugas. Murid hanya menjawab atau melakukannya. Inisiatif anak sedapat mungkin dihambat. Disiplin terutama bersifat negative dan jalannya pelajaran. Kebanyakan cara-cara mengajar masih pada tingkat ini.
Biasanya anak-anak duduk tertib dalam bangku yang berderet dengan teratur. Bangku-bangku biasanya tak dapat dan tak pernah digeser. Pelajaran dilakukan menurut rutin. Jam pelajaran ditentukan oleh lonceng,awal dan akhirnya. Pelajaran terutama ditentukan oleh buku ajar yang ditentukan oleh pihak atasan dan harus dikuasai untuk menempuh ujian akhir yang uniform.
Pada prinsipnya Dalton School dan “unit laboratory plan” berada pada tingkatan ini, walaupun tempatnya berlainan. Anak-anak boleh meninggalkan tempat duduknya untuk mencari sesuatu dari perpustakaan. Ia tidak mendengarkan dan menjawab rentetan pertanyaan dari guru. Akan tetapi pada hakikatnya dalam melakukan tugasnya murid-murid harus mengadakan respons terhadap stimulans yang berasal dari guru, sekalipun stimulans itu berbentuk lembaran buku pedoman yang distensile. Disiplin masih bersifat negative yakni mencegah gangguan-gangguan, walaupun tidak begitu keras. Jadi pada tingkatan ini tugas, komentar, petunjuk, kritik datang dari guru. Situasi itu diatur sedemikian rupa sehingga inisiatif, pilihan dan tanggungjawab murid sangat terbatas. Disini tidak digunakan potensi dinamis yang terdapat dalam situasi sosial.

B.     Tingkatan kedua
      Walaupun tingkatan ini tidak tegas batasnya dengan tingkatan pertama, namun ada perbedaan yang nyata.
      Ciri yang khas ialah bahwa, walaupun stimulans terutama berasal dari pihak guru, situasi belajar diatur sedemikian rupa sehingga membolehkan dan memberanikan hati murid untuk mengajukan pertanyaan, saran-saran, komentar dan sebagainya ditujukan kepada guru tetapi juga terhadap temannya sekelas.
      Dalam penyelidikan mengenai guru yang tidak baik dan yang baik, ternyata bahwa yang tak baik mengajar menurut tingkatan pertama sedangkan guru yang baik menurut tingkatan kedua. Guru yang baik lebih banyak mengajukan pertanyaan pikiran yang menimbulkan jawaban yang luas, saran-saran, diskusi-diskusi dan sebagainya. Ia menghadapi kelas dalam suasana bercakap-cakap dengan sikap menerima dan memberi. Ia membangkitkan pengalaman-pengalaman anak-anak dan mendengarkan keterangan mereka dengan penuh perhatian. Sebaliknya, guru yang tidak baik mengajukan pertanyaan hafalan. Ia paling banyak berbicara. Jawaban anak-anak sangat singkat, rata-rata selama 14 detik sebuah, ia tidak memberi komentar atas jawaban anak, kecuali mengatakan benar atau salah.
      Guru yang baik pada tingkat ini masih mengontrol kelas dan merupakan asal atau stimulans dari kegiatan-kegiatan murid. Akan tetapi cara penggunaannya berbeda. Mereka membangkitkan inisiatif dan sumbangan fikiran secara sukarela.
      Guru yang baik tidak segera menjawab pertanyaan atau memecahkan kesulitan yang dihadapi anak. Ia merangsang anak-anak lain untuk menjawabnya. Ia menahan diri pada latar belakang, dan hanya membrikan komentar atau petunjuk sekali-kali dengan maksud merangsang kelompok untuk berpikir. Ketertiban atau disiplin tetap dijaga, akan tetapi bersifat positif dalam suasana ramah-tamah. Selalu dijaga tali persahabatan dan rasa saling hormat-menghormati. Tidak digunakan ancaman, kecaman atau hukuman. Yang digunakan ialah dorongan-dorongan yang positif dengan pujian serta memberanikan diri anak. Dalam kelas terasa suasana kebebasan. Bangku-bangku dapat disusun secara bebas menurut keperluan. Walaupun demikian disini tidak terdapat delegasi kekuasaan kepada anak-anak untuk mengambil keputusan-keputusan yang penting.

C. Tingkatan ketiga
     Ciri yang hakiki dari tingkatan ialah bahwa dalam situasi sosial sewaktu belajar tidak hanya terdapat rasa persahabatan, simpati, kebebasan dorongan-dorongan positif akan tetapi disini diutamakan rasa bersatu untuk melakukan suatu usaha bersama yang dipilih serta diterima dengan penuh rasa tanggungjawab.
     Cara beajar seperti ini dialami murid-murid suatu melakukan suatu proyek, misalnya mengenai arsitektur rumah-rumah disuatu kota. Anak-anak turut merencanakan, mengumpulkan dan menyusun bahan. guru lebih mengundurkan diri. Ia masih berfungsi sebagai organisator akan tetapi menonjolkan diri. Kelompok bekerja didorong oleh rasa tanggung jawab. Rasa bangga atas hasil pekerjaan yang baik serta semangat kelompok yang merasa bertanggungjawab atas segala kegiatan dan hasilnya. Walaupun guru tak ada didalam kelas, murid-murid tidak akan ribut melainkan terus memelihara disiplin kerja.
     Besar kemungkinan cara belajar menurut tingkat kedua beralih kepada tingkatan ketiga. Untuk itu diperlukan perubahan sikap guru terhadap tugasnya, terhadap murid dan terhadap dirinya. Sikap ramah-tamah terhadap belum dengan sendirinya membawa guru kepada tingkatan ketiga.
     Jangan dianggap bahwa situasi belajar secara bersama atau secara gotong royong hanya dapat dilakukan disekolah yang mewah. Yang penting ialah pemahaman dari pihak guru bagaimanakah sebaiknya. Perubahan dalam pendapat tentang belajar dengan sendirinya harus membawa perubahan dalam cara-cara mengajar. Namun demikian prinsip-prinsip sosialisasi dapat dijalankan pada setiap sekolah agar diperoleh hasil belajar yang sebaik-baiknya.

BEBERAPA MASALAH PRAKTIS DALAM MELAKSANAKAN PRINSIP SOSIALISASI
1. Dalam segala usaha untuk melaksanakan prinsip sosialisasi salah satu aspek yang penting ialah perencanaan bersama. Semangat kerja yang baik, rasa tanggungjawab  yang sungguh-sungguh hanya tercapai bila suatu pekerjaan direncanakan bersama. Perencanaan dilakukan dengan jujur, dengan benar-benar menghargai pendapat murid-murid. Waktu yang dipergunakan untuk perencanaan tidak terbuang dengan sia-sia, tetapi justru mempertinggi hasil belajar. Setiap pelajaran dapat didasarkan atas perencanaan bersama. Cara ini akan mempererat hubungan antara guru dan murid, membuka kesempatan menerima saran-saran yang baik dari murid dan memupuk tanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan. Perencanaan dilakukan tidak hanya pada permulaan pelajaran, akan tetapi merupakan suatu unsur dalam seluruh pekerjaan.
2. Perencanaan bersama mengandung masalah hubungan antara guru dan murid. Hubungan ditentukan oleh kedudukan guru sebagai organisator. Ia jangan memborong segala keputusan, jangan pula menganggap dirinya sama dengan murid. Inti kepemimpinan terletak delegasi kekuasaan yang tepat. Ia harus memberi kebebasan untuk membangkitkan inisiatif disertai oleh rasa tanggungjawab. Tujuan guru sebagai organisator ialah mengusahakan kegiatan yang setinggi-tingginya dari kelompok.
3. Setiap guru harus berbuat sesuai dengan sifat pribadinya. Apakah guru itu introvert ataupun extrovert masing-masing dapat mengajar dengan baik menurut sifat pribadinya. Tetapi pada hakikatnya masing-masing menggunakan prinsip-prinsip mengajar yang sama. Begitu pula guru yang ahli akan menggunakan teknik mengajar yang berbeda dalam menghadapi kelas yang berlainan, misalnya kelas yang pandai atau kelas yang kurang pandai. Di kelas yang pandai guru itu harus mengekang arus buah pikiran yang mengalir dari pihak murid, sedangkan dikelas yang kurang pandai guru itu justru berikhtiar memancing-mancing pikiran dan pendapat anak-anak.
4. Untuk melakukan prinsip sosialisasi harus ada pengelompokan secara klasikal. Pengelompokan itu harus homogen. Pengelompokan klasikal pada mulanya diadakan oleh sebab pada waktu yang sama dapat diajarkan bahan yang sama kepada sejumlah murid-murid. Akan tetapi dalam prinsip sosialisasi tidak diharapkan bahwa setiap anak melakukan tugas yang identic atau maju dalam pelajaran dengan kecepatan yang sama. Tidak ada dua murid yang sama. Akan tetapi setiap anak dapat memberi sumbangannya dalam suatu usaha bersama. Tentu saja dalam perbedaan antara anak hendaknya jangan terlampau besar. Jadi didalam suatu kelas sekelompok anak-anak yang mempunyai minta dan kebutuhan yang sama dapat bekerja dan bermain bersama dengan sukses dalam suasan bahagia, sekalipun terdapat perbedaan dalam inteligasi atau kecepatan mereka belajar.
5. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru:
A. Situasi sosial dalam kelas senantiasa berubah. Kadang-kadang murid menjadi pendengar, pembicara, berunding bersama dalam diskusi, atau melakukan latihan secara terpisah dan sebagainya.
Guru harus ahli dalam menguasi atau mengatur situasi-situasi sosial itu. Dalam segala situasi anak-anak harus menjadi partisipan, kalau tidak maka pelajaran segera membosankan.
B.  Pola sosial dalam kelas harus mencakup semua murid. Mencela atau memarahi anak-anak yang tidak turut, menunjukan bahwa pokok pelajaran tidak memikat hati mereka. Lagi pula guru harus pandai menarik setiap anak dalam pelajaran.
C. Pola sosial dalam kelas hendaknya jangan ditentukan oleh adanya guru didalam kelas, melinkan karena realitas intrinsic yang disukung oleh pelajaran itu sendiri. Makin demokratis, otonomo pola sosial, makin banyak anak-anak diturutsertakan, makin tak perlu dijalankan disiplin yang konvensional. Disiplin tidak dinilai lagi secara negative sebagai tak adanya gangguan, melainkan secara positif sebagai moral kelompok yang aktif dan bertanggungjawab dalam menyelesaikan suatu tugas bersama.

SOSIALISASI DAN PELAJARAN YANG BERMAKNA
                  Pola sosial dalam suatu kelompok bertalian erat dengan cara-cara mereka belajar. Kelompok yang demokratis ingin berfikir secara kooperatif, memecahkan masalah dan bertindak bersama, menyelidiki dan menemukan jawaban.
            Kelompok penurut ingin patuh dan menghafal apa yang diperintahkan guru. Perlu dikatakan disini bahwa mengajar baik harus menggunakan segala prinsip-psrinsip yang baik seperti pelajaran yang bermakna, mempunyai konteks dan fokus serta mempunyai pola sosial yang menguntungkan.

D.    Prinsip individualisasi dan organnisasi pelajaran
Prinsip individualisasi
Dalam pelajaran modern yang menggunakan metode unit, ada kalanya seorang anak yang kurang pandai tiba-tiba muncul bakatnya jika diberikan tugas yang sesuai dengan pembawaanya. Disini terlaksana prinsip individualisasi yang mengemukakan bahwa pelajaran yang bermakna harus dijalankan sesuai dengan tujuan bakat, kesanggupan anak sendiri menurut prosedur eksperimental.
Ciri-ciri prinsip individualisasi yang baik
Dengan bukti yang berlimpah-limpa banyak ternyata bahwa setiap individu berbeda dengan yang lain. Dengan macam-macam tes para ahli psikologi dan para pendidik menunjukkan perbedaan individu yang beraneka ragam. Bagaimanakah hasil-hasil penyelidikan itu dapat digunakan dalam organisasi pelajaran?
Pelajaran arus individual karena setiap individu belajar menurut caranya sendiri. Akan tetapi perlu pula diketaui dalam hal mana anak-anak berbeda. Adakalanya kita ketahui pembawaan anak dan kita dapat menyesuaikan pelajaran dengan pembawaanya itu. Akan tetapi betapa banyak anak-anak disekolah yang tak kunjung kita ketahui pembawaanya seingga anak itu tak dapat berkembang sepenuhnya.
Perbedaan murid dapat digolongkan dalam dua bagian, yakni perbedaan vertikal atau kuantitatif yang berdimensi satu dan perbedaan kualitatif.
Perbedaan vertikal. kita dapat menggolongkan manusia menurut taraf seseorang memiliki suatu sifat tertentu, yaitu sifat fisik ataupun mental. Dalam bidang fisik dapat diadakan penggolongan  menurut tinggi, berat, kuat badan dan sebagainya. Dalam bidang mental dapat diadakan pembagian menurut tingkat inteligensi umum.
Hakikat intelegensi serta masalah-masalah yang bertahan dengan pengukuranya masih banyak menimbulkan perrtentangan pendapat, walaupun telah banyak diantaranya yang dapat dipecahkan dalam 20-25 tahun akhir-akhir ini.
Perbedaan kuantitatif manusia berbeda dalam pembawaan dan minat khusus serta dalam metodenya bekerja. Ada yang mempunyai kecenderungan inteligen, ada estetis, ada motoris, ada sosial dan sebagainya. Perbedaan serupa ini tidak dapat disusun menurut garis yang berdimensi satu.
Tentang inteligensi yang spesifik ini tidak banyak diketahui seperti tentang intelegensi umum. Juga tidak diketahui hingga manakah kesanggupan khusus itu ditentukan oleh pembawaan atau lingkungan. Namun demikian perbedaan kualitatif ini ada  dan sangat penting artinya.
Barangkali salah satu cara yang baik untuk mengetahuinya ialah berdasarkan minat anak, karena minat  ada hubunganya dengan belajar. Walaupun demikian minat belum suatu jaminan tentang adanya bakat yang luar biasa. Dalam pengajarran minat anak janaganlah diremehkan akan tetapi harus diberi perhatian penuh.
Minat menyebabkan mata pelajaran itu bermakna bagi anak. Minat memberi suatu tujuan kepada pelajaran. Pengembangan minat itu tak selalu sesuai dengan kurikulum yang trradisional. Dlaan kurikulum modern yang fleksibel minat anak-anak yaang berbeda-beda itu lebih dapat dipupuk dan dikembangkan . Berdasarkan minat tertentu anak-anak dapat mempelajari bahan pelajaran yang diberikan dalam kurikulum yang konvensional.  Misalnya minat anak untuk sepak bola dapat digunakan untuk mempelajari berhitung, mengarang, ilmu bumi, sejarah, membaca dan sebagainya.
Ada pula perbedaan dalam cara-cara bekerja dan belajar, dalam kenyataan ini berpengaaruh terhaadap organisasi pelajaran.
1.    Belajar dalam segala hal adalah proses seksperimentasi mengandung segi trial-en-error, sebaiknya trial-en-succes dengan melalui sejumlah kekeliruan. Dalam belajar ini setiap orang melakukanya dengan cara tersendiri, mungkin lain daripada yang lain. Belajar selalu mengandung nsur ekperimentasi . Dan tiap orang bereksperimn menurut caranya yangtersendiri.
2.    Eksperimentasi sebaagai hakikat daripada belajar selalu merupakan usaha mencari jawaban suatu masalah. Eksperimentasi bukan suatu “trial-en-error”secara membuat, melaiinkan selalu dengan penggunaan intelegensi. Dalam penggunaan inteligensi terdapat perbedaan-perbedaan. Dalam suatu penyelidikan ternyata bahwa hitungan 9+7..........dilakukan oleh 20 orang maasiswa dengan cara yang berbeda-beda.
            Guru yaang baik tidak akan menghalangi bahkan mengarang cara-caara memecakan soal dengan cara-cara tersendiri. Ia tidak akan memakssakan satu cara tertentu.   
3.    Guru memberi bimbingan pada soal anak ituhmemerlukan suatu teknik yang efektif sewaktu menghadapi suatu problema. Tak perlu disangsikan, bahwa individualisasi sebagai bimbingan dalam proses eksperimentasi merupakan trial-en-eror yang sesuai bagi masing-masing individu yang sedang mengadapi  suatu problema yang menarik serta ssungguh-sungguh adalah usaha yang mampu untuk memperoleh hasil-hasil yang autentik.


E.     Prinsip individualisasi dan penilaian cara mengajar
Skala penilaian
Untuk menilai hingga manakah prinsip individualisasi dilaksanakan dalam pengajaran kita dapat menggunakan skala yang berikut. Seperti pada skalanya laninya, tak ada batas yang tegas antara tingkatan-tingkatanya.
Tingkatan pertama          
1.    Penilaian. Sebagian besar dari pengajaran masih berada pada tingkatan ini. Anak-anak harus mempelajari pelajaran bahan yang dalam waktu yang telah ditentukan lebih dahulu.
            Semua anak-anak mendapat pelajaran yang sama, sekalipun banyak perbedaan individual diantaara mereka . pelaajaran itu disesuaikan dengan kemampuan anak yang “menengah” yang “rata-rata” yang sedang. Demikian juga halnya dengan metode mengajar alat-alat pelajaran, buku pelajaran dan sebagainya.
            Jelaslah bahwa prinsip individualisasi tidak terlaksana dalam pengajaaran paada tingkataan 1 ini, sejumlah besar dari anak-anak mungkin mengalami kegaagalaan.  Hal ini tak dapat dibiarkan, sama saja dengan dokter yang tak aakan membiarkan sejumlah besar pasienya mati. Tugas guru ialah membantu setiaap anak tanpa pengecualian agar anak itu maaju dan berhasil dalam pelajaranya.
2.    Usaha memperbaikinya. Ada usaha untuk menentukan angka murid tidak hanya atas dasar ulangan atau tes tetapi juga memperhatikan kegiatan kelakuan baik, kemampuan kerjasama, dan sebgainya. Kadang-kadang ada pula yang menilai murid berdasrakan perbndingan antara Hasil pekerjaan murid dengan bakatnya, sehingga anak yang bodoh yang berusaha segiat-giaatnya dapat mencapaai angka yang tinggi.
Tingkatan kedua
            Murid-murid dibagi menurut kriterium tertentu dalam beberapa keompok yang dianggap homogen, atau setidaknya  mengurangi besar perbedaan-perbedaan antara kesanggupan anak, Pada suatu masa yang lampau cara kerja ini banyak dikemukakan , akan tetapi sekarang kurang mendapat sambutan baik.
            Ada kalanya anak itu terus terikat ole kelompok tertentu selama ia belajar disekolaah itu , adakalanya ia boleh pindah kelompok.
1.    Penilaian. Cara ini memperhatikan perlunya menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individual. Akan tetapi yang diperhatikan hanaya salah satu perbedaan individual yakni mengenai kesanggupan mental. Cara ini hanya memperkecil perbedaan itu dalam suatu kelompok murid. Anggapan disini ialah, bahwa anak-anak maju dalam pelajaran menurut jalan-jalan tertentu.
              Akan tetapi yang menjadi pokok ialah apakah penggolongan dalam kelompok-kelompok homogen benar-benar memberi hasil belajar yang lebih baik. menurut hasil penyelidikan tidak demikian halnya. Hasil kelompok homogen hanya sedikit sekali bedanya dengan kelas yang heterogen yang tidak dibagi dalam kelompok-kelompok.
2.    Langkah-langkah untuk memperbaikinya. Pengelompokan homogen sendiri tidak menjamin perbaikan. Yang penting ialah apa yang dilakukan guru dengan kelompok yang kurang pandai guru itu lebih sabar, lebih suka membantu. Ada guru yang sesuai pribadinya dengan kelompok yang demikian.

Tingkatan ketiga
1.    Penilaian. Dalam perencanaan kontrak tugas-tugas diberikan biasanya secara tertulis dengan stensil, pada beberapa taraf kesulitan, yaitu taraf C yang berisi bahan esensial yang minimal (bagi murir-murid yang kurang pandai), tugas taraf B dengan tugas tambahan bagi murid-murid yang seddang kepandaaiaanya, dan tugas taraf A dengan bahan yang lebih luas bagi murid-murid yang pandai.
Keberatan-keberatan yang dimajukan adalah sebagai berikut:
-            Pelajaran boleh dikatakan seluruhnya bersifat verbalistis dan sering terbatas pada satu buku ajar. Pelajaran tidak didasarkaan atas problem yang konkret dihadapi anak.
-            Tidak ada fokus yaang tegas. Pertanyaaan dan tugas lepas serta tak ada hubungan fungsional antara yang satu dengan yang lain, tak ada kebulatan.
-            Prinsip individualisasi tidak digunakan dengan baik.
Taraf-taraf kesulitan tanpa dasar yaang sehaat, tugas B atau A lebih luas bahanya dan meminta tenaga yaang lebih banyak dari pihak murid akan tetapi ini tidak memenuhi macam-macam perbedaan individual antara murid-murid. Anak-anak melakukan tugas yang lebih banyak untuk mendapat angka yang lebih tinggi, jadi motivasi ekstrinsik.
-            Rasanyaa kurang adil bila bahan yaang dianggap sangat penting  seperti tugas A hanya diberikaan kepada segolongan kecil saja. Setiap anak harus mendapat bahan yang kaya serta luas sesuai dengan minatnya.
2.    Langkah untuk memperbaiknya
          Dari analisis yang diatas ternyata bahwa efektifitaas pelajaran bergantung pada keseluruhan organisasi pelajaran dimana segala prinsip-prinsip mendapat perwujudan. Memperbaiki suatu aspek saja tidak akan banyak manfaatnya. Suatu rencana kontrak yang memberi tugas banyak tidak memenuhi perbedaan minat anak.
              Perbaikan dapat dicapai dengan menjalankan unit atau pelajaran yang mempunyai fokus yang nyata. Dalam melakukan tugas itu anak-anak akan aktiff bekerja mengumpulkan bahan, menyelidiki, membaca ,memebuat catatan, merangkum, mendiskusikan,membuat gambar, meninterview dan sebagainya. Unit ini juga merangsang anak-anak berpikir dan belajar sebagi kelommpok.

Tingkatan keempat
            Disini prinsip individuaalisassi diberikan berbentuk pengajaran individual. Mula-mulaa dilakukan oleh Frederick Burke, kemudian Helen Parkhurst di dalton, dan juga oleh carleton wasburnee di wennetika.
Pada hakikatnya dalam cara ini, pengajaran klaasikal diubah menjadi “individual tutoring” secara besar-besaran.
Cara imengajar serupa mempunyai keuntungan –keuntungan anak-anak mendapat tugas sesuai kesanggupanya. Ia mendapat bantuan individual dari guru. Murid dapat bekerja menurut kecepatan masing-maaing. Ia dapat mengatur waktunya sendiri.
Akaan tetaapi ada pulaa kelemahnaya. Yang diperhatikan disini hanya perbedaan vertikal, perbedaan kesanggupan mental. Akan tetapi perbedan kualitatif yang tidak kurang pentingya, tidak mendapat perhatian.

Tingkatan kelima
1.        Penilaian
Disini pelajaran diberikanberbentuk unit dan kegiatan-kegiatan anak berhubungan dengan unit itu. Unit itu biasanya telah dianalisis dan terdiri dari pendahulan atau penjelelasan mengenai maslah yang dihadapi untu membangkitkan minat anak, perincian dari maslah itu, hasil-hasil yang diharapkan diantaranya berbentuk sikap dan penghargaan, tuags-tugas individual dan kelompok, kegiatan –kegiatan berhubungna dengan unit dan daftar baacaan.
Unit ini berisi pertanyaan-pertanyan, probleem-problem yang merangsang anak-anakm untuk menyelidiki , mngumpukan bahan dan menarik kesimpulan.
Namun demikian ada kelemahan-kelemaanya. Ada bahayanya kalau pelaksanaan itu terutama didasarkan atas baacaan dan bersifat akademis. Tujuan ini enaknya jangan tertuju pada informasi yaitu mengumpulkan fakta-fakta, melainkan kepada wawasan atau pemahaman.
2.        Langkah-langkah kearah perbaikan
Unit yang diterapkan diatas hendaknya mudah diperbaiki. Suatu unit enaknya jangan didasarkan atas suatu ceramah atau keterangan verbal, melainkan berdasarkan sutau kejadian yang aktual dalam kehidupan anak-anak.
Bahan unit hendaknya jangan merupakan sejumlah pengetahuan melainkan hasil sebagai akibat usaha serta sumbangan individual. Disini prinsip individual dapat diwujudkan dengan baik sekali menurut minat pilihan metode kerja masing-masing.

Tingkatan keenaam
Disini anak-anak melakukan suatu usaha bersama dan dalam rangka ini masing-masing anak melakukan suatu tugas sesuai dengan minat dan kesanggupanya sebagai sumbangan untuk penyelesaian tugas itu.
Cara kerja ini telah dikemukakan dahulu dalam contoh anak-anak mempelajari arsitektur disuatu kota, pada dasarnya masalah yang diselidiki mulai dengan suatu hal yang menarik minat yang kemudian berkembang sehingga menjadi suatu unit.
Dalam pelajaran serupa ini terdapat usaha yang mengandung makna, yang merupakan suatu gfbkebulatan dan dipecahkaan bersama oleh murid-murid. Tiap anak dapat memberi sumbanganya, sesuai dengan minat dan kesanggupannya. Anak-anak turut menentukan sendiri dengan bantuan serta bimbingan guru. Anak bekerja dan belajar menurut caranya sendiri. Tampaknya bahwa individualisasi disini dilakukan dengan cara yang tak formal akan tetapi dengan bimbingan yang ahli cara ini memberi asil yang paling efektif.                                                                                                              

F.     Prinsip urutan dan organisasi pelajaran.
a.      Prinsip Urutan (Sequence)
Prinsip urutan yang dibicarakan hingga sekarang ialah cara memberi suatu pelajaran tertentu dengan cara yang efektif yakni menggunakan prinsip konteks, fokus, sosialisasi, dan individualisasi. Akan tetapi guru juga harus memperhatikan efektivitas urutan pelajaran. Ia tidak hanya mengerjakan ilmu hitung, ilmu pasti, ilmu bumi, dan sebagainya, melainkan ia mengajarkan dan mendidik anak mencoba mengubah kelakuannya, memberi pemahaman sikap, dan pandangan hidup.
Suatu pelajaran tidak lepas dari pelajaran sebelum dan sesudahnya. Pelajaran itu mengandung makna dalam rangka keseluruhan pelajaran itu. Jadi prinsip urutan dapat dirumuskan :
 “ Urutan pelajaran yang bermakna harus bermakna pula jika dikehendaki hasil-hasil yang autentik.” [1]
Kita tak mungkin mengajarkan seluruh mata pelajaran sekaligus. Bagaimanapun juga kita hanya dapat mengajarkan suatu pelajaran atau satu pokok tertentu, jadi hanya sesuatu yang spesifik. Akan tetapi pelajaran yang spesifik kita harapkan memberi perkembangan seluruh pribadi anak.
b.      Urutan  dan Perkembangan Mental
Masalah urutan bertalian erat dengan proses perkembangan atau pertumbuhan mental. Masalah ini telah dipikirkan sejak dahulu. Dalam buku pelajaran unsur-unsur dari yang sederhana dan lambat laun meningkat kepada yang lebih sulit. Tak dapat sesuatu dipahami tanpa diberikan langkah demi langkah disesuaikan dengan perkembangan mental anak.
Contoh I seorang ibu mengatakan kepada anaknya yang berumur lima tahun supaya pulang pukul 6 petang, anak itu telah diajarkan melihat jam. Ibu ini ingin agar anaknya itu mengenal tanggung jawab. Akan tetapi ternyata anak itu tidak memenuhi janjinya. Ia terlambat pulang dan kena marah.
Harapan ibu tidak sesuai dengan taraf perkembangan anak. Anak umur lima tahun belum menguasai soal waktu (kesanggupan spesifik). Kekurangan dalam menguasai bidang spesifik menghalangi perkembangan pribadi (rasa tanggung jawab).
Contoh II, seorang mahasiswa ditugaskan mempelajari seluk beluk Mattheus Passion ciptaan Bach. Masalah ini begitu memikat hatinya sehingga berminggu-minggu lamanya ia mempelajarinya dengan penuh minat. Pelajaran ini membuka hati dan pikiran untuk hal-hal yang baru yang tidak pernah dimimpikannya lebih dulu. Pelajaran ini sungguh-sungguh memperkaya pribadinya.  Di sini kita lihat bahwa suatu pelajaran tertentu mengembangkan pribadi seseorang keseluruhan. Hal ini terjadi karena pekerjaan itu sesuai dengan taraf perkembangan mentalnya. Jadi, urutan pelajaran harus disesuaikan  dengan taraf perkembangan mental anak. Kalau tidak sesuai akan gagal.
c.       Ciri urutan yang baik
Ciri-ciri urutan yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan pertumbuhan:
1.      Pertumbuhan itu kontinu
Menurut teori rekapitulasi pertumbuhan anak melalui fase-fase dalam perkembangan hidup manusia dari masa biadap sampai ke msa beradab. Ada pun membagi pertumbuhan itu berturut-turut melalui pengamatan, pengkhayalan, ingatan, dan pikiran kira-kira usia ke-2 tahun beradab dalam masa ingatan karena itu dapat diberi banyak hafalan. Akan tetapi pendirian-pendirian telah lama ditinggalkan. Sejak lahirnya, anak telah mempunyai segala macam kesanggupan yang akan berkembang secara kontinu.
“Pertumbuhan tidak dapat dipecah-pech menjadi sejumlah fase-fase. Pendirian itu penting bagi organisasi pelajaran.” Cara satu-satunya disekolah untuk mengembangkan anak adalah melalui pelajaran-pelajaran yang spesifik. Akan tetapi pelajaran itu dapat jangan dianggap terpisah-pisah. Pelajaran-pelajaran itu dapat dianggap sebab-sebab dalam buku yang memberi sumbangannya kepada kebulatan buku itu. Kita harapkan bahwa pelajaran ilmu pengetahuan akan mencegah prasangka.
Melenyapkan suatu prasangka tak tercapai dalam satu pelajaran. Itu tercapai berkat banyak pelajaran dan pengalaman yang masing-masing memberi pengaruh dan sumbangan mencapai tujuan itu.
2.       Pertumbuhan bergantung pada tujuan
Ada pertumbuhan yang tampaknya berjalan dengan otomatis menurut alam seperti berdiri, berjalan.
Akan  tetapi pelajaran di sekolah terutama bergantung pada keadaan dan lingkungan. Seorang anak kembar yang berusia satu tahun dapat diajar bersepatu roda, sesuatu yang tidak dengan sendirinya atau menurut alam akan dipelajarinya. Itu dapat dipelajarinya karena masih dalam batas kemampuan dan tujuan yang dapat dipahaminya.
Pada usia itu ia tak akan dapat diajar main biola atau aljabar karena tidak akan memahami tujuannnya.
Prinsip urutan hanya dapat dijalankan jika apa yang diajarkan itu masih dalam batas tujuan anak. Seorang hanya dapat belajar jika ia mau belajar. Kemajuan tidak tercapai karena anak tidak mengindahkannya artinya tidak menerimanya sebagai tujuan. Tanpa tujuan tak ada pertumbuhan.
3.      Pertumbuhan Bergantung pada timbulnya pemahaman.
Pelajaran dan pengalaman harus menimbulkan pengertian, pemahaman atau wawasan agar tercapai pertumbuhan.
Misalnya sikap badan yang tegak, belajar agar berhasil baik. Untuk itu diperlukan sejumlah pengalaman yang masing-masing memberi pengertian tentang tujuan itu. Demikian pula dalam pelajaran berhitung, aljabar, atau ilmu ukur, anak-anak harus memahami apa yang menjadi persoalan, yaitu memahami hubungan antara yang satu dengan yang lain, bukan sekedar membuat sejumlah hitungan saja. “melihat dan memahami hubungan” adalah inti dari berhitung dan ilmu pasti yang menjadi pedoman yang harus dipelajari atau dipahami anak.
Pemahaman itu pada mulanya samar-samar tetapi lambat laun dapat berkembang dan menjadi. Pemahaman itu penting dan berguna bagi hidup anak itu selanjutnya.
d.      Beberapa kesalahan yang umum
1.   Pendapat tentang arti persiapan untuk studi yang lebih tinggi bertentangan dengan prinsip bahwa urutan harus ditentukan oleh irama pertumbuhan mental. Sejarah purbakala mendahului sejarah abad pengetahuan, dann ini merupakan persiapan untuk sejarah modern. Ilmu alam harus didahului oleh aljabar sebgai persiapan.
Untuk pelajaran di fakultas ditentukan sejumlah mata pelajaran sebagai persiapan. Harapan disini adalah bahwa pelajaran persiapan itu dapat ditransfer ke[pada pelajaran lanjutan. Dalam penyelidikan ternyatra bahwa kebanyakan diantara pelajaran-pelajaran itu tidak mempunyai nilai transfer.
Pelajaran apa pun mempunyai nilai yang sama sebagai persiapan unruk mengikuti kuliah-kuliah pada perguruan tinggi. Yang penting untuk ditransfer bukanlah sejumlah pengetrahuan melainkan minat, tujuan, semangat kerja yang baik, kesadaran yang meluas tentang hubungan-hubungan. Sifat-sifat itu dapat dimiliki anak-anak berkat semua pelajaran disesuaikan dengan pertumbuhan mental murid-murid.
2.         Masalah pertumbuhan mental bertalian erat dengan masalah kematangan kesiapan untuk pelajaran tertentu. Berkat pertumbuhan mental anak itu siap untuk suatu pelajaran. Ahli-ahli penyelidik mengemukakan misalnya kesiapan atau readisness anak-anak untuk berhitung dan membaca.
Akan teta[pi untuk mata pelajaran lainnya belum ada hasil-hasil yang dapat dipercayai. Diharapkan dikemudian hari dengan penyelidikan-penyelidikan akan dapat diketahui apabila nak-anak ,atang untuk tiap mata pelajaran.
3.         Kesalahan yang merugikan dalam menjalankan prinsip urutan ini ialah terlampau lambat atau terlampau cepat mengajarkan formal di kelas satu dan dua tidak sesuai dengan perkembangan mental anak, akan tetapi ini tak berarti bahwa berhitung formal harus diundurkan sampai kelas enam.
Begitu pula seorang guru piano yang terkenal mengatakan bahwa anak-anak sebelum belajar piano lebih dulu diberi senam irama. Hasilnya akan meningkat 40%.
G.    Prinsip Urutan dan penilaian cara mengajar
a.      Skala Pengunaannya
Prinsip urutan ini bertalian erat dengan kurikulum. Setiap guru harus mengenal struktur dan tujuan seluruh kurikulum dan melihat hubungan antara pelajaran yang diberikannya dengan tujuan kurikulum itu, sering hubungan itu tidak jelas dilihat.
Dibawah ini diberikan skala pengunaan prinsip urutan (sequence).
1.      Urutan sejumlah bahan pelajaran berbentuk kursus atau pelajaran.
2.      Usaha untuk mempererat hubungan antara pelajaran dengan uraian pendahuluan, tinjauan pendahuliuan, tes, ulangan dan penyusunan kembali bahan pelajaran.  Anggapan dasar : apresiasi.
3.      Urutan ditentukan oleh kesiapan, kematangan (readiness).
4.      Urutan ditentukan oleh pemahaman yang timbul.
b.      Tingkat Pertama
Urutan yang konvesional ialah urutan sejumlah pelajaran-pelajaran atau kursus. Murid-murid harus berturut-turut menempuh pelajaran –pelajaran itu. Susunan didasarkan atas “logika” yang terkandung di dalam mata pelajaran. Susunan logis itu dapat pula kita lihat dalam buku-buku pelajaran. Akan tetapi susunan itu bukanlah satu-satunya susunan yang mungkin. Bahwa pelajaran dapat disusun menurut cara yang bermacam-macam.
Lagi pula logika yang dikatakan terkandung di dalam mata pelajaran, misalnya ilmu pasti atau bahasa, tidak cocok dengan logika menurut ahli-ahli matematika dan bahasa.
Mata pelajaran pada tingkatan pertama ini terpisah satu sama lain tanpa hubungan yang erat. Suatu usaha yang dilakukan untuk menunjukkan urutan pada tingkatan ini ialah mengadakan ulangan pada saat-saat tertentu. Yang diperlukan sebenarnya bukan ulangan akan tetapi transformasi. Dengan mempelajari ilmu pasti, pengetahuan alam, sejarah dan sebagainyaharus terjadi perubahan dalam diri anak, misalnya ia melihat hubungan dengan pandangan yang lebih dalam serta luas. Pengertian-pengertian yang diperbolehkan harus dapat digunakannya dalam menghadapi problem-problem baru.
c.       Tingkat Kedua
Orang yang menyadari bahwa pelajaran yang konvesional pada tingkatan pertama itu lepas-lepas dan fragmentaris. Suatu usaha untuk mrngatasinya ialah menyusun pelajaran berbentuk unit. Usaha serupa itu telah mulai dilakuakan secak Herbert mengajurkan metode productive development. Dasarnya adalah apersiasi.
Seperti yang kita ketahui metode itu dimulai dengan fase persiapan dimana pengalaman-pengalaman yang lampau dibangkitkan sebelum disajiakan pelajaran yang baru.
Tujuan yang utama ialah mengetahui hingga dimana minat anak dengan maksud menyesuaikan pelajaran baru dengan pengetahuan yang ada. Untuk mengetahuinya dapat diberikan tes pendahuluan atau prates.
d.      Tingkat Ketiga
Usaha untuk mengorganisasi pelajaran menurut kesiapan (readiness) hanya tercapai dalam satu dua bidang. Dalam bidang lain itu masih merupakan suatu harapan yang munking tak akan terpenuhi. Dalam pelajaran berhitung harus ditunggu kesiapan anak sebeluum dapat dimulai dengan hitungan formal. Kesiapan itu dipengaruhi oleh kematangan psikologis dan sebagian lagi oleh pengalaman anak maka guru mempunyai dua tugas. Pertama ia harus memberi pengalaman-pengalaman tertentu kepada anak untuk menimbulkan kesiapan itu. Tugas kedua ialah mengetahui apabila anak itu telah siap. Ini dapat diketahui antara lain dengan tes-tes yang ada. Kalau anak dapat membuatnya anak itu telah siap. Akan tetapi kalau anak itu tak dapat membuatnya sekalipun ia bekerja keras atau dipaksa anak itu belum siap.
Dasar dari metode itu ialah bahwa pelajaran baru efektif jika disesuaikan dengan irama perkembangan. Akan tetapi keberatan disini ialah anggapan, bahwa pertumbuhan sebelum dan sesudah saat kesiapan berbeda secara fundamental. Untuk mencapai kesiapan diberi pengalaman-pengalaman yang konkret dan setelah saat itu anak-anak dihadapkan dengan hitungan yang formal.
e.       Tingkat Keempat
Organisasi urutan pada tingkatan ini mengikuti garis pertumbuhan yang kontinu. Misalnya kita ingin mengajarkan sikap ilmiah kepada anak-anak. Tujuan ini bersifat umum dan dapat dipecahkan dalam tujuan-tujuan yang lebih khusus. Akan tetapi tujuan itu tak akan tercapai dalam satu pelajaran tertentu. Setiap pelajaran dapat memberi sumbangannya agar sikap ini lambat laun tumbuh pada anak, sejak ia duduk di sekolah rendah. Disini suatu tujuan dicapai dengan mengikuti garis pertumbuhan yang kontinu.
Seorang guru ingin menumpuk sikap sesuatu terhadap sanjak. Pada suatu kali dibacakan suatu sanjak yang cocok dengan pengalaman anak, misalnya sanjak “Hujan” sewaktu turun hujan. Beberapa hari kemudian seorang anak meminta agar guru membacakan sanjak itu sekali lagi. Semua anak mendengarkanya. Kemudian sewaktu turun hujan beberapa anak mengatakan bagian-bagian dari sanjak itu. Sesudah itu guru membawa buku berisi sanjak, lalu membacakan sanjak “Hujan” itu. Anak-anak dengan gembira menyelidiki buku itu. Esok harinya seorang anak meminta guru membacakan sanjak lagi. Tak lama kemudian seorang anak mengatakan bahwa ia dulu tak suka sanjak tetapi sekarang ia menggemarinya.
Kita lihat pertumbuhan pada anak kea rah penghargaan terhadap sanjak. Guru tidak memberi pengalaman-pengalaman khusus agar anak itu siap untuk menghargai sanjak. Sejak mulanya bibit penghargaan timbul dalam hati anak yang dipupuk oleh guru pada waktu yang tepat. Penghargaan sanjak juga tidak dicoba guru itu mencapainya dalam satu pelajaran tertentu.
Guru mengikuti garis pertumbuhan anak, kea rah tujuan yang hendak dicapainya.

H.    PRINSIP AVALUASI dan ORGANISASI PELAJARAN
PRINSIP EVALUASI
Seorang guru melihat bahwa hitungan anak semua salah. Katanya “Hitunganmu semua slalah. Bodoh kamu ini”
                guru lain juga melihat kesalahan kesalahan dalam pekerjaan anak, lalunia menyelidiki dimana letak kesulitan bagi anak dan demikian membantu anak untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Keddua orang guru itu menilai atau mengevaluasi pekerjaan anak. Evaluasi dalam bentuk yang baik adalah menelaah hasil pelajaran anak untuk mengetahui unsur unsur tertentu. Belajar tak mungkin efektif kalau tidak diketahui hingga manakah tujuan pendididkan tercapai.
Evaluasi berguna untuk mempertinggi hassil pelajaran. Karena itu evaluasi tak dapat dipisahkan dari belajar dan mengajar. Akan tetapi ada evaluasi yang baik, ada pula yang buruk. Guru pertama dalam contoh diatas melakukan evaluasi yang buruk, karena tidak menyelidiki dimana letak kelemahan anak, sehingga anak itu tak dapat mempertinggi hasil pelajarannya.
Efektivitas dan sukses dari tiap pelajaran dipertinggi dengan penilaian yang teliti dari segala aspeknya. Itulah prinsip evaluasi.
IMPLIKASINYA
Ada dua buah implikasi prinsip itu:
1.       Evaluasi adlah bagian yang hakiki dari usaha mengajar. Mengetes, menulis, memberi angka, membuat laporan adalah alat alat evaluasi yang harus digunakan untuk mengakibatkan hasil belajar yang lebih baik.
2.       Murid sendiri harus turut aktif dalam evaluasi . dialah orang yang utama yang menilai pekerjaannya sendiri, sebab dialah yang harus belajar dan mempertinggi belajarnya berdasarkan evaluasi itu.

Tentu saja ia memerlukan bantuan guru atau orang yang beerpengalaman karna ia tidak sanggup menilai diri sendiri. Namun demikian anak itu harus sadar akan kekurangannya,dan dialah yang harus memperbaikinya.

Jadi sebagai kesimpulan: agar efektif, pelajaran harus di organisasi sedemikian rupa sehingga semua yang berkepentingan terutama murid sendiri memperoleh penilaian yang palid serta terperinci dari segala aspek-aspek pelajaran itu.

CIRI-CIRI EVALUASI YANG BAIK
                Ada guru yang pandai mengevaluasi ada pula yang tidak pandai menilai. Bedanya terletak pada apa yang di perhatikan dan di titik beratkan yang di anggap penting. Jadi untuk evaluasi yang baik harus di ketahui unsure-unsur utama dalam situasi belajar.
1.      Evaluasi dan hasil langsung
        Tiap orang belajar untuk mencapai suatu hasil, tu lah yang pada hakikatnya merangsang seorang untuk belajar. Pertanyaan timbul  apakah pengaruhnya terhadap anak jika a mengetahui hasil pelajaranya.
        Masalah ini telah sering diselidiki. Dalam percobaan laboratorium ternyatabahwa hasil belajar meningkat  jika seorang diberi tahukan hasilnya. Dalam percobaan ini orang disuruh melakukan tugas seperti mencoret huruf a pada suatu halaman, mencoret huruf huruf tertentu dalam karangan bahasa spanyol, mengalikan bilangan bilangan. Kepada kelompok yang satu diberitahukan hasil pekerjaannya, kelompok yang satu lagi tidak. Ternyata yang diberitahukan hasilnya itu menunjukkan hasil yang lebih baik.
        Akan tetapi ketika diadakan eksperimen itu dalam kelas, yakni tes mengenai mata kuliyah filsapat, kelompok yang mengetahui hasilnya tidak mendapat hasil yang lebih baik. Lagi pula kalau terlalu sering dites tidak ada lagi pengaruh terhadap hasil belajarnya.
        Situasi dalam laboratorium berbeda dengan  dengan dikelas. Dalam situasi laboratorium tugasnya uniform dan tak penting bagi orang cobaan. Dalam situasi kelas tes itu penting bagi anak. Keterangan tentang hasil pekerjaannya juga tergantung pada sikapnya terhadap guru dan cara guru menyampaikan keterangan itu.

Kesimpulan-kesimpulan yang dapat diambil adalah:
1.       Pelajaran harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga murid sepenuhnya mengetahui hasil pekerjaannya.
Cara yang paling buruk ialah kalau guru merahasiakan hasil pekerjaan murid atau sekedar mengembalikan tanpa memberikan komentar, cara yang paling baik ialah kalau murid- murid mengetahui dan mengenal hasil pekerjaannya.
2.       Pelajaran harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga murid mengetahui hasil-hasil pekerjaan sewaktu pelajaran masih berlangsung.
3.       Hasil-hasil yang dikemukakan harus hasil-hasil yang benar-benar diinginkan oleh anak-anak. Tak ada gunanya member tugas yang banyak pada anak namun tidak ia pahami tujuan dan faedahnya. Jadi hasil-hasil pelajaran harus mengandung makna bagi anak agar member pengaruh yang baik terhadap kegiatan belajar.
2.      EVALUASI dan TRANSFER
Berhasi atau tidaknya belajar tergantung pada terdapat atau tidaknya hasil belajar hasil belajar itu digunakan didalam situasi-situasi tertentu.
Eveluasi yang baik harus menilai hasil-hasil yang autentik dan ini dilakukan dengan mengetes hingga manakah hasil itu dapat ditransferkan.
        Sering ternyata bahwa anak-anak hanya dapat mengatakan kembali atau meresitasi isi buku mata pelajaran tetapi tidak bisa mentransferkan dalam situasi situasi lain. Ada anak yang mampu menyebutkan beberapa anggota cabinet presiden, tetapi tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan cabinet. Dengan pengetahuan yang dangkal seperti itu, tak dapat diharapkan mungkinnya transfer.
        Transfer hanya mungkin dengan adanya pemahaman, dan adanya transfer merupakan suatu bukti yang nyata tentang adanya pemahaman seorang anak. Karena itu setiap hal yang dipelajari harus dipahami dan digunakan dalam berbagai situasi.
        Ilmu ukur dapat digunakan dalam pekerjaan tangan, ilmu pengetahuan alam dapat digunakan dalam gejala-gejala dan kehidupan sehari-hari.sejarah digunakan untuk membandingkan masa yang telah lampau dengan masa sekarangdan sebagainya.apakah gunanya pengetahuan kalau tidak dapat digunakan.
        Ada dua alasan maka evaluasi berdasarkan transfer ini sangat penting.
Pertama: guru mendapat gambaran yang jelas hingga manakah hasil pelajaran autentik.
Kedua: hal ini berkaitan dengan kesadaran anak akan tujuan tujuan dan makna pelajaran. Dengan menggunakan hasil pelajaran dalam memecahkan problem-problem yang rill.
        Dengan demikian kegagalan atu sukses dalam melakukan tugas itu mengandung makna baginya dan merupakan pendorong untuk lebih giat belajar.
        Pemahaman atau pengertian tidak diperoleh melalui pengetahuan  (information) yang banyak akan tetapi sebaliknya pengetahuan diperoleh dan akan tidak segera dilupakan berkat pemahaman. Pengetahuan tanpa pemahaman akan segera lenyap seperti tulisan pada pasir kering. Jadi kita sebaiknya menilai pengetahuan anak da dalam situasi-situasi yang bermakna.

3.      Evaluasi langsung dari proses belajar
Kita dapat menilai dari tiga hal yaitu:
1.       Hasil langsung dari usaha belajar
2.       Transfer sebagai akibat daripada belajar
3.       Proses belajar itu sendiri
Tak dapat disangkal betapa pentingnya untuk meneliti proses belajar yang diikuti oleh murid. Guru akan mengetahui dimana letak kesulitan anak-anak lalui mencari jalan untuk membantunya. Guru menghadapi persoalan: dimana letak kesalahan murid ? bagaimana jalan untuk mengatasinya?
Lagi pula penelitian proses belajar berguna bagi murid sendiri. Anak akan melihat kekurangannya dengan memperbaikinya, dengan demikian akan mempertinggi hasil belajar.
Belajar adalah maslah yang sangat kompleks. Meneliti proses belajar seorang anak bukan suatu hal yang mudah. Ni memerlukan pemikiran dan pengalaman. Kita dapat menggunakan suatu metode untuk menilai proses belajar itu dengan menggunakan prinsip: konteks, focus, sosialisasi, individualisasi, dan urutan(sequence).
Seorang anak tidak baik dalam belajar karena tidak mengguanakan konteks yang baik. Ia tidak menggunakan macam-macam sumber, tidak menggunakan situasi-situasi yang konkrit.
Anak tidak belajar dengan baik karena tidak memilik focus tertentu, misalnya tidak melihat problem-problem pokok yang harus dipecahkannya.
Anak tidak belajar dengan baik karena tidak sesuai dengan minat dan bakatnya(individualisasi) atau tidak mendiskusikannya dengan orang lain( sosialisasi)
Semua prinsip-prinsip tu adlah aspek-aspek dari pelajaran yang bermakna meaningful learning. Inilah inti dari proses belajar yang baik.
Jadi dalam menilai pelajaran, guru jangan menilai hasilnya, melainkan juga transfer hasil pelajaran dan proses belajar yang dijalani oleh anak.


I.       PRINSIP EVALUASI dan PENILAIAN CARA BELAJAR
SKALA PRINSIP EVALUASI
1.       Evaluasi hanya mengenai hasil terutama hasil yang berlangsung.
2.       Evaluasi terutama mengenai hasil dengan perhatian sedikit terhadap proses belajar.
3.       Evaluasi terhadap seluruh proses belajar termasuk hasilnya.
Evaluasi adalah penilaian belajar dengan tujuan untuk memperbaikinya. Penilaian itu harus dilakukan oleh semua yang bersangkutan, yaitu bukan hanya guru tetapi terutama juga anak-anak sendiri penilaian juga harus ditinjau sebagai keseluruhan.
       Tingkat pertama
                Penilaian pada tingkat pertama ini ialah memberikan angka atas hasil pekerjaan anak. Sistim penilaian ini sangat sederhana, akan tetapi banyak guru yang tidak mengetahui kelemahannya. Banyan pula guru yang tidak memahami hakikat penilaian serupa ini oleh karena itu banyak melakukan kesalahan kesalahan besar. Mereka yang tidak merasa puas dengan cara penilaian ini hendaknya mengetahui langkah-langkah untuk memperbaikinya.
                Sistim penilaian ini didasarkan atas tiga hal yakni:
1.       Semua murid dikenakan tes dan criteria penilaian yang sama. Hasil penilaian menunjukkan kedudukan relative dari seorang murid dalam kelompok.
2.       Kedudukan relatif itu diwujudkan dalam symbol berupa angka atau huruf. Dalam pada itu ada kalanya digunakan semacam rumus seperti nilai A 5% B 20% C 50% D 20% dan E 5%, adakalanya tidak digunakan rumus dan terserah pada guru belaka.
3.       Lambing-lambang atau simbol-simbol itu dicatat dan digunakan untuk tujuan administratif dan edukatif misalnya untuk menentukan naik kelas kemungkinan melanjutkan pelajaran atau tidak.
4.       Penilaian, hasil evaluasi serupa, ini sangat mementingkan hasil tes, ulangan, dan sebagainya.
Berhubungan dengan sistim penilaian akan dikemukakan tiga hal yaitu:
1.       System ini hanya menilai hasil pekerjaan atau prestasi anak.
2.       Suatu angka senantiasa menunjukkan relatif seorang anak dibandingka anak-anak lain.
3.       Aspek lain dari sistem evaluasi yang konvensional ialah bahwa cara itu dalam praktik untuk mendorong anak untuk menghafal.
Teristimewa ini berlaku bagi apa yang disebut tes obyektif dimana anak-anak harus mengisi atau mencoret dan member tanda. Tes ini memang banyak  keuntungannya, seperti dapat mengetes jumlah bahan yang luas dalam waktu yang singkat mudah diperiksa dan sebagainya
Akan tetapi jika dipakai syarat bahwa penilaian harus selalu mempertinggi efektivitas belajar, maka tes obyektif terbuka untuk kemacam-macaman karena tes ini mendorong untuk menghafal fakta-fakta yang lepas.
                Jadi syarat untuk evaluasi ialah menyadarkan murid akan kebaikan dan kelemahannya.
1.       Langkah-langkah kearah perbaikan. Ada dua jenis perbaikan yang dapat dijalankan : pertama, memperbaiki efiensi tekhniknya tanpa mengubah sifatnya. Kedua, memperbaiki sifatnya.
2.       Banyak guru yang menentukan angka menurut kurva normal distribusi, misalnya 5% mendapat A, 20% B, 50% C, 20% D dan 5% E atau 3% A 17% , 60% C, 17% D. dan 3% E, secara teoritis ini tak dapat dipertahankan.
Namun demikian dalam penilaian harus ada pegangan agar ada makna angka-angka itu. Dalam hal ini tiap sekolah bebas menentukan norma-normanya. Kecuali dalam ujian dimana lebih dahulu ditentukan norma yang umum.
3.       Sebaiknya untuk angka terakhir harus dihitung berdasarkan seluruh tes program dari pelajaran itu.hendaknya semua skor mentah dari semua tes dikumpulkan dan kemudian baru diubah menjadi suatu angka.
Nilai setiap pekerjaan dan kemudian mengambil hasil rata-rata bukan suatu cara yang sehat.
4.       Ada perbedaan mengenai pengumuman angka-angka ada yang segera mengumumkan angka tiapa pekerjaan, ada pula yang mengumumkannya pada akhir tri wulan atau smester.
Itulah beberapa saran yang dapat dipertimbangkan dalam mengevaluasi. Harus kita ingat bahwa cara itu hanya menilai hasil pelajaran.
                Kalau kita ingin lagi mengadakan penilaian sehingga mempunyai pengaruh yang konstruktif terhadap belajar harus kita tempuh cara yang lebih sulit.
1.       Hendaknya dilakukan penilaian yang lebih sederhana.
2.       Hendaknya dihapuskan pemberian angka dibawah SLA, jika tidak diperlukan untuk pindah sekolah.
3.       Harus dicegah pemberian angka atas segala jawaban dan pekerjaan anak.
4.       Laporan berkala kepada murid hendaknya berisi hasil langsung dari pekerjaannya, apa yang kurang baik dalam pekerjaannya agar dapat diperbaikinya.
5.       Hendaknya diturut sertakan anak-anak dalam mengevaluasi dirinya.


Tingkatan kedua
                Perbaikan evaluasi dicapai dengan mengadakan hubungan yang lebih erat dengan tujuan-tujuan pendidikan seperti berfikir analitis, mengambil kesimpulan menggunakan prinsip-prinsip, dan sebagainya. Jadi tidak semata-mata hafalan dan ingatan.
1.       Perubahan yang penting ialah perbaikan konstruk tes. Tes-tes obyektif yang dibuat oleh guru sering diragukan kebaikannya, seperti(true-false) yang dapat diperdebatkan benar tidaknya, atau pertanyaan yang menimbulkan berbagai tafsiran.
2.       Dalam evaluasi itu dipentingkan juga hingga mana murid-murid sanggup mentransferkan apa yang dipelajarinya dalam situasi-situasi baru misalnya. Semua dan satu tanaman menghadap kesuatu arah. Dalam keadaan cahaya yang bagaimana timbulnya tanaman itu.
3.       Evaluasi serupa ini, walaupun terutama menilai hasil, juga hingga batas tertentu menilai proses belajar. Banyak diantara tes ini dengan sengaja menanyakan bagaimana seorang mencapai suatu keputusan, apa alasannya member jawaban tertentu.
4.       Evaluasi ini menilai bagaimana macam tujuan pendidikan seperti kesanggupan berfikir, kepekaan social penghargaan keindahan minat dan faktor-faktor berhubungan dengan penyesuaian pribadi dan sosial. Jadi evaluasi ini tidak sempit dan menilai hanya hasil ingatan saja.
Cara evaluasi seperti diatas mempunyai keberatan. Ada yang mengatakan bahwa cara penilaian itu memerlukan banyak waktu dan pemikiran dari pihak guru. Keberatan ini tidak prinsipal karena mengajar bukan suatu pekerjaan yang rutin dan gampang, melainkan selalu meminta jerih payah. Keberatan yang prinsipal ialah bahwa anak-anak tidak turut menentukan tujuan apa yang harus dicapainya dan bagaimana pekerjaannya harus dinilai. Segala sesuatu ditentukan oleh orang lain baginya.
Tingkat ketiga
                Evaluasi menurut syarat-syarat psikologis bertujuan agar kita mengenal anak-anak selengkap mengkin dan agar murid mengenal dirinya sesempurna-sempurnanya pula. Jadi kita harus memahami murid sebagai manusia yang belajar.
                Evaluasi pada tingkatan ini harus dilengkapi dengan suatu record sistim atau pencatatan sebagai keterangan mengenai tiap murid. Ada daftar-daftar yang telah siap dicetak yang sangat banyak isian mengenai pribadi anak.
                Akan tetapi daftar-daftar diri serupa ini kadang-kadang menjadi buku atau banyak keterangan ysng tak dapat diisi oleh guru.
1.      Suatu rencana kerja
Disini kami anjurkan agar guru menyediakan suatu map untuk tiap murid, didalam map itulah dikumpulkan segala macam keterangan mengenai anak itu. Keterangan-keterangan yang diperlukan ialah:
1.       Semua angka-angka dan keterangan-keterangan tentang kemajuan anak selama bersekolah. 
2.       Autobiografi atau riwayat hidup anak yang ditulis oleh anak sendiri. Guru dapat memberikan garis-garis besarnya, akan tetapi disamping itu anak dapat menulis apa saja yang dianggapnya perlu, tentang dirinya, keluarga, rumah tangga, cita-cita dan sebagainya.
3.       Keterangan tentang kesanggupannya, belajar berdasarkan tes inteligensi. Hasil tes itu dapat dilengkapi dengan kontak dan pengamatan pribadi oleh guru. Kesanggupan belajar ini penting untuk mengetahui (a) hubungan antara kerajinan dan hasil yang dicapai. Kalau ia rajin belajar dan hasilnya kurang, maka anak itu termasuk anak yang kurang bakatnya. Namun jika hasilnaya baik, maka anak itu anak yang berbakat. (b) perbedaan kata anak sebagai indikasi tentang kesanggupan anak dalam bidang pelajaran.
4.       Contoh-contoh pekerjaan murid. Bantuan anak dapat diminta agar berhalangan ini selalu up-to-date
5.       Laporan, tentang wawancara dan pembicaraan dengan orang tua dan murid.
6.       Catatan tentang kelakuan perbuatan dan reaksi anak dalam situasi-situasi yang wajar yang biasa disebut”anecdotal records”. Disini dapat diperhatikan rasa tanggung jawab, inisiatif, oriegenalitas, kegotong royongan, kepemimpinan dan sebagainya.
7.       Laporan tentang kesehatan anak
8.       Keterangan tentang hasil pekerjaan dalam kelompok
9.       Rangkuman dan penilaian seluruh bahan yang masuk pada waktu-waktu tertentu guru harus menelaah segala keterangan yang diperolehnya untuk mendapat gambaran tentang anak dan memberi saran-saran kearah perbaikan.
2.         Pertanyaan-pertanyaan yang harus dapat dijawab oleh kumpulan catatan itu
Yang terpenting bukanlah bentuk catatan-catatan itu dikumpulkan, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang dijawabnya untuk memberi gambaran pribadi anak itu antara lain:
1.       Hingga manakah tujuan, cita-cita anak itu sendiri dibangkitkan dan diwujudkan? Apakah anak itu benar-benar mempelajari apa yang diinginkannya? Belajar hanya efektif kalau sesuai dengan tujuan anak. Evaluasi harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan yang hendaknya sesuai dengan tujuan anak.
2.       Apakah anak itu menunjukkan pertumbuhan mental dan pertumbuhan pribadi? Apakah ia dapat melakukan kegiatan atas pilihannya sendiri? Apakah ia lebih menimati kesenian? Apakah ia dapat memikul tanggung jawab didalam kelompok danm sebagainya.
3.       Apakah ia lebih sanggup untuk menilai dirinya sendiri ? apakah ia menganalisis kegagalannya untuk lebih pandai menyesuaikan dirinya? Dan sebagainya.
4.       Apakah dari catatan itu dapat dipreroleh gambaran yang agak lengkap dari anak itu sebagai manusia dan sebagai pelajar ? segala aspek kepribadian anak dapat mempengaruhi pelajaran anak.
Karena itu harus diperoleh yang selengkap mungkin tentang segala aspek-aspek pribadi anak itu.
3.  implikasi bagi pola mengajar
                Evaluasi seperti disebut diatas, dimana diperhatikan segala aspek-aspek yang mempengaruhi ia belajar menggunakan situasi-situasi dimana anak itu dapat memanifestasikan dirinya, yaitu dalam suasana bebas. Tak dapat diharapkan inisiatif dari murid jika situasi mengajar mengharuskan uniformitas dan kepatuhan.
                Evaluasi tak lepas dari organisasi pelajaran, bahkan evaluasi merupakan suatu prinsip mengajar. tanpa evaluasi tak dicapi sukses dalam pelajaran.
                Evaluasi yang baik menginginkan evaluasi oleh murid. Untuk itu diperlukan organisasi pelajaran yaitu:
-          memberi kebebasan pada murid untuk mengeluarkan pendapat dan dengan demikian dapat mempertinggi hasil belajar.
-          Menghargai tulisan dan ekspresi lainnya yang bercorak kreatif
-          Dalam melakukan tugas meminta saran-saran dari murid
-          Memberi kesempatan pada murid  untuk menilai segala macam pekerjaan
-          Memberi kesempatan pada murid untuk melihat keterangan tenteng dirinya yang berguna baginya
-          Usaha bersama antara guru dan murid untuk mempelajari proses dan hasil belajar
-          Menurutsertakan murid dalam menggunakan dan menafsirkan hasil-hasil tes
-          Bersama-sama dengan murid membandingkan analisis pekerjaan murid

J.        SINTESIS DAN APLIKASI PRINSIP-PRINSIP MENGAJAR
HUBUNGAN ANTARA PRINSIP-PRINSIP
                Berhasil atau tidaknya mengajar bergantung pada prinsip-prinsip konteks, focus, sosialisasi,individualisasi,urutan dan evaluasi.
                 Hingga kinai prinsip-prinsip itu dibicarakan secara terpisah-pisah. Akan tetapi dalam praktik semua prinsip-prinsip itu berpaduan erat dan pada hakikatnya semua prinsip-prinsip adalah aspek-aspek dari asas pertama yakni: pelajaran herus mengandung makna, harus berarti. Itu sebab tak satupun diantara prinsip-prinsip itu boleh diabaikan jika kita ingin mengajar dengan sukses.
                Dan bila kita hendak menilai efektipitas mengajar, semua prinsip itu harus digunakan sebagai kkriteria.
ANALISIS SARAN, METODE-METODE DAN ANALISIS-ANALISIS MENGAJAR
            Calon-calon guru mendapat pelajaran, biasanya secara verbal, tentang metode-metode mengajar sepetri metode membaca, metode proyek, metode bahasa asing, dan sebagainya, kita harus mempunyai dasar-dasar tertentu. Kalau tidak maka paling-paling kita dapat mengatakan bahwa suatu metode kita sukai atau tak kita sukai, modern, atau kolat dan sebagainya.
                Akan tetapi yang harus menjadi pokok penelitian ialah apakah suatu metode memberikan hasil-hasil autentik atau tidak. Hal dapat diselidiki dengan berpegang kepada enam prinsip m,engajar itu. Missal kita dappat menilai metode mengajar menurut Herbert yaitu the enductive-development lesson. Langkah-langkahnya adalah:
1.       Preparation
2.       Statement of aim
3.       Presentation
4.       Comparison and abstraction
5.       Generalization
6.       Application
Dalam langkah pertama yaitu persiapan diusahakan memberi suatu konteks atau latar belakang kepada bahan yang akan di ajarkan. Pada langkah kedua, dalam perumusan  yang sering diberi dalam bentuk pertanyaan, diusahan memberikan suatu focus atau pokok yang harus diberi perhaatian kepada pelajaran itu. Pada langkah ketiga merangsang murid-murid memecahkan masalah dengan penyelidikan dan penemuan. Langkah keempat dan kelima pada umumnya bersipat verbal.
Kita perhatikan  bahwa efektivitas  suatu metode tidak bergantung pada langkah-langkah yang tertentumenurt metode itu melainkan pada ada atau tidaknyamata pelajaran bagi mrid-murid.
Dan itu semua membuka jalan untuk rangkaian dan  evaluasi yang baik pula. Penggunaan prinsip-prinsip itu seluruhnya pada taraf tinggi  menjamin sukses dalam pengajaran.
Sukses tercapai sebab pengajaran itu mengandung makna, bukan karna mengikuti rangka bagian  tertentu secara otomatis.



OBSERVASI ORANG MENGAJAR
Ada dua tujuan utama observassi kelas. Bagi guru atau calon guru suatu kesempatan untuk memperbaiki cara mengajar atau mengetahuibagaimana mengajar yang baik. Bagi guru pamong, guru kepala atau insprktur untuk mulai pekerjaan guru dan member saran-saran perbaikan.
Pengamatan itu harus dilakukan secara inteligen dengan diskriminasi, yakni dapat membedakan yang penting dan tak penting. Observasi yang baik mempunyai keempat cirri yaitu:
1.       Pengamat harus dapat membedakan yang esensial dan tak asensial.
2.       Si pengamat harus sanggup melihat “the general universal  in the particular dan accidental atau dalam perbuatan yang konkret harus ia dapat melihat prinsip-prinsip yang universal.
3.       Mengamati cara belajar yang buruk sama faedahnya dengan mengamati cara mengajar yang baik.
kalau cara mengajar itu buruk ,ia dapat bertantanya dimana letak kelemahanya dan bagaimana memperbaikinya. Akan tetapi janganlah ia dipengaruhi oleh prasangka-prasangka , karna ini menghalangi observasi dan evaluasi yang obyektif.         
4.       Si pengamat harus mempunyai orientasi yang baik. Pertama ia harus tahu apa yang harus di perhatikanya. Kedua bagaimana ia harus memperhatikanya.
Pengamatan sering salah karna ditujukan kepada sebagian dari gambaran keseluruhan. Yang sering diamati adalah kegiatan guru. Yang dilupakan ialah kegiatan, reaksi murid, padahal inilah yang penting karna anak lah yang harus belajar.
Karna itu si pengamat harus memberi perhatian khusus kepada apa yang dilakukan oleh murid. Pengamatan juga sering salah karna kurang reflektif, kurang dii olah dan dipikirkan lebih lanjut.
Kesulitan dalam mengamatiini ialah melepas diri dari pribadi guru sehingga melupakan prinsip-prinsip itu.
Memang setiap guru mempunyai pribadi sendiri, dan ia harus menggunakan prinsip-prinsip sesuai dengan kepribadianya.

 MEMPERSIAPKAN PELAJARAN
 Persiapan pelajaran adalah suatu hal yang sangat penting yang harus di kerjakan oleh setiap guru atau calon guru. Dalam persiapan itu guru harus memperhatikan  keenam prinsip pengajaran itu.
1.     Apa yang dimaksud dengan persiapan dan perencanaan

Persiapan adalah pemkiran , artinya menggunakan prinsip-prinsip umum situasi-situasi khusus. Makin baik dipikirkan, makin baik persiapan pelajaran itu.
        Banyak persiapan yang dianjurkan dan dijalankan terlampau terbatas dan sempit hanya suatu bagian yang diikutisecara teratur, misalnya baggaimana memulai pelajaran , apa yang harus  ditanyakan dan sebagainya.
        Perencanaan mempunyai dua faedah  yaitu:
1.       Karna perencanaan atau persiapan  seorang member  pelajaran yang baik, karna ia dapat menghadaapi  situasi dalam kelas secara fleksibel, tetapi tegas tanpa menjadi baku. Pelajaran  tak selalu jaln seperti yang diharapkan, karna itu guru harus siap menempuh titik baru.
2.       Karna membuat persiapan yang baik seseorang menjadi guru yang baik pula.
Seseorang  menjadi guru yang baik berkat pertumbuhan , berkat belajar. Ia harus mengenal dan mempelajari prinsip-prinsip belajar.
Ia harus dapat melihat “the general in the particular and the particular in the general” yaitu melihat dan prinsip menggunakan hal-hal umum dalam situasi khusus, dan melihat hal-hal khusus dalam situasi-situasi yang umum. Dengan mengadakn persiapan yang baik guru itu tumbuh menjadi seorang ahli dalam bidangnya.
2.       urutan persiapan
semua perencanaan yang baik adalah suatu pertumbuhan. Pada mulanya timbul suatu ide yang umum sebagai pegangan yang masih samar-samar.
Tiap perencanaan harus terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan sehingga dapat di tempuh jalan-jalan baru. Rencana itu harus fleksibel dan tetap membuka kemungkinan untuk diubah bila situasi memerlukanya.
Setelah pelajaran diberikan guru harus meninjau pekerjaanya kembali untuk mengetahui kebaikan dank elemahanya yang dapat mempertinggi kesanggupanya dalam melakukan tugasnya.
Ada kesalahan yang harus diabaikan dalam perencanaan yaitu:
1.       Aggapan bahwa kita dapat mengajar berdasrkan improvisai, persiapan yang baik itu memerlukan waktu.
2.       Anggapan bahwa persiapan dapat dilakukan tergesah-gesah yaitu sesaat sebelum pelajaran di berikan.
3.       Anggapan bahwa persiapan yang terperinci dapat dibuat untuk pelajaran selama satu triwulan misalnya, sehingga kerja guru hanya melaksanakan pelajaran yang telah disiapkan lebih dulu.



3.         orientasi perencanaan
Apakah yang harus menjadi pedoman dalam persiapan? Apakah ia harus memperhatikan waktunya mengisi jam pelajaran, ataukah mementingkan apa yang harus diberikan , ataukah anak-anak yang harus belajar.
Itu semuanya merupakan aspek-aspek dari suatu pokok utama yang mengorganisasi  pelajaran sehingga pelajaran itu mengandung  makna bagi hasil-hasil autentik. Bagaimana mencapai hasil belajar yang autentik, itu lah yang harus menjadi pedoman dalam membuat pesiapan.
4.         Skop atau luas persiapan
Pesiapan bertujuan menentukan organisasi pelajaran yang efektif maka dengan sendirinya   harus dipertimbangkan keenam perinsip belajar yang akan kita bagi dalam dua golongan yakni berkenaan dengan aspek-aspek belajar: sqeunc,  konteks,focus,dan evaluasi sebagai pelajar sosialisasi dan individualisasi.
1. rangkaian. Disini guru harus mempertimbangkan bagaimanakah pelajaran itu dapat menyumbangkan kepada pertumbuhan dan pengembangan anak. Kebanyakan guru member pelajaran agar bahasanya dikuasai oleh anak, tanpa melihatnya dalam hubungan pertumbuhan anak. Guru harus melihat  pertumbuhan anak dalam jangka panjang.
2.konteks. pelajaran tidak akan berhasil  tanpa konteks hubungan atau latar belakang yang kaya serta luas. Karna itu diperlukan  long term planning setiap ada kesempatan bagi guru mengumpulkan bahan-bahan dari majalah, buku, gambar-gambar dan sebagainya. Juga berdasarkan pengalamanya ia dapat member konteks yang luas kepada pelajaran.
3. focus. Prinsip bertalian erat dengan konteks. Focus ini mendorong anak memusatkan  perhatian dan pemikiran kepada masalah atau problem tertentu, sehingga pelajaran itu tidak terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yangb lepas-lepas. Focus yang baik merupakan pertanyaan yang ingin di jawab oleh anak-anak.
4. evaluasi. Evaluasi bukanlah sesuatu yang  dilakukan pada akhir pelajaran melainkan meruoakan suatu unsure dalam proses belajar. Evaluasi tidak hanya terdiri atas tes.
Evaluasi yang baik menyadarkan anak  akan baik atau tidaknya dalm pekerjaan , apa sebab demikian dan bagai mana memperbaiki kekuranganya.
Dengan evaluasi yang baik diciptakan situasi dimana anak-anak dapat mengevaluasi. Hal ini mudah di lakukan dalam pelajaran atletik, pekerjaan tangan , dimana anak-anak segera melihat hasil pekerjaan dan tak ada alasan mengapa ini tidak mungkin dalam pelajaran lain, asal saja pelajaran itu bermakna.
Prinsip-prinsip yang mengenai aspek anak sebagai pelajaran adalah sosialisasi dan individualisasi.
Perencanaan yang pada mulanya samar-samar mendapatb bentuk yang jelas jika guru mengenal murid-muridnya dan jika murid-murid turut mengeluarkan pendapatnya. Guru dapat memperoleh keterangan tentang anak itu dari daftar diri atau catatan, akan tetapi dalam interaksi  antara guru dan murid.
Murid bukan hanya sebagai individu, melainkan juga seorang anggota kelompok. Itu sebabnya guru harus dapat bergaul dengan anak-anak sehingga mereka merasa tak takut untuk mengeluarkan pendapatnya.
BERPIKIR DAN MOTIVASI
Akhirnya akan dibicarakan dua hal yang sering menjadi perhatian guru, yaitu soal berpikir dan motivasi.
1. bagai manakah merangsang anak untuk berfikir?
2. bagai mana member motivasi supaya anak belajar?
Agar anak berfikir pelajaran itu harus mengandung problem yang bermakna bagi anak. Motivasi bukanlah hal yang tersendiri melainkan suatu yang berkaitan dengan organisasi pelajaran. Motivasi tidak di proleh melaui hukuman dan pujian, tetapi  dengan pengajaran yang baik.
Jika anak merasa bosan didalam kelas maka ada kelemahan dalam organisasi pelajaran, yakni tidak terwujudnya prinsip-prinsip mengajar seperti telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya  sehingga pelajaran itu mengandung makna dan member hasil-hasil autentik.


[1] J.Mursell dan Prof. Dr.S.Nasution,M.A, Mengajar dengan sukses, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), Cet. Ke-6 hlm.82

1 komentar: